Liburan Kecil Mahasiswa Arsitektur

Malam hari di kos Ical. Ada aku, Cipa (@acipachip), Della (@smaradella), Dony (@donytiara), dan Ical. Setelah menjalani hari-hari yang melelahkan selama kuliah arsitektur, akhirnya kami dapat juga hari libur untuk sedikit mengambil napas. Waktu itu Cipa bilang padaku ia mau pergi ke puncak atau ke mana aja yang penting pergilah, begitu juga dengan Della.

Kalau si Ical sih ayok-ayok aja, lalu aku minta Cipa untuk ajak Adin (@AchmadKurniadin), karena dia yang pernah kesana, ke air terjun Cibereum di Cibodas sebelumnya. Berembuk di FB, Adin kemudian memutuskan untuk menemani kami ke Cibodas. Tadinya Kami berharap yang lainnya bisa ikut semua tapi yang namanya rencana pasti bisa berubah jadi yang ikut hanya aku, Della, Adin, Eta, Cipa, Dony dan Ical.

Kami sepakat kumpul jam 7 pagi di kos Ical, tapi dasar jam karet mundurnya bisa sampai jam 10. Jam 10.30 kami mulai berangkat dari Jakarta tujuan Air Terjun Cibereum, Cibodas. Bertujuh, empat motor, kondisi cuaca cerah berawan saat itu, hanya saja di tengah-tengah perjalanan Dony sms, isinya: “Gua balik, hati-hati dijalan”. Sudah jadi kebiasaan anak ini kalau sedang touring pasti baliknya diam-diam padahal nyampe juga belum. Jadilah kami ber-enam teruskan perjalanan. Di jalan raya puncak langit nampak mendung, panik-panik hujan turun yang ternyata cuma kabut yang turun ke jalan.

Tanpa kendala apapun kami sampai juga di Cibodas sekitar pukul 13.30. Kami cari tempat parkir lalu isi perut sejenak di warung nasi. Setelah semua siap, kami mulai petualangan kecil ini ke Air Terjun Cibeureum dengan berjalan kaki soalnya gak ada ojek. Belum apa-apa Eta (@TAElyta) udah kecapean padahal masih di jalan beraspal, kalau tidak salah eta bilang padaku:

“Gue pernah kesini waktu SMP me, dan itu jalannya jauh banget…” sambil terus berusaha mengingat-ingat.

“Yaa.. jalan aja dulu.” Kataku

Tidak lama kami pun tiba di pintu masuk Kawasan Konservasi TNGGP (Taman Nasional Gunung Gede Pangrango). Sementara yang lainnya duduk sambil ngobrol dengan petugas, aku dan Adin pergi ke warung sebelah untuk beli air dan sedikit makanan ringan untuk di perjalanan, karena dari tadi kelihatannya tidak ada yang menenteng air.

Cibeureum Waterfall
Cibeureum Waterfall

Di pintu masuk Kawasan Konservasi TNGGP ini, pengunjung wajib melapor serta dikenakan juga biaya retribusi sebelum memasuki kawasan. Untuk pengunjung yang berniat ke Air Terjun Cibeureum biaya retribusinya sekitar Rp. 3.500/orang. Berbeda dengan para pengunjung dengan tujuan mendaki Gunung Gede atau Pangrango biasanya prosedurnya sedikit lebih rumit. Pendaki harus mengurus surat izin masuk kawasan konservasi (SIMAKSI) di Balai dan per orang dikenakan biaya Rp. 7.000, kemudian SIMAKSI diserahkan ke petugas di gerbang Kawasan TNGGP.

Beli air minum sudah, bayar uang retribusi sudah, ngobrol-ngobrol gak jelas dengan petugas sudah, kupikir sekarang saatnya kami lanjut ke Air Terjun Cibeureum. Toh petugas sudah mengingatkan kami agar segera berangkat mengingat sudah jam setengah tiga sore. Supaya tidak kemalaman kata bapake.

Awalnya yang lain sempat kaget karena baru saja masuk sudah harus melewati tangga-tangga terjal. Aku dan Adin diam saja cengar-cengir sambil berjalan di belakang karena jalan tangga seperti ini bakal ada terus sampai di air tejun. Maksudnya sih biar yang lain penasaran jadi mau terus jalan. (Bezat kau Adin)

Yang paling kelihatan semangat ya si Ical, jalan paling depan persis babi hutan lagi cari makan gak mau liat kanan-kiri apalagi ke belakang. Yah maklum, dia pernah bilang padaku katanya rindu liat hutan dan sekarang dia pun di hutan. Welcome to the jungle sob! Aauoooo!!!

Cipa yang gak kalah semangatnya dengan Ical, sejak dari bawah tadi sibuk nyemangatin Eta dan Della yang ada di belakangnya, wanita yang satu ini tenaganya hampir-hampir kayak cowok ternyata. Hal ini terus berlanjut sampai turun nanti. Iya, iya.

Sementara Ical dan Cipa di depan, Eta dan Della malah sibuk pilih-pilih jalan, yang benar saja aku lupa ingatkan mereka kalau harus pakai sepatu kets biar jalannya gak susah. Alhasil mereka SalTum. Ya, Salah Kostum (maap ya Eta, Della oohoo). Di tengah jalan Eta melepas sepatunya karena katanya malah bikin susah. Merasa iba nampaknya, Adin yang pake sepatu kets langsung memberikan sepatunya ke Eta, jadilah Eta pake sepatu Adin, lalu Adin? Nyeker-man.

