Akhirnya Muncak – Monumen Nasional, Cak!

Harusnya hari itu saya dan dua teman lainnya – Wais dan Yudha – berangkat ke Taman Wisata Angke di utara Jakarta. Tapi berhubung keduanya tidak membalas sms saya dari pagi. Jadilah saya pesimis akan rencana yang sudah dibuat sebelumnya. Susahnya jalan sama anak Plegmatis ya begitu, kamu sudah serius mereka bercanda. Kamu minta konfirmasi keberangkatan mereka jawab:

“Emang siapa yang mau berangkat?” Haeee… *tarikgolok

Untung manusia kalau ayam udah gua masak jadi opor. Enggak ding, cuma Emak saya yang bisa masak opor. Tapi mereka tetap bisa kok jadi teman perjalanan yang asik. Selain penurut dan tidak banyak mengeluh ini itu, biasanya di situasi kritis mereka bisa mendadak tampil ke depan.  Hari itu saya langsung deal dengan rombongan fungky – Pungkas cs – yang kebetulan akan berangkat ke TWA juga lusanya. Iya, kalau kata SBY selalu ada pilihan. Begitupun hari ini walau gagal rencana selalu ada pilihan lain. Apakah itu? Saya sebut itu menuntaskan hasrat! Iya, saya cuma mau menuntaskan hasrat yang belum pernah kesampaian; muncakin Monas. Iya, cuma monas, gak yang macam-macam. 🙂

Kenapa Monas? Monas kan cuma gitu-gitu aja. Mungkin bagi orang Jakarta yang biasa mengisi aktivitasnya di kota ini, Monas yah akan terlihat biasa saja. Tapi buat orang kampung lagi udig seperti saya ini, Monas itu beautiful men, se-beautiful getar-getar suara Vina Panduwinata. Ahzyiiiib! Monas bukan hanya seonggok tugu. Tapi saya rasa dia tugu yang memiliki jiwa. Di dalamnya terdapat museum yang merekam perjuangan para pahlawan bangsa, dikelilingi taman kota yang terdiri dari beragam vegetasi dari seluruh nusantara mengelilingi Tugu Monumen Nasional secara total menjadi sanctuary yang menguatkan keagungan tugu ini. Hampir setiap hari ada saja warga kota yang meluangkan waktunya dari rutinitas penat ibukota. Ada yang bermain futsal, basket, jogging, foto-foto, atau sekedar duduk-duduk menikmati pagi sorenya.  Arsiteknya telah “memasukkan jiwa” ke dalamnya.

Adapun yang membuat saya memendam hasrat berlebihan kepada Monumen ini tak lain dan tak bukan karena sering saya mengunjunginya namun selalu gagal sampai puncaknya. Sejak SD, SMP, SMA, kuliah bahkan baru kemarin saya ada di sana tapi selalu gagal ke puncak. Padahal untuk ke puncak tertinggi Jawa saya sanggup bela-belain sampai miskin, tapi kenapa untuk Monas yang murah meriah malah gak sampai-sampai (nangis di jamban). Dan inilah Tugu Monumen Nasional.

Bolehlah kupinjam istilah dari seorang sastrawan — Pramoedya Ananta Toer; “seseorang tidak akan menjadi orang Indonesia sebelum ia melihat Jakarta.” — Jakarta, 2015
Bolehlah kupinjam istilah dari seorang sastrawan — Pramoedya Ananta Toer; “seseorang tidak akan menjadi orang Indonesia sebelum ia melihat Jakarta.” — Jakarta, 2015

Mengenai Pencapaian

Berhubung saya sudah memutuskan perjalanan ini sebagai perjalanan termurah rah, rah, rah! Maka kali ini yang akan bekerja lebih keras adalah kaki. Tenang dompetku hari ini kamu bisa bernapas (toss! Dulu ah pet)

Untuk menuju ke tekape saya gunakan Commuter Jabodetabek jurusan Jakarta, Kota. Berangkat dari Stasiun Universitas Pancasila dengan tujuan Stasiun Juanda saya cukup membayar tiket sebesar Rp. 8.000. Selama kurang lebih satu jam perjalanan, kereta saya pun tiba di tujuan. Dari stasiun Juanda ini, giliran kaki saya yang kerja – menyusuri jalan Veteran ke arah Istana Negara di persimpangan Istana belok kiri untuk masuk ke jalan Veteran 3. Nah, jika kalian sudah menemukan ujung jalan Veteran 3 ini maka sampailah kita di tujuan, tugu Monas yang menjulang akan menyambut kedua bola matamu.

