Nonton Apa di Museum Wayang?

Perhatian  kami tak  bisa lepas dari barang-barang yang tak lazim dipakai dalam pertunjukkan wayang pada umumnya. Seperti wayang yang terbuat dari sandal jepit; piring kaleng yang dipakai sebagai salah satu instrumen musik pengiring; ditambah lagi ‘aktor-aktor siluman’ yang berbaur di antara kerumunan penonton. Membuat pertunjukkan Wayang Beber terasa hidup dan tidak kaku.

***

Masih merupakan lanjutan dari rangkaian jalan-jalan di liburan semester tahun ini. Museum Wayang yang tak sengaja saya lewati malam itu seolah-olah memanggil saya untuk mendekati bangunan tua yang sudah berdiri sejak era kolonial dulu. Dengan segera saya keluarkan secarik kertas untuk mencatat jadwal pertunjukkan wayang yang terpampang asyik pada banner besar di depan museum.

Dulu saya sering mengira kalau kita mau menonton wayang, ya harus ke daerah si empunya wayang: Jawa, atau buka channel TVRI sekitar tengah malam. Saya salah! Sekalipun yang membuatnya eksis hanya kalangan-kalangan dengan minat khusus, nyatanya di Kawasan Kota Tua Jakarta,  wayang pun hidup. Namun saya khirnya menyadari, ternyata benar yang dikatakan orang-orang di lapisan sub urban itu bahwa Jakarta menyediakan segalanya–tapi tidak menjanjikan segalanya. Begitu pula dengan pertunjukkan wayang ini belum tentu Jakarta menjanjikan eksistensinya sebagai seni tradisi kalau kita sebagai warga Negara masih malu-malu mengapresiasinya. Itu seperti gayung tak bersambut namanya. Seperti bertepuk sebelah tangan, deritanya tiada akhir.  *Udah nanti Cupatkay curhat!

Sempat bingung juga awalnya mencari teman jalan untuk nonton wayang ini, karena yang lain sudah punya jadwal nonton wayang sendiri di XXI, Cinema 21, Blitz, dkk. *eh iya gak sih? Sebenarnya gak masalah juga kalau harus solo backpack lagi kayak waktu ke Monas. Cuma kali ini saya punya feeling gak enak bakal dikata-kata kayak orang bener nonton wayang sendirian. Situ dalang? Bukan! Cuma jomblo bang. Ah sudahlah.

Setiap bulannya Museum Wayang mengadakan pagelaran wayang pada akhir pekan. Jadi kalau kamu mau berkunjung ke Museum Wayang usahakan di hari minggu. Supaya bisa lihat koleksi wayang sekaligus nonton pertunjukkan wayang.

Dan handphone saya nyalakan, daftar phonebook langsung saya arahkan pada sebuah nama; @sorannisa. Tau aje yang bening-bening bang kayak putih telor *eaaaa.. Ini serius. Bukan lagi modus. Gadis satu ini calon guru. Berhubung yang mengingatkan saya untuk sering-sering nonton wayang kebanyakan datangnya dari para guru, maka bukan hal yang aneh jika saya minta dia menemani ke museum. Toh Nisa langsung mengiyakan kok. Yes, alibi saya mantep kan. Jadi kami sepakat untuk mengunjungi Museum Wayang pada pekan terakhir Februari tepatnya hari Minggu tanggal 22 Februari 2015. Konsekuensi dari jadwal, jenis wayang yang akan dipertunjukkan adalah Wayang Beber Metropolitan. Wah, seperti apa ya Wayang Beber itu? Kok ya saya yang baru dengar. Apa kesannya akan tetap sama ya seperti Wayang Kulit, Golek, yang sering saya tonton di TVRI? Tapi Nisa terlalu bawel sampai-sampai menghilangkan keraguan yang timbul. Anak ini terus-terusan bertanya naik apa? Ketemuan di mana? Jam berapa? Mas kawinnya apa? Bla.. bla.. bla.. >>Satu jam berikutnya. Begitulah dia, tipikal kawan yang cerdas tapi rada paok. Untung doi cakep.

            “Gua udah di depan gate nih! Kau di mana?” Tanyaku lewat ponsel.

            “Eh iya, tunggu ini baru keluar dari kereta.” Balasnya dari ujung sana.

