Pendakian Gunung Sumbing

M asih tergambar jelas di ingatan ketika di tahun 2009 saya bersama rekan-rekan Sispala, untuk pertama kalinya merencanakan satu perjalanan ke salah satu gunung di Jawa Tengah. Gunung Sumbing namanya. Kebetulan saya adalah ketua sispala di SMA tapi anehnya saya belum pernah naik gunung. Pernah dua kali naik gunung, yang pertama waktu pendidikan sispala dan yang kedua waktu ke gunung Gede tapi keduanya tidak masuk hitungan saya, karena yang dua itu cuma ikut-ikutan atau kata lainya terima beres.

Untuk pendakian kali ini sangat berkesan karena saya dan rekan-rekan seangkatan betul-betul merencanakan dari mulai pra kegiatan, kegiatan, sampai pasca kegiatan. Kira-kira seperti itulah harusnya bertualang. Karena itu saya sebut ini sebagai pendakian pertama saya yang betul-betul kelihatan ngaadventurenya.

Memulai Perjalanan

22 September 2009. Kami berangkat ber-sembilan, saya, Adam (ketua perjalanan), Adun (@adehamidarip), Verry (@verylyuz), Gery (@gerynurul), Hanna (@hannamuthiasari), adik kelas; Mega, Fauziyah (@fauziyaaah_), dan Regita. Dari sekolah tercinta (SMAN 1 Tambun) kami bergerak menuju stasiun Jatinegara, entah kenapa harus ke Jatinegara tapi seingat saya waktu itu naik kereta dari sana pasti gak sarat penumpang ketimbang dari Bekasi. Keberangkatan kereta pukul 14.00 sehingga dua jam penuh kami terpaksa ngegembel di lantai peron. Untungnya kereta datang tepat waktu. Kami segera masuk kereta yang ternyata sudah penuh sesak dengan penumpang (jaaah.. sama aja). Kami lupa kalau minggu itu masih minggu lebaran alhasil cari tempat sedapatnya saja.

Berdiri, jongkok, berdiri lagi, tidak capek sih, hanya bosan bukan main. Teman-teman juga sudah kelihatan lusuh malam itu, terutama yang perempuan. Lewat pukul 12.00 malam, kereta tiba juga di stasiun Semarang Poncol. Kami langsung mencari mobil yang bisa dicarter kerena tidak ada angkot malam itu. Kami dioper ke sebuah jalan besar (lupa nama jalannya) kata sopir mobil yang kami carter, disitu suka ngetime mobil tiga perempat yang menuju Wonosobo.

Gunung Sumbing (3371 mdpl) memang terletak di Kabupaten Wonosobo, dusun Garung tepatnya. Ia berhadapan langsung dengan gunung Sindoro (3150 mdpl) hanya dipisahkan oleh jalan raya. karena itu kedua gunung ini amat mudah dijangkau seperti halnya gunung Gede dan Pangrango di Jawa Barat. Untuk mencapai puncak Sumbing jalur pendakian yang biasa dipilih ada dua rute: (1) Base Camp Garung yang berada di Desa Garung, Kecamatan Kalikajar,Kabupaten Wonosobo dan (2) Base Camp Cepit, yang berada di Desa Pager Gunung, Kecamatan Bulu, Kabupaten Temanggung. Kami berencana lewat desa Garung.

Tidak terasa satu jam sudah perjalanan dari Semarang dengan mobil tiga perempat ini. Saya terbangun dari tidur ayam karena hawa dingin yang menusuk.

“Sudah sampai mana ini mas?” tanya teman saya, Adun, kepada penumpang di sebelahnya.

“Ini sudah di Ambarawa mas” jawab penumpang itu.

Pantas saja hawanya mulai dingin dan jalannya mulai berkelok rupanya kita sudah hampir sampai di Garung. Tidak lama mobil yang kami tumpangi berhenti, wajah si kenek mengisyaratkan kami bahwa sudah tiba di Garung dan saatnya untuk turun. Abang kenek itu memang sudah tahu tujuan kami sebelumnya dari tas besar yang kami bawa. Di depan gapura desa Garung, sebuah plang besar dengan gambar jalur gunung Sumbing menyambut kami. Dari sini harus sedikit jalan mencari pos perizinan. Sambil berjalan saya melihat Adam mengeluarkan hape LG dari kantongnya.

“Udah jam 3 pagi cuy,” celotehnya.

Akhirnya kami dapati juga Base Camp pendakian, terlihat jelas dari stiker-stiker yang bertebaran di kaca jendela, di manapun pencinta alam selalu seperti itu. Pagi itu semua orang masih tidur jadi kami masih harus menunggu sampai matahari terbit. Sambil menunggu kami sempatkan sholat subuh di salah satu mesjid yang cukup besar di desa ini.