Namun untuk masuk ke kawasan Monas, saya masih harus jalan lagi ke pintu gerbang di sebelah Timur Laut . Sabar ya, pokoknya sehat deh kalian hehe. Sebetulnya Monas punya empat pintu gerbang di setiap akses diagonal yang ukurannya sangat besar dengan tinggi pagar kurang lebih 5 meter. Tapi gerbang-gerbang ini tampaknya tidak dikhususkan untuk pengunjung yang membawa kendaraan pribadi. Pintu kecil di sisi gerbang disediakan untuk pengunjung yang berjalan kaki saja, bukan motor bukan juga gerobak.

Perspektif MonasLalu bagaimana jika pengunjung dengan kendaraan pribadi masuk kawasan ini? Jangan khawatir, gerbangnya sudah disediakan di sebelah selatan Kawasan Monas tepatnya di jalan Merdeka Selatan. Memang bagi yang pertama kali pasti bingung cari pintunya karena memang tidak ada tanda yang jelas. Saya termasuk yang katrok karena pernah mencoba masuk lewat pintu gerbang yang tak lazim ini. Baru sampai sudah ada preman yang minta uang lima ribu rupiah sebagai tanda masuk. Setelah dibayar, abang reman bantu angkat motor saya melewati palang besi setinggi betis yang ada dipagar tersebut. Baik yah abang reman nya hehe. Setelah beberapa minggu baru deh sadar kalau gerbang itu memang bukan untuk tempat masuk pengunjung dengan kendaraan oalaah katrooo katroooo.

Dan bagi pengunjung yang mau mengunjungi Monas, jangan lupa perhatikan jam kunjungannya. Kawasan Taman Monas pada hari Senin hanya dibuka dari jam 07.00 – 10.00 saja dan pada hari Selasa sampai Minggu serta hari libur dibuka dari jam 07.00 – 20.00. Sedangkan untuk masuk ke museum, cawan, dan puncak dibuka dari jam 07.00 sampai jam 16.00 dan biasanya pintu masuk ke tugu Monas sudah ditutup pada jam 15.00.

Relief dinding
Relief dinding

Sejarah Singkat

Ketika zaman kolonial Belanda berkuasa di Nusantara, kawasan Monas hanyalah sebuah lapangan luas yang dikenal dengan nama Konings Plein. Fungsinya selalu berubah-ubah sejalan dengan waktu dan pemiliknya kala itu. Mulai dari untuk menggembalakan kerbau, pelatihan militer, sampai civic center seperti sekarang ini. Mulanya Gubernur Jendral yang waktu itu lebih suka mendiami Istana di Buitenzorg (Bogor sekarang ini) menginginkan adanya sebuah tempat kediaman jika Gubernur Jenderal sedang berkunjung ke Batavia. Karena pembangunan Istana di Waterloe Plein (sekitar Senen) tak kunjung selesai, akhirnya Gubernur Jendral memutuskan untuk membeli rumah besar di Rijswijk (Istana Negara di jalan Veteran sekarang) milik J.A. Van braam lalu diubah menjadi Istana Rijswijk. Namun ternyata pemerintah Hindia Belanda belum merasa cukup karenanya dibangunlah Istana menghadap Konings Plein sekaligus membelakangi Istana Rijswijk dan dikenal dengan Istana Gambir saat itu (Istana Merdeka sekarang).

Konings Plein pun berkembang menjadi civic center dengan adanya kegiatan masyarakat di Pasar Gambir yang menjadi cikal bakal Pekan Raya Jakarta sekarang. Setelah era kemerdekaan, Konings Plein berubah nama menjadi Lapangan Ikada. Presiden Soekarno ingin menempatkan sebuah tugu untuk mengenang pejuang-pejuang bangsa di lapangan Ikada. Sayembarapun digelar untuk mendapatkan sebuah rancangan Tugu yang mewakili semangat rakyat Indonesia. Singkat cerita, walaupun desain yang diperoleh belum seratus persen mewakili semagat Bangsa, namun arsitek Soedarsono dan F. Silaban – yang saat itu namanya paling tersohor – diberikan tanggungjawab untuk mengembangkan ide rancangan awal tersebut. Pengerjaan Tugu Nasional dilakukan secara bertahap ketika itu dikarenankan adanya hambatan-hambatan diantaranya yaitu peristiwa G30S. Tugu Nasional akhirnya dapat dikerjakan secara tuntas pada tahun 1976.

