Cerita Seorang Mantan Buruh – Bagian 1

Sebuah diary jadoel yang didigitalisasi.

BAGIAN 1

Masa-Masa Akhir di Sekolah

 

Juni 2010

Sudah beberapa bulan lamanya sejak aku melepaskan jabatan ketua pengurus sispala. Rasanya lega. Namun ada campuran gelisah, karena menyadari kami hanya mampu menyambung nafas organisasi ke penerus berikutnya. Dua prestasi dari ajang lomba panjat. Ah! itu sama sekali tak dihiraukan pihak sekolah. Kompak dengan orang tuaku yang tak mempedulikannya. Padahal piala kecil itu yang kuraih dengan susah payah dalam ke-istiqamah-an. Rasanya ingin kuambil kembali piala itu dari sekolah. Biar bisa kunikmati sendiri. Biar bisa kukenang-kenang lagi masa berapi-api. Biar aku bisa tersenyum saat gambar lama kembali terbentang dalam ingatan.

Mega CB kini mengemban tampuk pimpinan. Dialah yang terpilih dalam Mubes (Musyawarah Besar) itu menggantikan posisiku untuk periode setelah habis masa kami. Dan akan menyerahkan posisi itu kembali kepada angkatan yang ada di bawahnya, setelah masanya berakhir. Begitulah regenerasi kepemimpinan itu terus berlangsung. Memberikan kita harapan-harapan baru untuk berani melihat ke depan. Sekarang Mega harus benar-benar fokus. Sebab dengan jumlah laki-laki dalam angkatannya yang tak lebih dari 3 orang, dia harus berkerja  ekstra dalam merangkul adik-adiknya yang jumlahnya lebih banyak dari angkatannya. Paling tidak dari kerumunan anak-anak kelas yang baru saja masuk itu aku melihat sedikit titik cerah di sana.

***

Coba kembali menengok waktu menjelang akhir masa kelas duaku. Beberapa bulan ketika baru-baru aku menjabat ketua dari hasil Mubes Alas Pinus tahun 2008. Aku memutuskan tidak melanjutkan panjat dinding di FPTI Bekasi, minim apresiasi dari sekolah dan cara pandangnya yang sentimen terhadap Red Ant tetap sama, membuatku jengah. Asep dan Very, sudah terkena seleksi alam lebih dulu. Doni Akbar, sudah jelas dia akan mundur juga ketika melihat aku mundur. Meski dia berbakat, sebetulnya dia tidak tertarik pada panjat dinding yang melelahkan itu. Selama ini kami memang mengeluarkan usaha lebih untuk membuatnya bertahan di panjat tebing. Hanya ingin Cacing Batu melihat semangat Lembayung Senja untuk membangkitkan organisasi dan merubah image organisasi di mata sekolah. Walau sejujurnya kami lemah sekali dalam birokrasi dan segala urusan administrasi lainnya. Tapi untuk bidang kepetualangan, di lapangan kami bertekad dan harus bisa mendapatkan gelar juara itu. Kami ingin melihat Cacing Batu—yang waktu itu masih caang—terpacu untuk berbuat yang sama seperti yang kami lakukan. Agar mereka merasa bangga dan tak merasa salah memilih organisasi ini.

Sekarang hanya tinggal Cebong, satu-satunya anak kelas 1 yang tersisa di sana untuk melanjutkan perjuangan di ranah panjat. Apa semangatnya tetap sama? Aku khawatir dia akan ikut berhenti juga mengingat masa rekrutmen anggota baru masih lama. Kalau urusan daki mendaki itu bukan hal baru, kami punya banyak orang yang rela disasarkan 2-3 hari dalam hutan. Rafting agak terkendala jumlah personil, rasa malas karena jarak, dan jarang ada kompetisi membuat kegiatan ini hanya sesekali dilakukan. Tidak berprospek menurut anak-anak. Caving, masih begitu asing. Bang Guntur yang mencoba memperkenalkan ini pada anak Red Ant, terlihat seperti misi perluasan bidang kegiatan di organisasi kami. Belum banyak anggota aktif yang tertarik untuk masuk ke perut bumi. Merangkak lagi, merayap lagi, jalan jongkok lagi, kotor-kotoran lagi. Anggota aktif pasti akan mengatakan ini pendas terselubung. Tapi, demi masa depan Red Ant beberapa dari kami mencoba untuk ikut dan memang harus ikut sebetulnya.

