[Resensi] A Separation

Sebuah film datang dari Iran berjudul A Separation yang rilis di tahun 2011 garapan sutradara Asghar Farhadi. Film berjudul asli ‘Jodaeiye Nader az Simin’ yang disuguhkan dengan kentalnya nuansa kultur budaya agamis di Iran ini mampu meraih banyak penghargaan serta apresiasi dari bebagai pihak.

vlcsnap-2013-02-12-00h04m31s174

Kisah ini berawal dari sepasang menikah Nader dan Simin yang dihadapkan pada perceraian. Simin (Leila Hatami) merasa keluarganya harus pindah ke luar negeri lantaran ia menganggap lingkungan di negaranya tidak cukup baik untuk perkembangan anak perempuannya, Termeh. Keinginan Simin ini berbenturan dengan suaminya, Nader. Nader (Payman Moaadi) beralasan bahwa ia tidak bisa meninggalkan ayahnya yang menderita penyakit Alzheimer.

Namun gugatan cerai Simin ditolak hakim karena Nader akhirnya tidak menjatuhkan talak. Simin tetap memutuskan untuk pergi meninggalkan Nader dan putrinya. Termeh (Sarina Fahardi), anak gadis berusia 11 tahun, yang dalam situasi ini sebenarnya yang paling menderita, memutuskan untuk tetap tinggal bersama ayahnya. Hal ini dilakukannya karena ia tidak ingin kedua orang tuanya berpisah. Kepergian Simin kerumah orang tuanya membuat Nader kalang kabut mengurusi ayahnya dan Termeh. Atas rekomendasi istrinya juga Nader lalu menggunakan jasa Razieh, seorang wanita yang terpaksa bekerja sebagai pembantu sambil membawa putrinya, Somayeh, demi menolong perekonomian keluarga tanpa sepengetahuan suaminya, Hodjat .

vlcsnap-2013-02-12-01h04m03s58

Razieh (Sareh Bayat) dengan chodar-nya adalah gambaran dari wanita tradisional Iran. Ia taat pada suami dan agamanya. Walaupun suaminya pengangguran dan cepat emosi, baginya Hodjat (Sahab Hosseini) adalah lebih penting dari dirinya. Adegan di mana Razieh berkonsultasi lewat telepon atas sesuatu yang ia tidak tahu dosa atau tidaknya menunjukkan betapa kentalnya nuansa religius di kalangan keluarga kelas bawah Iran.

Di sisi lain Nader dan Simin adalah gambaran umum keluarga kelas menengah Iran. Simin adalah representasi dari wanita feminis produk budaya modern. Ia selalu ingin posisnya disetarakan dengan suaminya bahwa ia juga berhak turut andil mengambil keputusan dalam keluarganya. Sementara Nader adalah laki-laki yang dikenal berperawakan baik, tekun mendidik anaknya sekaligus merawat ayahnya. Ia selalu kesulitan menghadapi pendapat istrinya. Nader adalah sosok yang memilki prinsip kuat dan masih memegang nilai tradisional di mana suami yang harus mengambil semua keputusan dalam keluarga. Keduanya mandiri secara intelektual dan finansial sehingga tidak aneh jika Simin pergi meninggalkan keluarganya kerena masing-masing dari mereka merasa tidak saling bergantung.

vlcsnap-2013-02-12-00h24m02s103vlcsnap-2013-02-12-00h26m11s121

Untuk hari pertama ia bekerja, Razieh terkejut karena ternyata dirinya harus merawat ayah Nader yang sudah pikun. Hari itu ia langsung minta untuk berhenti kerja karena menurutnya ia tidak pantas melakukan itu. Namun lantaran himpitan ekonomi Razieh menawarkan Nader untuk mempekerjakan suaminya yang pengangguran sebagai pengganti dirinya.

Tapi ternyata suaminya tidak kunjung datang karena lilitan hutang membuat suaminya harus berurusan dengan polisi. Terpaksa Razieh harus tetap bekerja.