23 September 2009. Pagi tiba. Saatnya kami melakukan perijinan kepada yang empunya wilayah, di Base Camp yang lebih mirip rumah itu kami membayar biaya retribusi sebesar Rp. 3000 per-orang. Kami dapat semacam tiket masuk dan dua kopi peta sumbing. Sebelum berangkat seorang ibu menawari sarapan pagi, ternyata di Base Camp itu juga menjual makanan juga ada pernak pernik seperti gantungan kunci, emblem, kaos, dengan desain gunung Sumbing pastinya. Selesai sarapan kami bersiap melakukan pendakian, bagian dari sebuah perjalanan yang kami tunggu-tunggu dari kemarin. Tidak lupa membawa bekal air yang banyak di jerigen karena diatas tidak ada lagi sumber air. Semangat meluap-luap seperti perut ini yang rasanya penuh sesak dengan sarapan nasi goreng pagi ini. Ucapan aamiin ya rabbal’alamin mengakhiri doa sekaligus menandai awal pendakian kami di gunung Sumbing.

sumbing

Gunung Yang Berdebu

Pukul 7.00 pagi pendakian dimulai. Di sepanjang jalan bebatuan di dusun Garung, rumah-rumah penduduk berjajar rapih menghadap jalan sebelum akhirnya kami menemui jalan menanjak menuju kawasan ladang warga. Dari sini treknya mulai berpasir, kalau angin berhembus sedikit saja debunya bisa sampai ke wajah. Sebaiknya sediakan penutup wajah dan rambut kalau tidak mau wajah kita di make-over oleh alam. Sejenak saya teringat pelajaran geografi di SMP, wilayah di Jawa Tengah termasuk kawasan hutan musim, pohonnya jarang-jarang, hujan pun jarang turun. Jauh berbeda dengan hutan tropis di Jawa Barat yang pohonya lebat dan rapat serta curah hujannya tinggi. Sekarang saya baru benar-benar melihatnya memang seperti itulah keadaan gunung Sumbing tidak jauh berbeda seperti yang tertulis di buku.

Tim Pendakian
Tim Pendakian sesaat sebelum nanjak.

Trek masih terbilang agak landai, di sebelah kiri dan kanan ditanami tanaman ladang warga, kelihatannya baru ditanam saat itu tapi debu yang tebal menutupi hijaunya tanaman-tanaman itu. Setelah melewati terowongan kecil, kami mulai memasuki hutan pinus, di peta tertulis Hutan Genus. Treknya mulai menyempit dan terus menanjak. Kami berencana untuk bermalam di Pestan (Peken Setan/Pasar Setan) karena dari informasi yang kami dapat di sanalah tempatnya yang luas untuk mendirikan camp. Konon dinamakan Peken Setan karena tempat ini diyakini sebagai tempat bertemunya makhluk-makhluk ghaib bertransaksi layaknya di pasar. Ada lagi yang menyebutkan di pestan pendaki akan mencium bau semerbak bunga, bila bau bunga ini mengikuti dia, maka ada sosok makhluk halus yang membuntutinya. Tak taulah namanya juga cerita.

Pendakian semakin terasa menyiksa lantaran jalur yang kami tempuh terus menanjak dan berdebu. Syal yang digunakan untuk menyaring udara justru malah membuat kami susah bernafas. Adam yang dari tadi mengamati peta sambil memimpin jalan tampak bosan juga lalu pindah ke belakang bersama saya mencari teman ngobrol. Verry yang dari awal sudah bersemangat menggantikan posisinya. Agak cepat memang ia berjalan. Sampai di jalan menanjak yang nampak tak ada ujungnya ini Verry berteriak, rupanya ia menemui dataran landai yang lumayan luas. Di sana ada pendaki lain yang sedang beristirahat. Mereka bilang Pestan sedikit lagi, maka kami pun terus berjalan, hanya semak-semak setinggi 2 meter di sekitar kami jalannya masih menanjak tapi tidak terlalu menyiksa sepeti di Genus.

Seratus meter di depan kami nampak beberapa pendaki sedang mendirikan tenda, rupanya kami telah sampai di Pestan (2.437 mdpl), sekitar pukul 05.00 sore saat itu. tdak ada pohon disana hanya semak dan pasir yang tebal. Pestan ini tempat bertemunya dua jalur, jalur lama (yang kami lalui) dan jalur baru yang dekat dengan sungai. Pendaki juga harus berhati-hati karena di Pestan sering terjadi badai yang cukup membahayakan. Segera Mega dan saya mendirikan tenda karena hari sudah mulai gelap. Angin kencang dengan ramah tanpa di minta menggebuk-gebuk tenda kamis semalaman. Tapi toh kami lelap juga tertidur sampai bangun kesiangan.

Dinding terjal - dari sini kita harus turun kekiri untuk sampai ke Watu Kotak.
Dinding terjal – dari sini kita harus turun ke kiri untuk sampai ke Watu Kotak.