Pagi itu Nisa terlambat datang. Saya dibuatnya menunggu kurang lebih 45 menit sejak saya tiba di Kota. Dalihnya ia berangkat dari Cileungsi. Saya hanya bisa celingak-celinguk dari pot besar tempat saya bersandar. Bola mata saya mencari-cari wanita berjilbab lebar di balik kerumunan penumpang yang hendak keluar peron, sambil harap-harap cemas barangkali si dalang mau kasih kami injury time barang 10 menit saja.

Dalam keramaian Beos pagi itu seorang gadis mungil mengenakan jilbab merah menghampiri saya dari kejauhan. Akhirnya datang juga, gumamku kecil.

            “Ardy bawa jaket gak?” Tanyanya dengan wajah gelisah.

            “Bawa. Di tas. Kenapa?”

            “Gak pake manset. Basah semua.” Sambil menunjukkan pergelangan tangan yang sedikit terbuka.

Lah ini kenapa jadi ngomongin si Nisa? Salah fokus kita abang. Wayangnya kan si Durjana. Oalaaa.. *dilempar sendal. Tiba-tiba aja Nisa jadi cerewet supaya kami bisa cepat sampai di lokasi. Padahal yang bikin telat dan tulisan ini jadi ngalor ngidul kan ya ini bocah. Dasar.

Tiket masuk Museum:
Dewasa/Umum = Rp.10.000
Mahasiswa= Rp. 5.000
Pelajar = Rp. 2.000

Sampai di pintu masuk Museum Wayang, kami langsung mendapati loket yang ditempati dua orang petugas. Dengan membayar tiket sebesar  Rp. 5000/orang (mhs) sambil memperlihatkan KTM (Kartu Tanda Miskin Mahasiswa) kami akhirnya memperoleh tiket masuk. Belum sampai hitungan menit di dalam museum, saya mulai disorientasi. Penyakit autis saya kalau lihat bangunan dan segala isinya kambuh lagi. Saya mendadak lupa dengan tontonan wayang yang seharusnya jadi menu utama kunjungan ke museum ini. Haduh.. Sialnya, si Nisa belum ngeh betul kalau saya punya penyakit keren ini. Doi malah ngikut aja saya ajak muter-muter sambil tetap ngedumel tentunya.

            “Cepet.. tink. Ah! cepatan nanti keburu mulai wayangnya!”  Nisa menyeringai dengan wajah yang dibuat-buat.

            “Ha.. iya. Ha apa?” Jawab saya melengos ngeliatin plafond.

            “ Tau ah!” Nisa berlalu meninggalkan saya.

Di ujung koridor, Nisa yang sudah terlampau beberapa meter dari tempat saya berdiri menoleh padaku. Dengan khas muka mesem-mesem innocent-nya ia menunjuk-nunjuk sebuah ruangan. Hmm.. sudah barang tentu dia menemukan tempatnya kalau begitu. Dari dalam ruangan langsung terlihat cahaya temaram dan terdengar lantunan musik tradisional. Kami memilih kursi paling depan yang saat itu kosong tak bertuan. Kelihatannya memang disediakan buat kami berdua hohoho. Sang dalang memang sudah bercerita, tapi saya pikir belum terlalu jauh kami tertinggal. Penontonnya pun masih bisa dihitung dengan jari. Sepi. Barulah sekitar 15 menit dari kedatangan kami, kursi-kursi kosong mulai dipenuhi para penontonnya.

