TWA Angke Kapuk: Surga Mangrove di Sudut Ibukota

Jika mau sedikit saja usaha melihat sudut-sudut ibukota, kita pasti akan mendapati sebuah kawasan hijau berisi hutan mangrove yang berfungsi meminimalisir dampak abrasi dan pembangunan yang semakin tak ramah pada lingkungan. Apabila Suaka Margasatwa Muara Angke dikhususkan untuk konservasi, maka di Taman Wisata Alam Angke Kapuk lebih diperuntukkan sebagai kawasan wisata (ecotourism). Mudah-mudahan dengan banyaknya ekowisata, seluruh lapis masyarakat bisa mendapat pendidikan lingkungan dengan cara yang lebih menyenangkan.

Masih dalam satu rangkaian liburan semester tahun ini, ceritanya sehabis mengobok-obok kawasan Monas di jantung kota Jakarta, lusanya saya bersama rombongan @pungkasgm cs berkelana ke salah satu sudut ibukota. Taman Wisata Alam Angke Kapuk. Atau disingkat saja jadi TWA. Lokasi TWA ini tepatnya ada di Kelurahan Kamal Muara, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara. Dan ini jauhnya minta ampun kalau buat anak-anak Pancasila. Dari ujung selatan ke ujung utara nyerong pula.  Tapi jauhnya lokasi gak menyurutkan niat kami untuk menggunakan transportasi umum yang sudah disediakan pemerintah setempat. Sebagai warga Negara yang baik alangkah eloknya kita memaksimalkan sarana ini supaya tidak menambah-nambah beban jalan dan tidak mengotori udara Jakarta dengan polusi kendaraan pribadi.

TWA Angke Kapuk

Hari itu ada enam orang yang sudah memutuskan untuk ikut jalan-jalan ini. @pungkasgm, @VivaLaTian, @WahidIbrhm, @donytiara, @wiliparadika dan saya sendiri. Dengan menumpangi commuter line, dari stasiun Universitas Pancasila menuju stasiun Juanda. Di stasiun Juanda kami berpindah ke halte Juanda TransJakarta untuk menuju ke halte Harmoni. Nah, dari halte Harmoni ini kami harus berpindah ke bis BKTB jurusan PIK.  Lumayan lama juga menunggu busnya, jadi harap bersabar saja. Sekitar jam 12 siang datanglah bus jurusan PIK menjemput kami di halte Harmoni. Walaupun namanya berbeda, nyatanya bus ini warnanya sama saja dengan Transjakarta. Untungnya penumpang ke PIK tidak banyak, perjalanan jauh ini jadi terasa nyaman.

Mataku tertuju keluar, perumahan-perumahan mewah dan pohon-pohon Trembesi yang tertata rapi menarik perhatianku. Gerbang-gerbang besar perumahan bertuliskan kata ‘Pantai Indah’ mulai terlihat di kiri dan kanan jalan. Tidak berapa lama, suara dari arah sopir depan terdengar Mangrove! Mangrove! Mangrove! Kami turun di bundaran jalan tepat di depan asrama Buddha Tzu Chi. Dari bangunan besar ini pengunjung TWA tinggal jalan saja sedikit ke belakang asrama Buddha Tzu Chi. Pintu masuknya nanti ada di sebelah kiri, dengan sebuah gapura besar yang terbuat dari kayu. Di gapura tersebut juga terdapat pos retribusi bagi pengunjung. Pengunjung dikenakan biaya sebesar Rp. 25.000/orang dan memperoleh tiket masuk, tiket ini harus disimpan karena nanti di pos pemeriksaan akan dicek lagi. Jika membawa motor ditambah Rp. 5000/unit dan jika membawa mobil ditambah Rp10.000/unit. Cukup mahal ya? Saya selalu teringat kata-kata atlet FPTI waktu masih sekolah dulu kalau lingkungan yang alami di kota-kota besar dan sekitarnya itu semakin langka, makannya biaya untuk berwisata alam pun semakin mahal.

Masjid Al-Hikmah
Masjid Al-Hikmah

Supaya tenang menikmati wisata mangrove ini, kami bermaksud salat Dzuhur dulu, hitung-hitung istirahat sebentar dari perjalanan jauh. Dan ternyata memang jodoh, tidak jauh dari pintu gerbang, ada masjid Al-Hikmah. Masjidnya cukup unik. Bangunannya dibuat di atas air dengan konstruksi panggung. Hampir semua material bangunan masjid ini menggunakan kayu. Seperti kebanyakan masjid kuno di Indonesia yang menggunakan atap tumpang, masjid ini juga dilengkapi pendopo yang memiliki pemandangan ke hutan mangrove. Pokoknya cakeplah buat melepaskan lelah. Sehabis salat kami pun melanjutkan perjalanan, selalu ada mangrove di kanan-kiri kami hingga sepanjang mata memandang. Namanya juga hutan mangrove.

