Pendidikan Alam Bebas Red Ant angkatan ke-XXIX

283953_176277265771149_2116017_n

Malam itu kuputuskan untuk ikut hadir dalam kegiatan PAB Red Ant. Sebuah kegiatan Pelatihan Alam Bebas yang ditujukan untuk calon-calon anggota Red Ant angkatan ke-29. Kali ini panitia memilih gunung Sangga Buana di Kabupaten Karawang sebagai tempat penggemblengan para caang (calon anggota a.k.a. kacung kampret!). Kegiatan yang berlangsung paling lama 3 hari 2 malam ini biasanya selalu mendapat sentimen dari pihak sekolah karena pendidikan yang pengurus Red Ant sebut semi Be a Man.. eh.. militer ini dianggapnya cenderung mengarah kekerasan. Maklum orang tua..

Sabtu malam saya berangkat dari Lenteng Agung menuju Bekasi. Dengan moda KRL, perjalanan jadi makin singkat ketimbang bus kota yang biasanya saya tumpangi. Sesampainya di rumah, malam itu juga saya mempersiapkan perbekalan secukupnya. Hehe.. cukup satu daypack saja. Pagi pukul 06.15 saya berangkat dari rumah menuju GOR Tambun, sarana serba guna tepat di sebrang sekolah kami yang biasa dijadikan sebagai titik kumpul. Sesampainya di sana saya langsung melihat wajah yang tidak asing. Bukan, bukan.. ini bukan anak SMA dengan syal kuning di lehernya melainkan pak Rusdi Ali, pembina Red Ant. Saya langsung sungkem pada beliau. Lama sekali tak jumpa, seingat saya pembina Red Ant pernah diganti dengan Ibu Chandra, seorang guru olahraga, rupanya sekarang pak Rusdi Ali dipilih lagi untuk jadi pembina. Jodoh. Setelah ngobrol-ngobrol sebentar, pak Rusdi mempersilahkan saya untuk langsung masuk ke GOR.

Ternyata di halaman GOR sudah berbaris rapih caang-caang berkaos putih celana lapangan dengan keril di punggung. Topi rimba di kepala dan sepatu treking yang nampak masih baru-baru serta pamflet nama yang tak pernah absen di dada. Haduh.. bawaan mereka nampak banyak sekali pagi itu, entah apa yang diisi di dalam carrier mereka sehingga nampak besar-besar, mungkin batu bata hehe.. Apel pagi dimulai, dengan gaya yang masih kaku seperti biasanya. Seperti mereka masih mengalami dilema yang juga dialami abang-abang mereka sebelumnya. Citra slengean anak pencinta alam begitu tertanam tapi diwaktu tertentu seperti apel, mereka harus dipaksa tertib hahaha.. ya sudahlah.

Setelah apel bubar tanpa balik kanan bubar, para caang berjalan dengan satu baris memanjang mengikuti pelatih mereka yang ada di depannya. Pelatih hendak membawa mereka naik ke mobil TNI yang sudah sejak pagi buta parkir di halaman depan GOR. Dengan mata tertutup, satu per satu caang naik ke mobil dibantu para pelatih yang selalu sigap. (kenapa matanya ditutup bang?) Entah.. sampai sekarang saya juga gak tau kenapa itu mata pake ditutup. Biar romantis kali. Ciyeeee.. Semua caang duduk rapi di bawah dengan keril di pangkuan. Mobil pun diberangkatkan menuju tempat pelatihan gunung Sangga Buana.