Apa yang bisa kita dapat?

Pintu MasukAda beberapa tempat yang bisa dinikmati pengunjung di kawasan Tugu Monumen Nasional ini. Seluruhnya dapat dinikmati pengunjung dengan biaya yang sangat murah sampai gratis. Antara lain yaitu tempat sarana pendidikan berupa Museum dan Ruang Kemerdekan di Tugu Monas, Sarana relaksasi berupa Taman Kota, dan Sarana Olahraga berupa Lapangan Futsal dan Basket.

Tempat yang pertama kali saya tuju sudah tentu adalah museum Tugu Monumen Nasional. Pintu masuk ke museum terletak di Taman Utara Monas. Setelah menuruni beberapa anak tangga, pengunjung akan langsung mendapati loket pembelian tiket. Biaya retribusi untuk dapat memasuki museum dibagi menjadi 3 kelompok pengunjung; anak-anak / pelajar sebesar Rp.4000, mahasiswa sebesar Rp.8000, dan dewasa / umum sebesar Rp.15.000.

Saatnya berdayakan Kartu Tanda Mahasiswa-mu. Lumayan bisa hemat tujuh ribu.. Murah rah rah!

“Mahasiswa pak!” sahut saya singkat pada petugas loket.

Museum Sejarah Nasional
Bagian dalam Museum

Ketika tangan saya hendak merogoh KTM di saku celana, dengan gerak cepat penjaga loket menyerahkan tiketnya. Loh? tau begitu saya ngakunya pelajar aja hehe.. Awalnya saya mau langsung ke puncak, namun karena waktu yang saya miliki masih lama, saya tergoda untuk berleha-leha dulu di museum.

Museum Sejarah Nasional ini letaknya tepat di bawah cawan Monas. Merupakan ruangan yang berbentuk kubus seperti ruangan kebanyakan dengan core berada di tengah ruangan. Seperti judulnya, museum ini menyajikan sejarah perjalanan bangsa Indonesia mulai dari era manusia purba, sampai pada penghujung masa orde baru. Seluruh cerita disajikan dalam bentuk diorama-diorama berukuran besar. Diorama-diorama ini diletakan pada setiap sisi ruangan (4 sisi) ditambah 2 sisi pada core. Jadi keseluruhan terdapat 6 sisi diorama yang memuat sejarah dalam rentang waktu yang berbeda pada tiap sisinya. Untuk isi cerita diorama saya sudah mencatatnya disini.

Kesan yang pertama kali saya dapatkan ketika memasuki ruangan museum ini adalah dingin dan gelap. Gelap karena mungkin habis dari luar, dingin harusnya tak sedingin ini, karena saya pikir tidak ada barang-barang prasejarah seperti di museum gajah yang harus dijaga kondisinya. Jangan sampai salah ketika hendak membaca diorama ini satu persatu. Pada tiap awal sisi diorama terdapat tanda yang dapat menuntun pengunjung untuk beralih dari satu sisi ke sisi berikutnya. Tidak sedikit saya dapati pengunjung yang membaca diorama ini dengan urutan yang terbalik. Tapi ini bebas loh, mungkin para pengguna otak kanan lebih suka cara demikian. Hehe.

Oh iya, di museum ini ada perpustakaannya juga, letaknya di core ruangan. Walau kecil, dari luar sepertinya kelihatan nyaman. Sayangnya saya belum sempat masuk karena petugas yang biasanya ada di depan pintu sedang istirahat. Padahal penasaran kali sama koleksi-koleksi bukunya.Cawan Monas

Memang hari itu pengunjungnya sedang banyak-banyaknya. Paling banyak biasanya adalah rombongan anak sekolah yang sedang studi tour. Tapi kelihatannya mereka lebih asik foto-foto unyu sama bule tuh.. Bu! anaknya nih bu!