Sebelum masuk lebih jauh, tibalah kami di pos pemeriksaan nih. Tenang, yang ini gak dimintain duit lagi kok. Cuma pemeriksaan apakah kita membawa kamera atau tidak? Baik itu kamera poket atau SLR/DSLR. Kalau pengunjung ada yang membawa dua jenis kamera itu, maka pengunjung wajib membayar satu juta rupiah untuk izin mengambil gambar di kawasan TWA. Jiaahhhh.. bayar lagi dong namanya?

Dari beberapa informasi yang saya dapat, alasan dari pengelola TWA karena takut foto-foto yang diambil di sini dikomersilkan. Tapi ada pengecualian, untuk handphone berkamera masih bisa masuk, dan foto-foto dengannya tidak dilarang. Di sinilah kerancuannya, menurut saya pengelola TWA masih belum tegas apakah mau melarang penggunaan kamera atau tidak, pasalnya kamera handphone sekarang itu tak kalah bagus dengan kamera profesional lainnya. Cukup dikulik dengan instagram dan aplikasi foto lainnya saja sudah bisa jadi foto yang menjual. Lalu kenapa tidak sekalian saja dilarang membawa handphone berkamera? Disitulah kadang saya merasa ah sudahlah.

Kemudian, jika pengunjung ada yang menyembunyikan kameranya di dalam tas (karena pengalaman saya tas tidak diperiksa hanya ditanya saja) maka petugas mana yang tau kalau kamera yang dipakai sudah mendapat izin. Saya pikir gak akan ada petugas yang mau repot-repot menanyakan pada pengunjung yang lagi sibuk foto-foto apakah kameranya sudah berizin atau tidak. Nah lemah kan. Ada baiknya jika pengenaan tarif untuk kamera ditujukkan pada kegiatan yang sifatnya memang komersial (pengambilan foto pra pernikahan atau pembuatan film) namun gratiskan saja pengunjung biasa yang sekedar ingin foto-foto, toh saya pikir TWA juga akan mendapat promosi gratis dari pengunjung-pengunjung yang sudah tentu akan meng-upload-nya di sosial media bukan?

Rindang Mangrove

Sudah nasibnya @pungkasgm yang harus pasrah menitipkan kamera digitalnya pada petugas. Dan kami mulai eksplorasinya dengan bermodal kamera handphone. Jalannya cukup baik dan teduh, di kanan kiri ada bibit tanaman budidaya dan taman kelinci walau saya tidak melihat ada di mana kelincinya saat itu. Di dalam juga ada sebuah kantin yang menjual satu jenis makanan loh, yakni mie rebus dan harganya sekitar Rp.15.000. Ah! gak jadilah saya pikir kalau dengan uang segitu saya hanya makan mie rebus lebih baik cari warkop di luar masih bisa dapat es sucang segelas itu. Tapi kalau minuman insyaallah di sini banyak. @VivaLaTian dan yang lain pesan mie rebus, saya dan @WahidIbrhm kongsi makan bekel yang dibawa dari kampus. Formalitas saja sih sebetulnya supaya bisa merasakan suasana makan di kantinnya, maklum mahasiswa arsitektur, katanya selain harus melihat harus mengalami arsitektur juga. (iya suka-suka lo bang)

Ngomongin suka-suka, satu yang saya suka dari tempat ini adalah bangunannya yang terlihat seirama. Dari pintu gerbang, masjid, kantin, penginapan sampai aula, semuanya menggunakan material dari kayu. Memang kesan hijau dan cokelat itu selalu identik dengan alam terbuka. Setiap bangunan punya ciri khas masing-masing. Seperti bangunan Pondok Kemah ini. Bentuknya betul-betul limasan, atapnya ditarik dari atas sampai ke bawah hampir menyentuh tanah. Pada tipe penginapan yang lain modelnya ada yang seperti rumah betawi. Ya tempat ini kelihatannya memang cocok untuk acara-acara family gathering dan semacamnya. Pantas saja kalau harganya dipatok mahal. Untuk bisa sewa perahu saja biaya yang dikenakan sebesar Rp. 250.000/6 orang/perahu. Kalau ramai-ramai sih enak, kalau solo backpacking ke sini?

