Langkah Kita Menyelamatkan Bumi

Sudah 45 tahun lamanya sejak Hari Bumi pertama kali ditetapkan pada 22 April 1970. Namun sejak saat itu pula gas rumah kaca yang menjadi indikator utama pada isu global warming yang menyita perhatian dunia justru mengalami laju peningkatan yang drastis sampai hari ini. Sebuah Ironi? Bukan salah Hari Bumi tentu.

Berdasarkan data NOAA (National Oceanic & Atmospheric Administration), sampai bulan maret 2015 kadar gas CO2 pada lapis atmosfer berada di angka 400 parts per million (ppm). Angka tersebut mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya yaitu 398,10 ppm. Juga merupakan kenaikan signifikan sejak 1970 yang pada waktu itu berkisar di 325,86 ppm. (NOAA, Maret 2015)

Data Carbon Dioxide by NOAA March 2015
Sumber Data : Pengukuran Bulanan (dikoreksi untuk siklus tahunan pada grafik) Credit: NOAA

Kita semua pastinya berharap bahwa Hari Bumi yang dirayakan setiap tahun ini tidak berakhir pada kesan seremoni belaka. Tidak juga kita berharap Hari Bumi akan ditanggapi masyarakat dunia secara sporadis. Ramai hanya karena sedang ada event-nya, lalu ramai ditinggalkan ketika sudah selesai. Jika begitu, maka Hari Bumi tidak akan relevan lagi dengan konsep berkelanjutan (sustainable) yang digadang-gadang akan mampu menyelamatkan peradaban manusia dari kehancuran lingkungan hidup. Seruan-seruan tentang pembangunan yang berkelanjutan harus terus-menerus dilakukan – di luar hari bumi tentunya. Media massa harusnya lebih intensif dalam mengangkat isu-isu kerusakan lingkungan di berbagai daerah. Agar membuka mata kita semua akan situasi genting yang ada di depan mata.

Melihat tren kenaikan gas rumah kaca seperti yang sudah disebutkan. Setiap orang sebetulnya mampu berkontribusi dalam Hari Bumi. Ada beberapa langkah sederhana yang masih bisa kita lakukan dalam membantu mengatasi isu global warming:

Logo Hari Bumi
Credit: Hari Bumi 2015
  1. Gunakan listrik seperlunya matikan selebihnya.

Perlu kita ketahui bahwa penyumbang karbon terbesar sesungguhnya adalah bangunan. Di Negara kita, produksi listrik masih mengandalkan bahan bakar fosil seperti batu bara dan solar. Pembakaran  sumber energi inilah yang menghasilkan jejak karbon di atmosfer. Karena itu, mengurangi penggunaan elektronik dalam rumah sama dengan mengurangi karbondioksida. Gunakan lampu LED. Memang harganya jauh lebih mahal, namun LED mengkonsumsi listrik lebih sedikit ketimbang lampu biasa. Daya tahan lampu ini juga lebih lama. Sehingga menggunakan LED bisa juga dianggap sebagai investasi untuk lingkungan. Hal ini juga berlaku dengan alat elektronik lainnya. Saat ini sudah banyak tersedia elektronik hemat listrik terutama pada produk-produk yang dikenal “memakan” banyak listrik seperti dispenser, mesin cuci, rice cooker, kulkas.  Pilihlah yang watt-nya paling kecil. Kemudian optimalkan bukaan pada jendela sebagai pengontrol suhu ruangan. Hal ini dilakukan guna menghindari penggunaan Air Conditioner (AC) yang notabene membutuhkan listrik yang banyak. Selain itu AC juga menghasilkan gas CFC (Chlorofluorocarbon) yang mampu melubangi lapisan ozon di atmosfer. Walaupun memang sudah ada produk-produk AC yang mengaku non-CFC namun lebih baik dahulukan penggunaan kipas angin yang lebih minim dampak kerusakan lingkungannya. Setelah semua alat elektronik kita dirasa sudah minim dalam penggunaan listrik, jangan lupa untuk mematikan alat tersebut ketika tidak dipakai. Namun mematikan alat elektronik saja sebetulnya belum cukup, karena kabel elektronik yang masih tertancap pada stop kontak masih menarik arus listrik. Karena itu cabutlah kabel elektronik dari stop kontak ketika tidak terpakai. Mudah kan?

  1. Simpan kendaraan bermotormu, mulai beralih pada transportasi publik.

Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa penggunaan kendaraan bermotor akan berdampak langsung  pada peningkatan gas rumah kaca. Tidak percaya? Berbaurlah dalam kerumunan sepeda motor yang sedang mengantre saat traffic light.

Negara maju bukanlah tempat dimana orang miskin mengendarai mobil. Ia adalah tempat dimana orang kaya menggunakan transportasi publik. (Enrique Peñalosa, Mayor of Bogota 1998—2001)

Perhatikan knalpot pada setiap kendaraan dan rasakanlah bagaimana anda mulai kegerahan dan ingin cepat-cepat memencet klakson. Selain dapat mengurangi gas CO2, menggunakan transportasi publik dapat mengurangi kemacetan oleh banyaknya kendaraan pribadi. Memang kualitas transportasi kita masih jauh dibandingkan negeri orang. Tapi dengan kita menggunakan sarana yang disediakan, insyaallah peningkatan kualitas pada transportasi publik akan terlaksana karena dirasa banyak peminatnya. Contohnya adalah rencana pembangunan MRT karena melihat Commuterline yang sudah tak dapat lagi menampung jumlah penumpang. Berkorbanlah sedikit untuk berdesak-desakan demi terjaganya lingkungan yang akan kita wariskan pada generasi mendatang.