Trek batu menuju curug
Trek batu menuju curug

Tapi Della, dia masih pakai sepatunya yang imut-imut itu katanya sih sepatu bersejarah gak ngertilah apa namanya, tapi masa kakinya yang kecil aku tawari dia pakai sepatu gunungku yang gede, yang ada malah keseleo nanti.

“Masih jauh gak sih me??” tanya Della.

“Yaa.. setengah perjalanan lagi.” Balasku.

Gak tega bilangnya kalau ini sebenernya belum ada seperempat perjalanan. Kami sibuk naik-naik ke puncak gunung tapi baru sadar kebanyakan orang-orang malah turun semua.

“Loh ini kita doang yang naik perasaan?” Teriak Eta.

Kelihatannya mereka agak sedikit drop, ditambah lagi hujan turun cukup untuk membuat rambut basah kuyup.

307573_3806951746932_2095674999_nKami sampai di shelter Telaga Biru, sebuah shelter yang di depannya mengalir deras air dari mata air gunung, tidak jauh dari aliran air itu ada telaga berwana kebiruan biruan yang bersembunyi di balik pepohonan. Di Shelter ini aku, Eta, Cipa dan Della istirahat sejenak, Adin dan si Ambon tidak tau kemana, kelihatannya sih sedang foto-foto di Telaga Biru. Selagi istirahat di shelter ada perempuan lewat di depan kami, dia baru naik juga sepertinya tapi sendirian? Dari penampilannya kayaknya dia juga salah kostum kaya Della dan Eta. Tapi kok dia santai aja ya naiknya pikirku. Tiba-tiba,

“Yuk, kita naik lagi yuk!” kata Dela ajak yang lain untuk menuruskan.

Kok tiba-tiba jadi semangat sih, kataku dalam hati?

Ternyata perempuan tadi tidak sendirian, ada teman-temannya di belakang, kalau tidak salah mereka bertujuh, karena ada yang juga baru naik yang lain jadi semangat lagi. Belum jauh dari Telaga Biru kami akhirnya menemui jalan yang disusun dari plat-plat beton yang menyerupai jembatan, di bawahnya itu tanah serupa rawa. Di jalan ini tempatnya cukup bagus buat foto-foto karena kita langsung bisa melihat gunung Pangrango dari sini. Walupun basah kuyup kehujanan kami tidak melewatkan sesi foto-foto buat dokumentasi. Habis jembatan beton sudah, dilanjut dengan jembatan kayu.

Kalau sudah melewati jembatan itu nanti pengunjung akan menemui persimpangan dengan sebuah shelter bernama Panyangcangan. Jalur ke arah kiri itu untuk ke Puncak Gunung Gede atau Pangrango, sementara jalur ke arah kanan untuk menuju Air Terjun Ciberum. Kami ambil jalur ke kanan yang sedikit menurun treknya. Di jalur ini kami melewati jembatan kayu lagi yang serupa dengan sebelumnya namun tidak terlalu panjang. Setelah melawati jembatan kayu jalan mulai menanjak dan tidak jauh dari jembatan sudah kelihatan air terjun dari tebing yang tinggi itu. Kami pun sampai di Air Terjun Ciberum, setelah bersusah payah sampai sepatu mau jebol kata Della, sampai baju basah akhirnya tiba juga di tempat.

Air Terjun Cibereum, letaknya ada di ketinggian 1.625 mdpl (meter di atas permukaan laut) kaki Gunung Gede-Pangrango, Cibodas-Cianjur. Kawasan wisata ini dikelola oleh Balai Taman Nasional, merupakan salah satu dari tempat yang dijadikan sebagai objek wisata di Kawasan TNGGP. Dinamakan Cibeureum karena airnya yang terlihat kemerah-merahan disebabkan lumut berwarna merah (Spagnum Gedeanum) yang banyak tumbuh di dinding air terjun. Lumut tersebut merupakan endemik daerah Jawa Barat.

Seperti biasa apalagi kalau bukan foto-foto, Ical yang baru sampai langsung ke tengah tengah air terjun, Adin ikut juga buat mengambil foto. Arah angin yang langsung mengarah ke kami membuat seluruh baju jadi basah, jadi kami pindah agak ke kanan untuk menghindari air yang terbawa angin ke arah pengunjung.

Yang lain asik main masuk ke air, saya cukup jadi tukang foto lah. Biar suka naik gunung tapi saya gak doyan basah. Bisa kacau kalau ikut nyemplung dengan baju satu-satunya nempel di badan. Gak terasa sudah jam 5 sore ternyata, kuncennya datang langsung, untuk mengingatkan kami dan pengunjung lain agar segera turun. Setelah habiskan cemilan kami ambil foto terakhir berenam. Lalu turun ke bawah, untungnya sampai di bawah belum terlalu gelap. Setelah langit gelap, kami mulai perjalanan pulang. Alhamdulillah semuanya sampai di rumah dan kosan dengan selamat. Besok bertualang lagi ya, kalau bisa seangkatan. 😀

ARSITEKTUR 2012..! UYEEEE!!! 😀

curug-cibereum

599556_3806991307921_360450206_n

46469_3806985867785_1005142310_n


Lokasi Curug Cibereum:

Take Nothing But Pictures

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s