***

Yang menjadi dalang pada hari itu adalah Ki Samuel dengan lakon “kibar-kabur.” Sebuah lakon yang menceritakan negeri bernama Poco-Poco. Di negeri itu masyarakat dan pemimpinya hidup dengan masalah-masalah kehidupan pada umumnya. Banjir, kebakaran, tanah longsor, kemiskinan dan beragam masalah sosial ini rutin menjadi makanan sehari-hari masyarakatnya hingga menjadi sebuah kebiasaan antara yang berempati dan yang diberi empati. Keduanya tanpa sadar telah menciptakan siklus yang tak berkesudahan. Pada suatu hari, Durjono, pemimpin Republik Poco-Poco menyelenggarakan open house untuk mendengarkan aspirasi dari segenap penduduk Republik Poco-Poco yang hampir-hampir mengalami konfik horizontal di negeri tercinta mereka. Masing-masing golongan membawa kepentingannya dan menyampaikannya pada Durjono, sang kepala negara. Dengan bijak Durjono menampung setiap keluhan masyarakatnya. Sungguh besar rasa empati Durjono. Betapa dirinya tak menginginkan rakyatnya hidup dalam kesengsaraan di bawah kepemimpinannya. Tapi empati tinggalah empati jika tidak dibarengi dengan solusi-solusi strategis membebaskan masyarakat dari jerat masalah dan sudah barang tentu solusi itu akan mampu menghindarkan dari konflik yang sewaktu-waktu bisa timbul di masyarakat. Setelah beberapa kali menyelenggarakan open house, ternyata permasalahan di masyarakat tak kunjung ditemukan benang merahnya. Maka meletuslah konflik horizontal dalam masyarakat. Masyarakat di Republik Poco-Poco saling berkelahi, menimbulkan kerusakan dan kegaduhan di mana-mana. Kekacauan tak mampu terhindarkan lagi. Coba bayangkan bagaimana perasaan Durjono kala itu. Menjerit hatinya menyaksikan apa yang terjadi pada masyarakatnya. Kalau ditanya, Durjono tentu akan mengatakan “sakitnya tuh di sini.” Namun sebagai kepala Negara Durjono tak mungkin lepas tangan begitu saja melihat kemelut yang terjadi. Maka Durjono pun menurunkan satuan keamanan Republik Poco-Poco untuk menormalkan kembali situasi yang tengah terjadi di negeri Poco-Poco tercinta. Alih-alih, kerusuhan dan kerusakan justru semakin meluas. Bahkan hari ini sudah mengarah kepada konflik vertikal antara penguasa dan masyrakatnya.

Ki Samuel

Setiap awal pasti ada akhir, begitu pula dengan yang terjadi di Republik Poco-Poco pada akhirnya semua berakhir dengan kerugian besar di kedua belah pihak. Durjono untuk yang terakhir kalinya menyelenggarakan open house bagi masyarakatnya. Setelah semua kerugian dan kerusakan yang dialami seluruh negeri, barulah mereka sadar bahwa tak ada artinya kerusuhan-kerusuhan yang telah mereka lakukan. Singkat cerita seisi negeri pun akhirnya kembali bersatu dan mulai bahu membahu memulihkan kondisi negeri. Semua kegaduhan selama ini seolah menyatu dalam semangat Poco-Poco. Untuk memperingati ini, Durjono berniat mengadakan upcara bendera di Istananya. Karenanya diutuslah Gudel mengambil bendera pusaka Republik Poco-Poco untuk dikibarkan.

“Gudel! Coba kamu ambilkan bendera pusaka Poco-Poco. Kita akan melaksanakan upacara memperingati bersatunya kembali negeri Poco-Poco.” Perintah Durjono.

“Baik, pak! Saya berangkat.” Ucap Gudel patuh.

Namun setelah lama menunggu, Gudel pun tak kunjung kembali. Kabar burung mulai merebak bahwa bendera pusaka telah hilang. Bagaimana mungkin bendera pusaka Negara bisa hilang? Sungguh teledor sekali apabila ini betul-betul terjadi. Pun demikian akan berdampak pula pada kestabilan Republik Poco-Poco. Rakyat bisa kembali bergejolak. Pikiran Durjono sungguh tidak karuan saat itu. Gudel pun akhirnya kembali dan memastikan kebenaran berita tersebut, bahwa bendera pusaka telah hilang.

            “Haduh, bagaimana toh ini del? Kok bisa bendera pusaka kita hilang?” tanya Durjono kesal.

            “Tak tau loh pak” Jawab Gudel tak acuh.

“Ini memalukan. Ini bisa jadi borok saya paling besar kalau sampai di kepemimpinan saya bendera pusaka bisa hilang. Hancur ini. Pokoknya saya tidak mau tau, cari bendera pusaka Republik Poco-Poco sampai ketemu!”

Inteligen Republik Poco-Poco bergerak menelusuri setiap jengkal negeri Poco-Poco. Pencarian ini harus segera membuahkan hasil. Jangan sampai rakyat tau bendera pusaka Poco-Poco ternyata telah hilang. Hari berganti hari, belum ada kabar juga tentang keberadaan bendera pusaka Poco-Poco. Dalam keputusasaan, handphone Durjono tiba-tiba berdering. Itu adalah telepon dari presiden Obama.

            “Hallo! Benar saya sedang bicara dengan Durjono?” Sapa Obama dari negerinya.