Buat Beber

Kemudian sampailah kami di lokasi tujuan. Dari sini para caang harus berjalan menuju lapangan besar sebagai titik kumpul di mana mereka akan mengadakan apel lapangan lagi. Sementara apel lapangan berlangsung, saya masih sibuk menemani pak Rusdi yang kepayahan menuju basecamp pelatihan. Apel lapangan dimulai tanpa pak Rusdi. Dari kejauhan kulihat Dzul, Koordinator Lapangan PAB menggantikan posisi pak Rusdi sebagai pembina apel. Selesainya para caang melaksanakan apel, saya dan pak Rusdi langsung menuju basecamp pelatih. Tapi baru sampai tengah lapangan, beliau malah minta matras dan berbaring di tengah lapangan, haduuh.! Sudahlah, biarkan saja. Kulihat adun tengah sibuk menggelar peta rupa bumi yang ia bawa dari rumah. Berdasarkan rundown acara, hari pertama para caang akan dilatih penerapan navigasi darat, sedikit tentang SAR dan berujung dengan PPGD. Ya, kali ini Adun yang akan membantu pelatih mengajarkan materi tersebut, hmm.. mungkin akan sampai hari ketiga karena kulihat sampai tengah hari alumni yang datang baru saya, Adun dan bang Ude.

Sewaktu saya masih caang, alumni yang selalu menjadi langganan melatih para caang itu ya bang Guntur. The legend of Aang, legenda Red Ant yang pernah ikut pendas sampe empat kali, konon lebih dari empat. Tapi nampaknya PAB kali ini ia tidak bisa mengikuti para pelatih sampai akhir. Sekarang giliran Adun (@adehamidarip) harus memainkan perannya. hehe senang sekali bisa melihat anak ini melatih para caang dengan gaya Palawa Unpad yang kental. Materi-materi navigasi darat seperti resection, intersection, man to man, digabung dengan materi search and rescue diajarakan kepada para caang dengan sangat hati-hati. Sejak bergabung bersama Palawa, sungguh dia sudah jauh berubah dari yang kukenal selama ini . People change, but memories don’t. Ketika saya sibuk merakam moment yang terjadi dengan sebuah kamera di tangan, sebuah ingatan melintas di kepala. Saya ingat bang Guntur yang ketika melatih saya, Adun dan 13 anggota Lembayung Senja lainnya di Burangrang, ia selalu ditemani bang Godel yang sibuk merekam moment dengan kameranya. Rasa-rasanya kali ini nampak serupa. Adun melatih dan saya yang merekam momentnya.. Sejarah memang selalu berulang.

Hujan

Sore itu selesai sudah caang menerapkan materi-materi yang diajarkan para pelatih. Waktunya bagi mereka untuk dimandikan oleh alam. Sebuah sungai yang arusnya tidak terlalu deras digunakan mereka untuk membasuh badan yang sedari pagi dijemur panas matahari. Tapi kenapa laki dan perempuan dicampur yak? Ah sudahlah, suka-suka pelatih hehe.. Mendadak sungai ini pun berubah menjadi Jacuzzi. Karena saya rada malas menceritakan adegan semi pulgar ini, mari kita pindah channel—menuju basecamp.

Dari basecamp tampak para pelatih menggiring para caang kembali ke lapangan. Tanpa harus lihat rundown acara pun saya langsung bisa menerka kalau setelah ini para caang harus membuat bivak. Bivak adalah sebuah shelter darurat yang digunakan sebagai tempat berlindung di alam bebas. Biasanya dibuat dengan dua buah ponco TNI. Bivak ini satu-satunya tempat para caang untuk tidur. Sebelas orang caang yang terbagi kedalam tiga kelompok langsung mengeluarkan isi carrier mereka dengan alat-alat yang akan digunakan untuk mebuat bivak. Mereka harus berlomba dengan waktu. Karena kalau tidak cepat cuaca bisa saja menggulung mereka. Menjelang maghrib, tampak bivak-bivak caang sudah berdiri. Dari tiga bivak, hanya satu yang kelihatannya sesuai standard, karena dari ponconya sendiri menggunakan ponco TNI. Dua sisanya? yah ponco tukang ojeklah… Tapi ini pun tampaknya belum menjamin para caang bisa tidur dengan nyaman. Adun sempat menceritakan pada saya tentang cara pembuatan bivak mereka yang masih salah. Sepertinya ia sengaja tidak langsung memberi tau pada mereka di mana kesalahannya.