Keesokan hari Pukul 09.00 pagi, selesai sarapan dan packing kami siap melanjutkan perjalanan. Tapi sayang rasanya kalau tidak menyempatkan diri untuk berfoto-foto. Dari Pestan, Gunung Sindoro (3.150 mdpl) dapat dilihat dengan jelas bahkan pemukiman warga dan mobil yang sedang berjalan pun dapat kita lihat. Puas mengambil gambar, kami menuju Watu Kotak, sulit menggambarkan trek menuju Watu Kotak. Kawan bayangkan saja seperti puing bangunan yang roboh maka batu puing berserakan di sana, kacau sekali sudah bentuknya. Batu-batu tersebut nampak labil kalau di pijak jadi hati-hatilah. Untuk ke Watu Kotak kita harus mengambil jalan sedikit ke kiri lalu mengitari sisi-sisi batuan terjal dan sampailah kita di Watu Kotak (2.763 mdpl). Jangan mengambil jalan lurus dengan memanjat dinding terjal karena itu buntu.

Disebut Watu Kotak karena di sana terdapat sebuah batu besar berbentuk kotak yang mempunyai ceruk, dapat digunakan untuk berlindung dari tiupan angin. Ada tempat untuk mendirikan tenda juga namun tidak terlalu luas. Ditempat ini juga pendaki dilarang buang air kecil sembarangan karena kabar angin mengatakan tempat ini termasuk yang dikeramatkan.

Antara Kebersamaan dan Ego yang Memuncak

Melewati Watu Kotak, kami lalu sampai di Tanah Putih. Namun Gery mengatakan kepada kami bahwa dia tidak sanggup melanjutkan pendakian. Kami mendirikan tenda di tanah yang sempit untuk Gery beristirahat karena kelihatannya dia sudah begitu lelah. Setelah meninggalkan peralatan di tenda kami menuju puncak, tidak tega rasanya meninggalkan Gery sendirian. Tapi ego masing-masing lebih kuat ternyata, tak terpikir di benak kami bahaya apa yang akan menimpa Gery tanpa seorangpun di sampingnya saat itu. Yah mungkin ini akan menjadi pelajaran di pendakian berikutnya untuk bisa bersikap lebih dewasa. Tanpa sadar Reghita, Verry, Hanna dan Adam sudah jauh di depan, Adun entah di mana, saya masih di belakang menemani Mega. Dia kelihatan sudah kepayahan naik selangkah dua langkah mata sudah terpejam. Saya mencoba meyakinkan dia bahwa dia bisa menyusul kami ke puncak, setelah kelihatan yakin saya berjalan pelan mencoba menyusul yang lain.

Tanah Putih memang terjal batu-batu kapur kecil mirip saat menuju Watu Kotak menghiasi trek ini. Untuk menuju kawah ambil ke arah kanan dan untuk menuju puncak buntu lurus saja ke atas. Kami mencoba menuju arah Puncak kawah, menyusuri jalan datar setapak namun jangan terburu-buru karena di ujung jalan itu jurang. Kami harus melipir ke kiri kemudian memanjat batuan besar lalu sampailah di Puncak. Saya dan Adun yang sampai paling terakhir di puncak. Setelah mengucapkan syukur kepada Allah SWT, kami mengambil gambar-gambar untuk didokumentasikan. Saya terkesan karena ini keberhasilan saya yang pertama mencapai puncak yang ketinggiannya lebih dari 3.000 mdpl. Reghita dan Fauziah adalah adik kelas dan ini juga puncak 3000 pertama mereka. Adun, Adam, Very, Hanna, juga Gery sebelumnya sudah pernah menginjakkan kaki di puncak Ciremai (3078 mdpl).

Puncak Gunung Sumbing
Puncak Gunung Sumbing

Tidak lama kami berada di puncak karena hari sudah mulai gelap, kami bergegas turun menemani Gery yang beristirahat di tenda. Di perjalanan turun kami berpapasan dengan pendaki lain.

“Yang tidur di jalur itu temannya ya mas?” kata salah seorang dari pendaki tersebut.

“Yang gendut bukan mas?” Adam balik bertanya.

“Iya, kasihan kayanya kecapean tuh.” Timpal si mas itu lagi.

Tanpa banyak tanya saya langsung berlari ke bawah menyusul Mega. Wajar saja karena saya yang terakhir bersama dia waktu itu sampai tidak sadar kalau dia tertinggal di belakang. Saya jadi merasa bersalah meninggalkan dia. Sampai di bawah benar saja laki-laki berbadan gembul itu tertidur di sana, saya bangunkan dia lalu mengajaknya turun ke bawah. Tidak lama kemudian Adun dan yang lain juga sampai di camp.

Hari mulai gelap kami memutuskan untuk beristirahat di tanah putih. Keesokan harinya kami turun, berpamitan dengan penghuni base camp dan pulang ke rumah.

***

 


 

Foto – Foto

Base Camp Sumbing
Base Camp Sumbing

 

Heheh :) mejeng dulu..
Ini saya..

 

Suasana pagi di desa Garung
Suasana pagi di desa Garung

 

Kondisi trek yang berdebu
Kondisi trek yang berdebu

 

Trek menuju Watu Kotak
Trek menuju Watu Kotak

 

Puncak ke Kawah - Vandalisme banyak ditemui disini
Puncak ke kawah – vandalisme banyak ditemui disini

 

Taman Langit Gunung Sumbing
Pemandangan dari puncak gunung Sumbing

 


Lokasi Gunung Sumbing:

Take Nothing But Pictures

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s