Pondok Kemah
Pondok Kemah

Oh iya bagi kalian yang mau ikut merasakan sensasi menanam mangrove langsung dengan tangan kalian sendiri. Di sini disediakan juga tempat dan bibitnya. Tentunya ada biayanya lagi, kalau mau menanam saja pengunjung harus membayar Rp 150.000/orang. Namun kalau mau menjadikannya sebuah kenangan-kenangan juga, dikenakan biaya sebesar Rp. 500.000/orang. Barangkali suatu hari main lagi kesini dan mau lihat pohon mangrovenya sudah sebesar apa, kalian akan dibuatkan papan khusus untuk menulis nama dan pesan inspiratif yang nanti ditempelkan di pohon mangrove kalian. Kapan lagi bisa menanam pohon sekaligus mengajak pengunjung lainnya untuk mencintai kebiasaan menanam. (lau nanam ga bang?) he he tidak adik, abangmu lagi bokek.

Okeh setelah beberapa jam mengitari kawasan ini, kami mulai dibikin penasaran nih sama yang namanya menara pemantau burung. Sudah mengitari dari ujung Barat ke ujung Timur, Selatan ke Utara tapi yang namanya menara gak kelihatan sama sekali. Yang ada kami naik tower yang kondisinya sudah reot badai. Pulangnya baru sadar deh kalau ada jalan yang belum dilewati karena ada sesi pemotretan pra pernikahan. Yah nyesal deh. Nyesalnya bukan cuma itu aja, tapi karena di TWA ini saya sempat berekspektasi ada pantai yang unyu-unyu manja gitu broh. Karena tulisan di papan petunjuknya jelas “Ke Arah Pantai ⇒.” Tapi ternyata pantainya bekas tanah urug proyek Pantai Indah Kapuk. #Zonk!

Anggap saja sekedar intermezo, inetrmezo yang bikin kaki pegal-pegal. Jauh loh ke pantainya. Sampai kami histeris cuma gara-gara lihat biawak berenang mirip godzila di film-film. Kamseupay! Yang jelas di tempat ini semua serba ada broh. Kalian mau cari apa? Sikat gigi? Softex? Botol kecap? Ban tubles? Mesin ketik? Insyaallah di sini ada!

Dalam bentuk sampah.

Konon katanya, sampah-sampah ini berasal dari laut yang terbawa ombak. Jadi itu sampah yang di sungai-sungai mengalir ke laut. Di laut, si laut gak mau terima,

“Apaan!! lu yang nyampah ngapa gue yang nampung busuknye!” protes si laut.

Terus dikembalikan lagi sama si laut dan nempellah sampah yang terbuang ini di pesisir-pesisir pantai Jakarta termasuk TWA ini. Nah, oleh karena itu kalau kita masih sayang sama lingkungan kita, ayo buang sampah-sampah kita pada tempatnya. Kalau tempat sampahnya jauh kantongin dulu sampai ketemu tempat sampah. Malu kan kalau kita main ke TWA sudah mengeluh banyak sampah ternyata sampahnya punya kita-kita juga yang dulu kita buang ke sungai.

View dari Tower
View dari Tower
View dari Tower
View dari Tower

Kesimpulannya kalau mau main ke tempat ini bawa duit yang banyak, biar bisa naik perahu (kepengen naik perahu gak kesampean. hiks 😥), jangan sekali-sekali buang sampah sembarangan, kebal-kebal juga sama pelayanan pengelola yang gak ada ramahnya sama sekali dan ini yang penting banget nih, jangan mesra-mesraan di jembatan. Selain takutnya tercebur, kasian pengunjung yang belum punya pasangan (itu lo kali bang!) #emotnangisdijamban.

Pulangnya seperti biasa naik angkot apa aja yang ada di bunderan, kasih aja seribu atau kalau mau manusiawinya dua ribulah. Bilang pada sopir ke fresh market. Nanti di fresh market itulah tempat ngetimenya Transjakarta. Saya, Wili, Dony, dan Wahid berpisah dengan Pungkas dan Tian di Halte Kota. Di sini kami sempatkan untuk makan malam, lagi cari-cari makan eh gak sengaja saya lihat spanduk besar di depan Museum Wayang yang berisi jadwal pertunjukkan wayang selama bulan Februari. Hmm, sepertinya sudah mulai tercium aroma destinasi berikutnya. :mrgreen:

This slideshow requires JavaScript.


Arcopodo

Advertisements

2 thoughts on “TWA Angke Kapuk: Surga Mangrove di Sudut Ibukota

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s