Sangga Buana - Diklatsar RA ang1

Jam 7 malam langit mulai menurunkan titik-titik air ke bumi. Saatnya alam menguji sejauh mana para caang menyerap ilmu dalam pembuatan bivaknya. Benar saja, malam itu lapangan tempat pelatihan hujan deras disertai angin kencang dan petir. Ada sebuah lapak dengan atap terpal yang lumayan luas untuk berteduh. Pasti punya wakamsi yang digunakan untuk berjualan. Lapak ini kemudian dijadikan panitia urusan dapur untuk mengungsi dari basecamp. (Lah kok ngungsi bang?) Ya begitulah, tenda prisma yang digunakan panitia PAB rupanya kurang safety untuk menghadapi kondisi cuaca ekstrem. Dari cerita bang Ude yang juga bagian dari group advance, malam sebelumnya group advance juga mengalami hal yang serupa. Disapu badai sampai semua isi camp basah dibuatnya. Cadasss.. (Lah kok cadas bang?) Ya lau pikir aja sendiri, tenda panitia aja meleot apalagi bivak caang!!

Trus Gimana kabar caang bang??? Tanyalah..

Gimana caang????

Ancuurrrrr..

Masih Kuat???

Siksa teroossss!!!!

Ya apalagi kalau bukan seluruh bivak dan isi di dalamnya dibanjiri air. Mereka basah kuyup, tak bisa tidur tentunya. Sampai beberapa jam kemudian, hujan belum menampakkan tanda-tanda berhenti, justru malah bertambah deras. Sebagian pelatih ada yamg menuju lokasi bivak para caang mengecek keadaan mereka. Namun entah pertimbangan apa dan dari mana, rupanya para pelatih membawa mereka ke lapak pengungsian. Gak tega kali yah? hehe

Selama beberapa jam para caang duduk menggigil sambil tertidur ayam. Tak ada arahan mau diapakan ini peserta karena dari pelatihnya juga nampak kepayahan. Dengan jas hujan dan senter di kepala, Adun returns..! kembali ke lapangan diikuti beberapa pelatih. Bersama beberapa pelatih mereka membuat contoh bivak yang benar untuk dipelajari oleh para caang. Setelah selasai, caang dibangunkan dari tidur ayam dan kembali jungkir balik memperbaiki bivaknya. Sekitar pukul 12 malam bivak baru selesai dan mereka dapat tidur sampai esok pagi kembali berlatih. Tapi para pelatih, tugas mereka belum selesai walau sudah kedinginan dan ngantuk berat (ngopi laah baang…) mereka tetap harus melakukan evaluasi dan persiapan untuk esok hari mendaki ke puncak gunung Sangga Buana.

Mendaki, Lagu, dan Puncak

Sadar ada banyak suara, aku terbangun pagi itu. Para caang sudah dibariskan oleh para pelatih. Tapi dimana Adun? ah dedengkot pelatih satu ini masih tertidur pulas rupanya. Rencananya tim dibagi dua, yang berangkat lebih dulu ke puncak @Berlianbeber cs. dan yang berangkat kemudian bersama caang. Kira kira jam 8 pagi, para caang diberangkatkan dari lapangan pelatihan menuju puncak Sangga Buana. Pendakian dilakukan sangat lambat, karena hampir sepanjang trek ini ritme pendakian mengikuti ritme jalannya caang. Bosan juga bergerak seperti ini di belakang mereka. Pantas saja pelatih-pelatih saya dulu geram sekali melihat angkatan saya yang katanya lambat sekali saat mendaki Burangrang. Et dah! Padahal kita rasanya mah jalan udah cepet banget ituh. Kalau sudah begitu tendang, push up, tendang, push up. hahaha becandaaa… Adun terus berdialog pada caang-caang yang sekiranya sudah kepayahan, mungkin itu caranya agar caang terus berjalan dan tidak berhenti. Tak taulah, karena pengalaman saya sewaktu mengikuti pendas di Arkadia UIN JKT (@kpa_arkadia), hampir selama mendaki di salak, jarang sekali ada pelatih yang mengajak dialog secara intensif. Kami berjalan begitu saja dengan kecepatan yang diinginkan pelatih, namun tetap tak ada dialog.

