Kuda Untuk Kerajaan

Kisah raja Richard, Jangan putus asa
Ilustrasi: anneahira.com

Pernah dengar kisah drama yang ditulis oleh Shakespeare? Dalam ceritanya di mana Raja Richard suatu ketika putus asa karena tak kunjung mendapatkan kuda yang tepat untuk berperang. Begitu putus asanya sang Raja sampai terucap sebuah kalimat yang amat terkenal: “horse, horse, my kingdom for a horse!” (Kuda, kuda, kerajaanku ditukar dengan kuda)

Sebenarnya hidup kita ini tidak jauh berbeda dengan cerita di atas. Kita adalah manusia-manusia dalam medan perang. Berusaha tiap detik untuk survive, menyambung nafas, menyambung hidup, bila sempat kita menyambung makna. Namun di saat kita putus asa, tenggelam dalam butir-butir nelangsa,  kita mungkin saja akan melakukan apa saja seperti yang dilakukan Raja Richard pada hartanya yang paling berharga. Mungkin saja kita akan menggadaikan harga diri, prinsip, idealisme, orang terkasih atau apapun yang berharga dalam hidup kita hanya untuk lepas dari rasa putus asa.

Menjadi sebuah alasan yang tepat mengapa Islam melarang kita untuk putus asa, jika kita manusia-manusia yang percaya (iman). Seperti yang tertulis dalam Q.S. Al Imran ayat 139:

“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah pula kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yg paling tinggi derajatnya, jika kamu orang-orang yang beriman”

Atau seperti firman Allah yang menceritakan perkataan Nabi Yaqub dalam Q.S. Yusuf ayat 87:

“Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya; dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah…”

Betapa Nabi Yaqub tak pernah menginginkan Yusuf–anaknya yang berharga–ditukar oleh rasa putus asa dan kesedihan.

Dan apa yang diucapkan Raja Richard bisa jadi karena sudah tiada lagi rasa percaya pada dirinya. Dan mungkin juga pada Tuhannya. Saat tak ada kemauan lagi untuk berpegang pada Tuhan, lantas ketika diri ini putus asa, kemana lagi kita berpegang? Jadilah kita seperti Raja Richard.

“A man who stands for nothing will fall for anything.” (Malik El Shabazz)

Aku pun pernah dalam kondisi seperti di atas, hampir tenggelam dalam lumpur yang menghisap badan, karena melepaskan apa yang menjadi prinsip dan idealisme dalam hidup, hanya untuk mendapatkan apa yang mungkin saja itu ego sesaat. Kalau saja tak ada Dia yang seolah menjadi batang pohon yang kuat untuk aku gapai. Bisa jadi sudah kurelakan badan kurus ini mati ditelan kubang lumpur.

Jangan pernah kau tukar yang paling berharga dalam hidupmu dengan sesuatu yang tak akan membuatmu “mati” kalau tidak mendapatkannya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s