            “Betul pak Obama. Saya Durjono. Presiden Republik Poco-Poco. Senang sekali rasanya bapak presiden yang terhormat mau menghubungi saya. Ada apa kiranya pak?” Tanya Durjono dengan santun.

“Saya mendengar berita kalau Negara bapak sedang kehilangan bendera pusaka, betul itu?”

“Betul sekali pak. Bagaimana pak Obama bisa tau?”

“Oh, Negara kami selalu tau apa yang sedang terjadi di dunia. Saya pikir bendera pusaka bapak ada di Negara saya. Kemarin Ibu Michelle memperlihatkannya pada saya dan dia sangat suka dengan motif kain tersebut. Karena itu ibu Michelle menjadikannya sebagai taplak meja makan di rumah saya.”

Durjono terheran-heran. Ia tak menyangka bahwa bendera pusaka Republik Poco-Poco berada di Negara adidaya tersebut.

            “Pak Durjono?”

            “Oh, Iya pak!”

            “Apa harus saya kembalikan bendera ini kepada anda?”

Dengan bersemangat Durjono menolak. “Oh tidak perlu pak Obama. Sungguh bangsa kami sangat tersanjung oleh perlakuan Negara bapak terhadap bendera pusaka kami. Kami sangat tidak menyangka, motif bendera Poco-Poco yang sederhana itu ternyata amat disukai Ibu Michelle Obama. Kami betul-betul merasa terhormat. Saya rasa biarkan saja bendera Poco-Poco tetap di sana menghiasi taplak meja makan Ibu dan Bapak. Biar nanti rakyat Poco-Poco saya buatkan replikanya saja.”

Dalam waktu singkat berita bendera pusaka Republik Poco-Poco ini tersiar luas di masyarakat. Seluruh penduduk negeri kembali bergembira setelah kehilangan itu. Ternyata bendera mereka yang sederhana bisa menjadi penghias meja makan seorang presiden Negara adidaya.

Begitulah kira-kira yang masih saya ingat mengenai jalan cerita lakon kibar kabur tadi. Ternyata wayang tidak selalu menceritakan cerita-cerita lampau ataupun cerita-cerita berbau India yang nama-nama tokohnya sering kali asing di telinga. Oleh Wayang Beber Metropolitan, wayang ditampilkan dengan lakon yang sangat dekat dengan keseharian kita. Tokoh-tokohnya pun memiliki nama-nama yang singkat dan unik kedengarannya seperti Pak Durjono, Pak Bimbang, Gudel sampai Obama pun hadir dengan tampilan orang bukan wayang. Unik kan? Betul-betul tak biasa.

***

Dinamakan beber yang bisa diartikan lembaran-lembaran yang dilukis dengan gambar atau sketsa untuk nantinya digunakan dalang dalam menuturkan narasi cerita. Caranya dengan membeberkan gulungan-gulungan kain atau kertas tersebut. Karena itulah disebut wayang Beber.

wayang beber
Wayang Beber (Sumber: Waybemetro)

Awalnya saya mengira kalau wayang beber adalah wayang jenis baru hasil modifikasi dari wayang kulit, golek dan orang seperti yang saya sering saksikan di televisi. Ternyata pengetahuan saya terlalu cetek untuk memahami budaya Indonesia yang kaya. Wayang Beber justru adalah jenis wayang paling tua di Indonesia. Menurut Groeneveldt dalam bukunya Nusantara Dalam Catatan Tionghoa, dirinya telah menemukan berita dari Cina yang menjelaskan  wayang ini sudah dimainkan sejak era Majapahit berjaya di tanah Nusantara.

Konon wayang kulit yang sering kita saksikan itulah yang merupakan bentuk modifikasi wayang beber. Karena ketika itu Islam mengharamkan gambar makhluk hidup seperti yang digambarkan pada wayang beber. Maka para Wali mengubahnya menjadi bentuk wayang kulit yang bersifat ornamen seperti sekarang.

Penggunaan kata ‘metropolitan’ sendiri sebetulnya untuk menunjukkan lokasi geografis dimana wayang beber itu dimainkan; yaitu Jakarta. Jadi Wayang Beber Metropolitan ini sebuah komunitas yang berisikan pemuda-pemuda yang tertarik untuk mempelajari wayang beber. Ada pula di Solo, menamakan dirinya Wayang Beber Kota. Dua komunitas inilah yang saat ini dikenal sebagai pelopor wayang beber begaya kontemporer.