Macam-macam pula keluhan caang saat mendaki dari yang keram kaki, keram perut, sampai yang bilang gak kuat tapi tetap aja dia jalan kalau dipaksa pelatih. Dan yang tambah merepotkannya lagi, sepanjang jalur gunung Sanngga Buana ini banyak sekali pendaki lalu-lalang naik turun. Dari mulai yang muda sampai yang sudah tua menyelisihi barisan pendaki muda ini. Tapi mereka harus tetap mendaki. Melihat mereka yang masih terus menyemangati sesama saudaranya yang sudah lelah, jadi agak emosional juga hehe. Bagaimana tidak, jauh-jauh keluar rumah naik gunung capek-capek untuk bisa jadi seorang Red Ant. Sedikit memang anak muda yang mau meluangkan masa mudanya untuk kegiatan seperti ini. Tapi percayalah ini akan membangun karakter dan kebersamaan kalian. Jangan pernah lupa apa yang pernah dikatakan Jean Henry Dunant ini:

Sebuah bangsa tidak akan kehilangan sosok pemimpin selama pemudanya sering bertualang di hutan, gunung, dan lautan.
Henry Dunant

Sangga Buana - Diklatsar RA ang

Mungkin si Adun bosan juga memacu caang untuk jalan. Saat caang sedang istirahat tanpa sepengetahuan saya dia sudah jalan lebih dulu meninggalkan yang lain termasuk saya. Kampret! haha.. Karena makin lama makin bosan saja melihat jalan mereka yang sudah sempoyongan itu, akhirnya saya terpaksa keluar suara juga. Dengan sedikit memaksa mereka untuk tetap berjalan walau pelan namun jangan berhenti. Akhirnya mereka mau jalan juga. Tembang-tembang lawas Red Ant pun tak lupa didendangkan para pemuda pemudi ini.

Bumi dan air harta warisku                          jauh di dalam hutan belantara                         

mental yang besar modal utamaku           kini datang penuh kebanggaan      

sematkan slayer oren tanda baktiku         yang telah lama engkau ditugaskan        

ayunkan langkah lestarikan bumiku           yang telah lama engkau mengabdikan

siapa bilang Red Ant tak bisa perang      pencinta alam Red Aaa..nt   

siapa bilang Red Ant tak bisa menang     junjunglah jiwa yang suci 

pembalak hutan marilah kita lawan          jayalah kebesaranmuuu.. 

Red Ant slayer oren tampil kedepan          pecinta alam Red Ant tlah kembali

Red Ant slayer oren tiada tandingan         pecinta alamku pecinta alamku

telah lama engkau menghilang                  terdengar suaramu bergetar musuhmu

jauh di dalam hutan-hutan rimba               pecinta alamku pecinta alamku

                                                                       kelompok kebanggaanku

Heheh lumayan juga untuk mengusir bosan. Sampai pemberhentian yang ketiga kali, saya biarkan pelatih yang ambil alih penuh. Saya berlalu hingga tanpa sadar sudah di puncak Sangga Buana. Wah cepat sekali, tau gini gak usah ditinggal tuh anak-anak, pikirku.. Saat itu hujan masih terus mengguyur sejak aku meninggalkan caang bersama pelatih. Saya berjalan di antara warung-warung wakamsi yang juga disediakan emper atau tepas untuk tempat singgah para peziarah. Di ujung emper yang lumayan besar kudapati komandan dapur (read: @Berlianbeber) sedang sibuk memasak. Asololeeee…