 

Hanya ada satu lift yang bisa di tumpangi secara bergantian oleh pengunjung. Setelah antre kurang lebih 15 menit saya dan delapan pengunjung lainnya akhirnya kebagian giliran juga. Lift pun terbuka tanda kami sudah sampai di puncak. Begitu keluar dari lift, hah – lega rasanya, rasa penasaran saya terbayar tuntas tas tas. Ternyata ruangannya gak sebesar yang saya bayangkan selama ini. Namun pemandangan ke luarnya jauh lebih luas dari ruangan tempat saya berdiri ini. Dari utara ke timur ke selatan ke barat ke utara. Saya sebut satu satu gedung yang saya lihat dari jangkauan mata saya. Saya foto-fotoin cowo-ciwi yang lagi beduan di sana. (yaelah mblo!mblo!) Saya pegangi dinding lengkung yang dari permukaan tanah tampak besar sekali membentuk puncak monas tapi ternyata dinding itu hanya 2 kali tinggi badan saya. Benar-benar kamseupay sekali saya ini hahaha.

IMG_3374
Biar Monasnya gak miring! kayaknya..

Sudah puas, sudah sampai 231 mdpl. Saya turun lagi. Kayak naik gunung yah. Sewaktu turun menggunakan lift yang sama ternyata gak sampai bawah men. Turunnya sampai di lantai 2 cawan. Di tempat ini kosong melompong hanya ada lampu-lampu sorot dan orang pacaran. Tapi yang paling bikin penasaran itu drum-drum di sudut-sudut lantai macam ini nih: maksudnya apa? Biar Monasnya gak miring gitu?  (Bisa jadi! Bisa Jadi!)

Hampir selangkah lagi saya menuruni tangga meninggalkan Monas, tiba-tiba terdengar di telinga suara anak ABG lewat pengeras suara.

Kepada para pengunjung yang ingin mendengarkan suara rekaman Bung Karno saat membacakan  teks Proklamasi, diberitahukan bahwa Ruang Kemerdekaan akan dibuka untuk terakhir kalinya pada pukul 15.00. Para pengunjung dipersilahkan memasuki ruang kemerdekaan.”

Ruang Kemerdekaan ini bisa diakses pengunjung melalui kedua sisi cawan yang sudah saya sebutkan tadi. Jika dari pintu, di sebelah kanan ada tangga menuju ke ruangan tersebut. Ruangan ini mirip tribun, kosong seperti di lantai 2 cawan. Pada keempat sisi dinding core ruangan dilapisi marmer terdapat bendera pusaka di sisi timur, peta wilayah Indonesia di utara, gerbang hijau di barat dan Garuda Pancasila di selatan. Saya duduk di tribun yang menghadap core dengan gerbang hijau berukir. Tak lama kemudian gerbangnya terbuka, dari balik celah gerbang keluar cahaya putih terang yang hampir-hampir menyilaukan mata siapa saja yang melihatnya, membuat saya bertanya-tanya apa gerangan di balik pintu tersebut. Pengunjung di sebelah saya sudah hampir lari ketakutan kalau saja tidak ditahan temannya. Akhirnya pintu terbuka seluruhnya dan pengunjung dapat melihat sebuah monitor yang berisi salinan teks proklamasi di dalamnya. Suara serak Bung Karno pun mulai terdengar, mengisi setiap sudut ruang kemerdekaan ini. Tak semerdu suara Vina Panduwinata memang, tapi yang ini sangat macho. Setelah suara bung Karno menghilang seiring tertutupnya pintu gerbang hijau itu, pertunjukkan disudahi.

Sebelum saya mengakhiri perjalanan solo kali ini, saya menyempatkan diri berjalan-jalan di taman kota yang mengelilingi Tugu Monumen Nasional. Sarana relaksasi bagi warga kota dari rutinitasnya sehari-hari. Paling tidak ada empat taman di Monas berdasarkan arah mata angin. Setiap taman punya jenis pohon yang berbeda-beda.

Patung Chairil Anwar
Chairil Anwar

Yang pertama kali saya lewati adalah taman di sebalah Utara. Dengan patung Diponegoro menunggangi kuda sebagi point of interest taman ini. Di ujung taman ini ada idola saya, Chairil Anwar, seorang sastrawan besar sepanjang sejarah Indonesia. Ia terkenal dengan puisinya yang berjudul Karawang – Bekasi. Patung wajahnya amat tepat bersanding dengan kebesaran nama Diponegoro. Vegetasi yang mendominasi taman ini adalah berupa pohon  tanjung. Pohon dengan ukuran sedang yang biasanya banyak ditanami di pinggir pinggir jalan protocol.