Ki Samuel dalang Waybemetro
Ki Samuel

Wayang Beber Metropolitan atau akrab disapa WBM sejatinya bukanlah kaum muda yang memang sudah menggeluti dunia wayang sebelumnya. Mereka berasal dari berbagai tempat dengan latar belakang yang berbeda pula. Mereka belajar, berproses dan termotivasi oleh esensi cerita panji dalam wayang beber. Mereka adalah kumpulan orang yang bergerak dari titik nol ketertarikan pada seni tradisi yang hampir punah dan harus dilesatrikan.

Wayang beber adalah seni tradisi pertunjukkan yang diajarkan turun temurun. Tidak bisa diajarkan kepada orang di luar keluarga pemegang tradisi, menjaga pantangan nenek moyangnya. Sehingga sangat sedikit yang bisa memainkan Wayang Beber kalau bukan keturunannya. Itulah mengapa WBM belajar, Lakon yang dimainkan pun sangat berbeda dari wayang beber tradisi asli yang ada di Pacitan. Hal ini merupakan improvisasi komunitas WBM untuk beradaptasi dengan hiruk pikuk Ibukota yang perhatian masyarakatnya semakin teralihkan oleh kesibukan-kesibukan. Namun dengan tetap tidak meninggalkan pakem yang ada. Kebanyakan cerita-ceritanya diambil dari kehidupam masyarakat kita sekarang.

Namun bukan cuma cerita-cerita pewayangan ini yang membuat kami merasa wayang Beber sangat menarik. Sejak awal pertunjukkan, perhatian  kami tak  bisa lepas dari barang-barang yang tak lazim dipakai dalam pertunjukkan wayang pada umumnya. Seperti Wayang yang dibuat dari sandal jepit, lalu piring kaleng yang dipakai sebagai salah satu instrument musik pengiringnya. Ditambah lagi ‘aktor-aktor siluman’ yang tiba-tiba berbaur di antara kerumunan penonton. Membuat pertunjukkan Wayang Beber terasa hidup dan tidak kaku. Dan yang gak kalah eksis adalah, saya sedikit bingung menamakannya apa tapi sebutlah saja itu asisten si dalang. Perannya di sini adalah membantu dalang membeberkan lembaran-lembaran dan nyeletukin si dalang di tengah-tengah pertunjukkan. Gampangnya kalau kamu pernah nonton si opik kumis lagi ngelawak pake pantun terus si Tara Budiman nyautin; “artinyaaaaa!” Nah kira-kira asisten dalang kerjaanya kayak si Tara ini.

Setelah pertunjukkan wayang selesai, kami ubek-ubek lagi museum wayang yang sempat tertunda karena sibuk nyari ruang pertunjukkan. Untungnya si Nisa gak ngedumel lagi. Raut mukanya sudah lebih sumringah, kalau tadi persis dosen saya kalau lagi nagih tugas desain. Sudah dikasih tontonan keren yang gratis soalnya. Ngomong-ngomong saya sudahi dulu ya, mau ngelurusin jari dulu. 😀

Senang sekali rasanya mengetahui bahwa saya masih bisa melihat seni pertunjukan wayang tertua di Indonesia. Dan gak perlu jauh-jauh pula, kita tinggal berangkat ke Kota Tua Jakarta, bayar tiket masuk yang murah, lalu kita menemukan sebuah harta yang amat sayang jika kita biarkan hilang begitu saja akibat minimnya apresiasi. Sudah ada komunitas-komunitas yang dengan hati ikhlas menghidupinya. Maka sepatutnya pula kita jadi antusias menyaksikan pertunjukkan yang diselenggarakan. Seperti apa sih wayang beber? Ceritanya bagaimana? Serius itu wayang tertua yang kita punya? Makannya yuk nonton langsung!

Semoga tulisan saya yang acak-acakan ini bisa membuat kita tergerak untuk; Ayo main lagi ke museum! Ayo nonton wayang lagi, ayo kita penuhi kursinya, jangan cuma kursi bioskop yang penuh. Murah kok gak perlu pakai paket nomad atau paket goceng segala. Heuhe.. See you! ^^

Salam Lestari

Advertisements

8 thoughts on “Nonton Apa di Museum Wayang?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s