Di puncak Sangga Buana memang banyak makam para leluhur, konon itu makam para kyai. Dan orang-orang yang berasal dari daerah-daerah sekitar Karawang secara berkala masih sering menziarahi makam-makam ini. Dari yang muda sampai yang yang sudah tua pun masih mau mendaki. Itu sebabnya dari tadi banyak sekali kami berpapasan dengan orang-orang yang hendak naik turun gunung ini. Sebelumnya saya hampir saja kecele ketika di jalur saya melihat sebuah rumah, saya pikir itu pos untuk pendaki, karena memang tempatnya yang datar dan nyaman itu sangat cocok untuk mendirikan camp. Siang itu hujan belum berhenti, saya putuskan untuk berteduh di dalam rumah tersebut. Tapi gak jadilah sob.. heheh. Isinya makam dua biji dikelambuiin gimana gak merinding coba.

Jam 3 sore para caang akhirnya sampai di puncak, dari emper ini saya mencoba melihat apa yang sedang mereka lakukan, ternyata mendirikan bivak. Bivak lagi bivak lagi… nasibmu caang.. Waktu maghrib usai, hujan turun lagi. Tiba-tiba saja Adun menanyakan pendapatku tentang niatnya untuk membagi ilmunya pada anak-anak Red Ant. Hmm.. pertanyaan serius nampaknya. Saya mencoba berpikir sejenak, sambil melihat sorot matanya nampaknya ia tulus betul mau membantu organisasi ini tapi masih ragu, entah apa itu. Yah, hanya kata-kata optimis yang bisa saya sampaikan sebagai teman sejawat yang sudah banyak mendaki bersamanya. Semangat kami tetap sama tak pernah berubah seperti waktu masih menjadi anggota aktif dulu. Menginginkan organisasi ini menjadi organisasi yang besar dengan prestasi-prestasi terbaiknya.

Sada Graksa

Semalam penuh saya tertidur tak kuat menahan dingin soalnya, tak tau lagi apa yang dilakukan pelatih pada para caangnya.  Sampai esok hari ketika terbangun caang sudah bersiap turun bersama Dzul si korlap. eh buseh turun lagi.. Hari ketiga, yang merupakan hari terakhir pendidikan bagi para caang ini, akan ditutup di curug Cigentis. Di curug itulah mereka akan dilantik. Jadi sekarang para caang dipacu untuk menuju curug. Perjalanan turun hampir sama dengan perjalanan saat naik. Baru tengah hari para caang sampai di persimpangan Sangga Buana – Kebon Jambe.

Sampai di dekat ladang warga, ada sungai kecil, di sana caang masih harus direndam-rendam lagi oleh para pelatih. Loh emangnya belum mandi? iya sih, di puncak kan ga ada kali. Di rundown tertulis penyematan palsu, oh jadi ceritanya mereka ini lagi diuji kebersamaannya kali ya? gak tau juga.. habisnya pelatihnya kelihatan pada murka, saya jadi takut buat mendekat hehe. Saya dan Adun lantas memutuskan untuk langsung menuju curug Cigentis menunggu caang di sana. Lumayan lama juga menunggu di sana. Baru ketika sore hari menjelang, para caang pun dibariskan di bawah curug, gak persis-persis amat juga. tapi tetep di bawah curuglah. Di situlah syal kuning di sematkan ke leher mereka masing-masing sebagai simbol mereka telah lulus menjadi anggota Red Ant. Oleh pak Rusdi selaku pembina, angakatan baru ini dilantik dengan nama Sada Graksa. Red Ant melangkah dengan formasi baru. Semoga tetap solid dan terus menjelejah lebih jauh saudaraku!

Salam Rimba!!

This slideshow requires JavaScript.

RA.08.06.XXII Lembayung-Senja

23 Desember 2014

Take Nothing But Pictures

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s