Masalahnya dimulai ketika Razieh meninggalkan ayah Nader sendirian di rumah. Nader dan Termeh yang mendapati rumah kosong terkejut melihat ayahnya sudah terbaring jatuh di lantai dengan tangan terikat. Seketika Nader marah kepada Razieh, pertengkaran ini diperburuk dengan hilangnya uang sehingga Nader menuduh Razieh lah yang mencurinya. Nader mengusir Razieh. Namun Razieh tidak terima dirinya dituduh mencuri dan berusaha menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Dalam suasana yang kalut itu Nader secara tidak sengaja mendorong Razieh yang sebenarnya sedang mengandung sehingga Razieh pun keguguran.

vlcsnap-2013-02-12-00h15m28s90

Hodjat yang mengetahui istrinya keguguran menuntut Nader mempertanggungjawabkan perbuatannya. Sebenarnya Razieh tidak mau menuntut atas kegugurannya itu, ia hanya tidak terima atas tuduhan bahwa dirinya telah mencuri. Nader tidak terima bahwa dirinya harus dipenjara. Disinilah para tokoh mulai berbohong dan mencoba menutupi demi alasan yang sebenarnya untuk kebaikan orang-orang yang mereka sayangi. Nader mencoba berbohong bahwa dirinya tidak mengetahui jika Razieh saat itu sedang hamil karena ia khawatir pada Termeh apabila ia dipenjara. Razieh pun sesungguhnya tidak yakin bahwa ia keguguran disebabkan oleh Nader yang mendorongnya hingga terjatuh.

vlcsnap-2013-02-12-00h45m35s234 Di sini Simin dengan inisiatifnya mencoba membantu permasalahan yang tengah dihadapi suaminya. Secara diam-diam ia menjanjikan sejumlah uang ganti rugi kepada Hodjat. Simin khawatir jika nanti Termeh lah yang terancam keselamatannya karena Hodjat yang masih tidak terima kehilangan anaknya. Tapi Nader menolak semua solusi yang diberikan Simin.vlcsnap-2013-02-12-00h34m19s132

Dialog antara Simin dan Razieh memperjelas keraguan Razieh atas sebab keguguran kandungannya. Razieh meminta kepada Simin agar tidak memberikan uang ganti rugi karena takut uang haram yang ia terima akan mempengaruhi pertumbuhan putrinya, Somayeh. Simin merasa hal itu tidak menghilangkan kekhawatirannya terhadap keselamatan putrinya, pada akhirnya tetap datang bersama Nader ke rumah Hodjat dan Razieh. Nader tetap pada keyakinan bahwa Ia bukan penyebab gugurnya kandungan Razieh, Simin dan Hodjat berkepentingan pada kesepakatan uang ganti rugi yang akan menghilangkan masalah ekonomi Hodjat. Tapi tiba-tiba Razieh enggan bersumpah, ia takut pada bencana yang datang nantinya, namun Hodjat bersikeras agar ia membantunya terlepas dari hutang-hutangnya. Pertengkaran keduanya berujung pada perginya Hodjat dengan rasa marah.

vlcsnap-2013-02-12-00h39m33s199vlcsnap-2013-02-12-00h40m48s185Sementara itu, semua permasalahan yang terjadi tidak mampu juga menyelamatkan rumah tangga Nader dan Simin. Mereka pada akhirnya bercerai. Dan pihak yang paling tersiksa di sini tentulah Termeh yang harus menentukan pilihan; ikut bersama ibu atau ayahnya.

***

5

Dengan keberanian Asghar mengungkapkan kenyataan pada masalah yang bisa dialami oleh siapapun, menurut saya membuat film ini sangat recommended untuk di tonton. Pada kebanyakan film di mana tokoh utama ditonjolkan, namun tidak pada A Separation, semua tokoh dalam film ini memiliki porsi yang seimbang pada karakternya. Dilema moral yang terjadi ketika para tokoh secara sadar berbohong di hadapan hakim demi melindungi kepentingan orang-orang yang dicintainya membuat saya sadar betapa realisnya film ini.

Satu kutipan yang paling saya sukai dalam film ini adalah ketika Nader berkata pada Simin:

Hanya karena dia tidak bisa mengingat aku sebagai anaknya, bukan berarti aku tidak mengingat dia ayahku!

vlcsnap-2013-02-12-00h21m09s173

Dan juga adegan antara Nader dengan Somayeh, “Ibuku tidak mencuri uangnya” kata Somayeh. “Iya aku tahu itu” balas Nader. Seakan menunjukan pada kita bahwa anak-anak tidaklah “buta” pada masalah orang tuanya. Mereka melihat itu dan terkadang mampu berpikir lebih jernih ketimbang orang dewasa.

Judul: A Separation (Jodaeiye Nader az Simin) Sutradara: Asghar Farhadi Pemain: Peyman Moaadi, Leila Hatami, Sareh Bayat, Shahab Hosseini, Sarina Farhadi, Merila Zare’i, Kimia Hosseini Produksi: Sony Pictures Classics, Memento Film Rilis: 1 Februari 2011 Negara: Iran Bahasa: Persia

mv5bmtyzmzu4nduwof5bml5banbnxkftztcwmtm5mja5ng-_v1_sx214_

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s