Revolusi Hidup

Demi masa, sesungguhnya manusia dalam kerugian kecuali orang-orang yang percaya dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.  (QS. Al ‘Ashr)

Pak  Danang tersenyum kecut saat melihat hasil desain perancangan tapakku. Bukan karena aku mendesain nya asal-asalan, hanya itu tidak mampu kuselesaikan 100%. Beliau bilang, ” Idenya bagus yan.. tapi sayang aja gak kelar!” Setelah itu ia keluar ruangan hendak mengambil kopi. Saya hanya bisa menatap kosong hasil rancanganku di semester 5 ini. Dalam benakku “Sungguh sial! Tak ada perubahan! Aku masih saja lambat! Bukan hanya dalam menggambar, tapi dalam segala hal aku pun lambat. mulai dari  jurusan kuliah mana yang akan kuambil, pendas Red Ant, mengambil keputusan. Apa cuma ini hasil dari usahaku? aku betul-betul menyia-nyiakan waktu. akh! Bego!” Aku memaki diri sendiri.

Brakk!!

Suara kursi bergeser membangunkan aku dari lamunan. Saat itu juga pak Danang sudah duduk di hadapanku lagi. Beliau mulai membuka pembicaraan serius. Entah berapa lama, yang jelas saat itu rasanya waktu seperti berhenti berputar. Beliau menceramahiku habis-habisan yang seharusnya waktu itu kupergunakan untuk mempresentasikan tugas perancangan tapak ini padanya. Hampir semua kata-kata yang ia keluarkan, sudah pernah kudengar di semester sebelumnya. Alih-alih mendengarkannya, aku malah sibuk dalam kontemplasi singkat di kursi panas tersebut.

Dalam hatiku, “Ini indikator bahwa aku memang belum ada perubahan selama satu tahun ini. Lalu apa yang salah dalam usahaku?”

“Lalu apa yang salah yan?!!” Tanya beliau mengakhiri ceramahnya, membangunkan aku dari lamunan lagi.

“Tak ada pak.., saya hanya sedang berusaha memperbaiki kelemahan-kelemahan saya. Hanya saja bukannya perubahan itu bertahap pak?” Tanyaku padanya mencoba mencari pembenaran.

Tapi apa yang beliau katakan ini sungguh belum pernah kudengar sebelumnya. “Yang kamu lakukan itu hanya mereformasi hidupmu! Tahun 98 Indonesia hanya mereformasi karena itu sampai sekarang tak ada kemajuan yang berarti. Yang terlihat adalah kemajuan kecil yang bertahap. Ketika kamu sadar reformasimu gak membawa perubahan (sambil menunjuk maket perumahanku), kamu harus MEREVOLUSI HIDUPMU!! Ingat yan, ada dua fase dimana manusia pasti mengalami revolusi, pertama saat masuk kuliah, kedua saat ia masuk lingkungan kerja. Kalo lu gak revolusi sekarang terus kapan? telat banget lu!” (jeda beberapa detik, minum kopi) “Tiba-tiba kamu jadi sering masuk kampus, tiba-tiba kamu jadi sering mengerjakan tugas, tiba-tiba kamu jadi rajin ibadah, tiba-tiba kamu jadi berhenti nongkrong ga jelas, tiba-tiba kamu jadi putusin pacar kamu (saya gak pacaran kok pak) ya itu kamu, terserah.. Tapi intinya PAKSA perubahan 180° itu.”

Setelah hari itu, kata ‘revolusi’ terus berputar-putar di kepala. Aku terus bertanya bagaimana caranya perubahan yang tiba-tiba itu terjadi. Apa itu proses natural atau itu direncanakan dengan terperinci? Lantas apa bedanya dengan perubahan yang setahun ini aku lakukan? Toh aku juga buat rencana-rencana? Kalau memang natural, bagaimana perubahan itu bisa terjadi pada waktu yang aku inginkan perubahan itu terjadi? Akh! Pusing kepala gue!!

Lalu terbesit lagi satu konsep di kepala ini. HIJRAH. Adakah itu konsep yang sama dengan Revolusi yang dikatakan pak Danang? Jadi bagaimana tahapannya? Tidak, tidak, aku tidak sedang bermaksud untuk pindah kuliah — lagi — ini lebih kepada hijrah secara batiniah. Terus terang aku lebih tertarik dengan konsep yang terakhir ini. Selain Hijrah itu sudah diterapkan Rasul, konsep revolusi itu datangnya dari pak Danang yang Atheis. Pencarian di Google aku lakukan, teori-teori ku makan. Tapi sampai di titik jenuh semua itu hilang, aakh! Aku benar-benar butuh contoh nyata saat ini. Teringat ada satu orang teman baik yang pernah melakukan hijrah, dan dalam pengamatanku sejauh ini ia berhasil. Annisa, anak kritis yang banyak tanya, yang entah bagaimana caranya merubah hidupnya 180 derajat menjadi muslimah yang taat. Mungkin itu yang disebut hidayah. Tapi saat itu ia sedang menolak berkomunikasi denganku. Aaakh! Apes.. Buntu! Buntu!