Saat itu hanya Verry LS dan Adam LS yang pertama ikut masuk gua Cikarae di Citeureup  bersama bang Guntur. Aku tak tau apa bang Guntur pernah memberikan materi caving pada angkatan sebelumnya. Sejauh ini belum pernah kulihat foto-foto atau tulisan yang menunjukkan kalau Red Ant sebelumnya pernah ke sana. Karena itulah sebelum mereka berangkat, kuminta Verry agar mengambil foto sebanyak-banyaknya. Dan mencoba meneruskan pesan bang Mangay Cantigi: kalau sempat tuliskanlah. Tidak buruk, walaupun belum sempat menuliskan ceritanya, tapi Adam dan Verry mengambil banyak gambar untuk dinikmati anggota lainnya yang kemarin belum sempat ikut ke sana. Dan mulai saat itu, demi membuat nyata caving sebagai bagian kegiatan yang digeluti organisasi ini maka kami sepakat memilih Citeureup, desa Leuwi Karet, sebagai lokasi pendasnya anak kelas 1. Harapan kami semoga anak kelas 1 ini, yang nantinya bermetamorfosis menjadi Cacing Batu, akan lebih memahami caving, dan bisa meneruskan ke anggota berikutnya hingga mampu menjadikan caving sebagai bagian dari kegiatan rutin organisasi. Kalau dilihat memang belum banyak sispala di Bekasi yang menggeluti kegiatan caving. Esacapala SMUN yang prestasi di bidang panjatnya telah diakui saja baru sebatas pendakian. Marabunta UGB baru panjat dan pendakian juga. Kalau Red Ant bisa konsisten di kegiatan yang kompleks ini—karena belum ada ceritanya caving dilombakan—otomatis kegiatan caving di sini pasti lebih mengarah ke science dan sekolah paling suka hal ini (kami belum menyerah untuk “mengambil hati” pihak sekolah). Mengingat tingkat semangat dan cita-cita LS lebih tinggi daripada tingkat kecerdasannya, jadi foto-foto Verry, Adam dan bang Guntur itu mudah-mudahan saja bisa jadi pemantik. Selanjutnya generasi yang akan datanglah yang harus jadi bara yang menghidupi api semangat di bidang penelusuran gua, sebab dengar-dengar anak baru sekarang lebih pintar otaknya dari anak dulu. Kami sangat cinta organisasi ini kami tidak ingin hanya kehampaan dan kegelapan gua yang tersisa untuk generasi berikutnya, selain cahaya yang menerangi seisi gua tersebut. Terima kasih pada Arung Arus untuk jiwa yang berani dan Alas Pinus untuk perjuangan meneruskan estafet kepemimpinan. Kami mengingat dengan jelas.

Di bidang lingkungan hidup, sudah dikatakan sebelumnya bukan bahwa Lembayung Senja adalah anak-anak dengan semangat dan otot berlebih dengan tingkat kecerdasan hanya rata-rata. Termasuk aku, sebagian besar anak-anak lembayung senja duduk di jurusan IPS. IPS kalah pamor dengan IPA. IPS diisi dari anak-anak yang nilai mata pelajaran IPA di kelas duanya kecil. Kalau anak IPA nilai IPS-nya kecil dia akan tetap masuk IPA. Kalau anak IPS nilai IPA-nya kecil dan IPS-nya juga kecil dia tetap akan masuk IPS. Di SNMPTN nanti IPA bisa ambil jurusan IPS. IPS gak bisa ambil jurusan IPA kecuali dia ikut ujian IPC. What the hell is that!?