  1. Gunakan produk lokal

Kaitan antara penggunaan produk lokal dan global warming terletak pada distribusi bahan baku dari produk yang bersangkutan. Contoh kasus, banyak di antara masyarakat kota kini memilih untuk membeli bahan makanan impor di hypermart dan pusat-pusat perbelanjaan lainnya. Bahan baku produk impor tersebut harus didatangkan dengan alat transportasi seperi kapal, pesawat, truk dan sebagainya. Jarak yang ditempuh alat transportasi inilah yang memberi sumbangsih atas meningkatnya karbon dioksida pada atmosfer. Semakin jauh jaraknya semakin banyak jejak karbon. Semakin kita gemar mengkonsumsi barang impor (pakaian, makanan, material rumah, elektronik, dll) semakin tinggi pula penyedian atas barang-barang tersebut. Selain berdampak buruk pada lingkungan, kebiasaan seperti ini juga buruk pada perekonomian negeri. Mengkonsumsi produk yang berasal dari sekitar tempat kita tinggal jauh lebih baik karena jaraknya yang dekat tentu memproduksi CO2 yang lebih sedikit daripada produk yang didatangkan dari jarak berpuluh-puluh kilometer jauhnya.

  1. Hemat Kertas

Bahan baku kertas berasal dari kayu. Kayu diambil dari hutan. Memang bukan hutan alam melainkan hutan tanaman industi (HTI) yang dikhususkan untuk kertas, mebel dan sebagainya. Namun menghemat kertas esensinya terletak pada meminimalisir pembukaan hutan alami menjadi hutan tanaman industri. Semakin banyak hutan alami yang dijadikan HTI maka semakin sedikit karbon yang diserap. Karena daya serap HTI tidak sebanding dengan hutan alami.

  1. Bijak dalam membeli mebel

Kebutuhan akan mebel sudah menjadi kebutuhan primer di tiap-tiap lapis masyarakat. Bahan baku mebel sering kali kita lihat menggunakan bahan kayu. Kayu yang didapat dari hutan industri. Namun benarkah itu kayu hutan industri. Bagaimana jika ternyata kayu yang dipakai berasal dari aktivitas illegal logging? Untuk menghindari ini belilah mebel yang menggunakan bahan kayu bersertifikasi. Di Indonesia, sertifikasi tersebut kita kenal dengan nama SVLK (Sistem Verifikasi Legalitas Kayu) untuk mengatasi aktivitas illegal logging yang sering terjadi. Walaupun penerapannya belum sempurna, namun pengetahuan ini perlu juga agar kita dapat lebih bijak dalam membeli mebel.

  1. Sebarkan langkah-langkah sederhana ini

Bukan mau promosi tulisan ini loh, tapi kalau ada yang mau promosikan juga saya gak nolak hehehe… ^^

  1. Istiqamah dalam menjalankan point 1–6

Yang terakhir adalah kunci dari berhasil atau tidaknya langkah-langkah sederhana ini. Karena konsep Hari Bumi itu sesungguhnya adalah menciptakan pembangunan yang berkelanjutan. Maka hal-hal kecil seperti yang sudah diterangkan di atas harusnya mampu menjadi kebiasaan dan dilakukan secara kolektif dari generasi ke generasi. Maka hasilnya seharusnya akan lebih terasa.

Akar dari fenomena global warming adalah budaya konsumerisme. Mengatur pola konsumsi kita akan memberi pengaruh lebih pada keberlangsungan BUMI untuk anak cucu kita kelak.

Salam Lestari.


Referensi:

Earth System Research Laboratory of NOAA. 2015. Globally Averaged Marine Surface Monthly Mean Data, ftp://aftp.cmdl.noaa.gov/products/trends/co2/co2_mm_gl.txt (diakses 22 April 2015 pukul 22.15)

Ilustrasi Sampul: The People vs Carbon, www.climaterealityproject.org

Take Nothing But Pictures

Advertisements

12 thoughts on “Langkah Kita Menyelamatkan Bumi

    1. Itu dia kak win.. teman2 saya juga rata-rata keluhannya begitu jadi mereka beralih ke sepeda motor. Kalau saya justru berpikir kalau kita pakai transportasi publik, maka keuntungan yang diterima oleh pemerintah bisa dipakai untuk pengembangan kualitas transportasinya lagi. Kalau gak ada yang pakai khawatirnya begitu-begitu aja transportasi kita..

  1. Padahal saya sangat setuju setiap berangkat kerja memakai transportasi publik. Tapi sayang tidak terintegrasi satu sama lain, sehingga menyulitkan penumpang…

  2. Sepeda motor saya sudah istirahat sekian bulan, hehe.. *berarti saya ikut melestarikan bumi
    Saya juga lebih suka naik trans jakarta, walau kadang suka terlambat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s