Tuntas menyusuri taman ini, saya sampai di Taman Monas Barat. Dikenal juga Taman Air Mancur Pesona karena kolam air mancur yang menghiasinya. Di taman yang diresmikan Ali Sadikin ini, terdapat rumah-rumah merpati berjajar rapih di pinggir jalan taman, namun dimanakah gerangan sang merpati? Patung yang ada di taman ini adalah Patung wajah Mohammad Husni Tamrin. Seorang tokoh politik yang pada masa hidupnya menjadi satu-satunya pribumi yang duduk di Dewan Rakyat (Voolksraad). Sedangkan vegetasi yang mendominasi berupa pohon Mahoni Moh. Husni Thamrindan Sawo Kecik. Hampir-hampir tak mau pulang saya dari taman ini. Teduh sekali rupanya pohon Mahoni itu. Memang tidak sebesar Trembesi. Namun batangnya kelihatan lebih basah dari Trembesi. Tanah-tanah tempat ditanamnya mahoni pun sangta lembek. Paling tidak itulah yang saya rasakan saat berada di taman ini.

Taman berikutnya adalah taman di sebelah selatan yang banyak di tumbuhi Trembesi. Seperti yang sudah saya katakan tentang Mahoni di atas. Trembesi jauh lebih besar tajuknya dari Mahoni, tetapi Trembesi jauh lebih banyak mengkonsumsi air tanah sehingga membuat tanah disekitarnya kering dan pada akhirnya rumput-rumput tak dapat hidup. Memang tajuknya dapat melindungi kita dari panas namun tetap saja hawanya terasa kering di taman ini. Patung di taman ini adalah patung Gotong Royong yang terbuat dari perunggu. Ada sarana pijat refleksi grastis yang dapat dinikmati pengunjung di taman ini. Tak hanya itu, tempat bermain anak seperti prosotan dan ayunan pun juga tersedia. Jadi untuk keluarga yang sedang rekreasi di Monas, taman ini sangat cocok untuk disinggahi. Ayah Ibunya refleksi, anaknya main ayunan. 🙂Taman Selatan

Baru saya akan menuju taman yang terakhir. Perjalanan saya terhenti oleh dering handphone di saku. Mengingatkan saya pada janji yang harus saya tepati malam ini. Ah, sayang sekali. Taman yang tak sempat disinggahi itu adalah taman di sisi timur dengan patung Raden Ajeng Kartini. Seorang wanita yang memperjuangkan nasib kaumnya dari keterbelakangan. Nah sebelum saya akhiri cuap-cuap ini, ada pe-er dari saya untuk pembaca; kenapa patung RA. Kartini adanya di sisi timur Monas? hayoo.

Pulang

Perjalanan pulang saya diwarnai dengan jalan kaki lagi hehe. Kali ini jalan kaki menuju stasiun Gondangdia. Dari stasiun Gondangdia, kereta Bogor melaju mengantarkan saya kembali ke Kosan. Sebagai penutup, ayo jangan segan-segan main ke Monas! Jangan lupa dulu menara Eiffel juga hanya sebuah cela di kaki kota Paris tapi Monas kita dibangun dengan kebanggaan sebagai bangsa yang besar. Dimana bapak bangsa pernah berpesan;

Kita membangun Tugu Nasional untuk kebesaran Bangsa. Saya harap seluruh Bangsa Indonesia membantu pembangunan Tugu Nasional itu.

—  Soekarno.

Take Nothing But Pictures

Advertisements

6 thoughts on “Akhirnya Muncak – Monumen Nasional, Cak!

  1. pancasila ke juanda 8000? waduh, beberapa minggu lalu bogor juanda 5000, jauh banget ya naiknya…
    beberapa minggu lalu itu saya juga ke monas mas, ngerasa juga salah masuk, tapi waktu itu jalan kaki, lumayan jalan kakinya dari pintu tempat kendaraan ke pintu pejalan kaki,
    sampai di ke monas, tapi nggak rezeki naik sampai ke puncak, cuma masuk museum aja… pengen balik lagi suatu hari nanti…

    1. Oh iya, maaf lupa aku tulis mas, 8000 itu: 3000+5000 (jaminan kartu) jadi aktualnya hanya Rp.3000 tarif UP-Juanda 🙂
      karena 1 April lalu sistem perhitungan tarifnya sudah diubah berdasarkan jarak kilo meter, harusnya sekarang jadi lebih murah cuma memang jaminan kartunya dinaikin jadi 10.000.

      Wah harus cobain deh mas naik ke pucuk.. heheh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s