Dalam kebuntuan yang tak ada batasnya itu (jadi buntu apa gak nih?) aku mendapat sedikit pencerahan. “Just do it!” Lakukan saja atau bahasa Danangnya PAKSA. Tag line Nike yang selalu dipakai teman-teman mahasiswa arsitekur kalau sudah buntu konsep desain. Iya betul juga, kalau saja dulu pemuda-pemuda angkatan 45 tidak memaksa diri mereka bersikap layaknya penjahat dengan menculik orang terpenting di Indonesia. Mungkin Indonesia takkan mengalami revolusinya yang pertama. That’s the key!

Lalu dari mana kamu memulai? Tanya seekor setan mencoba menghalangi.. Ia pikir aku tak mengantongi jawabannya. Iya trus dari mana mulainya? Dia mulai penasaran.. Aku mulai dengan berlatih untuk mengikuti Pendidikan Dasar Wanadri 2016.. Loh?? Loh?? kenapa jadi organisasi, trus kuliahmu yang carut marut? trus kantongmu yang kere itu? trus kenapa Wanadri? kenapa 2016? trus kenapa? kenapa? kenapa?

PLAKKK!!! Setan yang mencoba menghalangi itupun ditabok.. (siapa yang nabok? heii!!)

248251_330640423730752_1167905752_n

Memilih jalan Wanadri bukannya hal yang mudah, paling tidak ini sudah ku perhitungkan masak-masak sampai matang-matang sejak 2011 silam, dimana aku mulai mencintai organisasi ini. Kuliah ya tetap kuliah.Mimpi jadi arsitek pun harus tetap diraih. Risiko pun harus ditanggung, kalau gak telat lulus ya D.O., kalau gak ngutang ya jatuh miskin. Kalau gak direstui orang tua ya dikutuk. Kalau gak ditinggal nikah sama pujaan hati ya.. ditinggal nikah (sama aja ya? -_-), Kalau gak mundur, ya mati saat di pendidikan dasar. Mendengar risiko-risiko yang tinggi itu, malaikat di kanan ikut meragu. Paling tidak aku harus memaparkan alasan yang jelas kepada diriku sendiri yang melatarbelakangi aku ikut PDW 2016, katanya.

1. Aku jatuh cinta pada Wanadri. Kalau kamu jatuh cinta pada seseorang pasti kamu akan mengejarnya sampai dapat, kalau tidak mampu minimal kamu menyimpannya dalam hati sampai Allah yang menjawab. Seperti itulah aku selama 3 tahun terakhir secara diam-diam mengikuti perkembangan Wanadri. Setalah ini akan kukejar sampai dapat 🙂

2. Wanadri mendidik siswanya dengan disipilin yang tinggi, aku bisa belajar di sana untuk aku gunakan dalam misi revolusi hidupku.

3. Prestasi Wanadri sudah mendunia. Ada pepatah zen modern,

Untuk mengikuti jalan:
pandanglah sang ahli,
ikuti sang ahli,
berjalan bersama sang ahli,
kenali sang ahli,
jadilah sang ahli

4. Mimpiku di Sagharmatha. Sungguh, ini dari hati yang paling dalam. Bersama Wanadri peluangku akan lebih terbuka.

5. Aku bisa lakukan banyak hal bersama Wanadri, dari mulai penelitian, penjelajahan, sampai konservasi, semua itu berdasarkan niat tulusku ingin mengabdi kepada negara, ikut menjaga keutuhan Nusantara dengan kemampuan yang aku miliki serta kecintaanku pada alam bebas.

6. Aku pikir-pikir ini bisa menunjang profesi arsitek lansekap yang kucita-citakan. Wawasan lingkungan dan ilmu seputar konservasi akan kudapat bersama Wanadri. Aku harus jadi arsitek yang bertanggungjawab bukan hanya pada client tapi pada kearifan lokal alam sekitar.

7. Aku ingin menikmati setiap detik bersama Wanadri. Organisasi yang telah mebuatku jatuh cinta kepadanya.

Tujuanku hanya satu; Menjadi manusia yang berguna untuk sesama hidup, agama, bangsa dan negara.

Ada waktu kurang lebih satu setengah tahun untuk mempersiapkan diri menuju PDW 2016. Dalam masa persiapan itu juga adalah bagian dari latihan kedisiplinan yang diterapkan Wanadri dari jarak jauh untuk calon siwanya seantero Indonesia, sebelum benar-benar terjun ke medan tempur situ lembang. Semoga masa persiapan ini mampu mengubah pola hidupku yang senang mengulur-ulur waktu. Pantas saja kalau Allah secara gamblang mengatakan bahwa orang yang tak pandai mengatur waktunya adalah orang yang merugi. Ya, penyesalan memang selalu datang belakangan. Terima kasih ya Allah atas pelajaran yang amat berharga ini. 🙂

Aku pernah berpikir mimpiku ke Semeru akan hilang kalau aku jadi buruh di pabrik, tapi nyatanya aku jadi punya uang untuk ke Semeru. Aku pernah berpikir mimpiku kuliah di jurusan arsitek akan hilang kalau aku masuk IPS, tapi nyatanya aku sekarang kuliah arsitektur. Aku pernah berpikir kecintaanku pada alam akan hilang jika aku kuliah arsitek. Hari ini kurubah cara pandang yang pesimis itu. Aku pasti bisa jadi seorang W. Tunggu aku di 2016. Wanadri!!

Advertisements

12 thoughts on “Revolusi Hidup

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s