IPS hanya sekumpulan kaum Sosialis di mana mereka hidup dalam bayang-bayang IPA si saudara jauh yang angkuh. Anak IPS lebih akrab dengan Robert Owen si bapak Koperasi ketimbang Isaac Newton-nya anak IPA. Kehancuran Sosialis sudah di depan mata. Para orang tua kini lebih senang anaknya duduk di jurusan IPA. Guru-guru juga lebih sayang meninggalkan kelas IPA daripada kelas IPS yang murid-muridnya senang nongkrong, bersosialisasi di dalam kelas a.k.a berisik, bersifat dinamis: kadang di dalam kelas kadang di kantin sering juga ke toilet dan ciri terkuat anak IPS yakni jiwa kebersamaan mereka. Mereka bisa sangat iba kalau melihat teman di sebelah meja panik tidak bisa menyelesaikan soal ujian dan pasti setelah itu akan memberi jawaban. Kerja Sama tim. Kemampuan menyesuaikan di segala medan dan kondisi. Adaptation. Nilai kolektifitas telah mendarah daging.

“Oi! ada tugas dari pak Nganu kerjakan bab 1 dan 2, jangan pada ngerjain ya! Solid yak.. Solid yak! Oke Brow!”(Tawa bezat si pemberi info)

Satu hancur, hancur semua. Satu baik, baik semua. Satu berisik, berisik semua.  Satu jomblo, jomblo semua (yang ini hoax). Ketika itu model IPA dan IPS sangat kental dengan stratifikasi sosial bukannya diferensiasi sosial. Sungguh memuakkan.

Kembali ke lingkungan hidup, kami minim pengetahuan tentang ini, padahal sebagai pencinta alam harusnya mencintai alam secara kafah, jangan setengah-setengah. Tapi apa daya kami lebih suka action macam panjat, caving, rafting, naik gunung turun gunung, push-up (yang terakhir ini juga hoax) daripada membuat seminar lingkungan hidup yang penuh wacana dan tentunya menguras pikiran. Kenapa tidak tanam pohon saja waktu camping di gunung, atau memungut sampah sewaktu turun gunung, juga tidak membuang sampah sembarangan dan pasang poster-poster persuasif untuk #saveearth! di mading toh itu bentuk dari peduli kita juga pada lingkungan. Begitulah dengan naif kami berkilah.

Itulah kenyataan-kenyataan di lapangan. Sudah terlalu nyaman di gunung, begitu awam di gua, ketidakpastian di sungai, dan kerumitan berdiskusi tentang lingkungan akhirnya membuat Lembayung Senja mengembangkan diri pada bidang yang paling empuk: panjat dinding. Ya, panjat adalah bidang kegiatan paling empuk untuk dikuasai dalam tempo singkat, asal mau konsisten kuncinya. Sangat sesuai dan nampak realistis dengan kondisi saat itu yang kami menginginkan adanya sedikit pemicu atau gebrakan dalam rutinitas organisasi ini yang mulai membosankan dan tidak menggairahkan jiwa muda. Caranya ya harus sesegera mungkin memperoleh hasil dari apa yang kami latih selama ini sebelum masa SMA yang menyenangkan berakhir. Jangan sampai kena sindir bang Ben dalam serial si Doel Anak Sekolahan; “latihan mulu menang kagak.” Amit-amit jangan sampe! Ibarat orang jualan kalau gak ada yang beli bisa melempem, bukan dagangannya tapi semangatnya. Kami pun demikian, latihan terus tapi gak juara bisa melempem semangat kami.

Uniknya panjat dinding, kegiatan ini bisa jadi ajang memperoleh prestasi dalam waktu singkat dengan cara mengikuti kompetisi-kompetisi yang cukup sering diadakan, harus menang tentunya! Kalau mau lebih keren lagi, cobalah menuntaskan sebuah jalur di tebing alam atau menjadi pionirnya. Yang terakhir ini memang tidak bisa didapat dalam waktu singkat dan penghargaan atas prestasinya sangat jarang didapat dalam bentuk simbolik, melainkan pengakuan saja dari komunitas pencinta alam lainnya. Sekolah lebih senang cara yang pertama, begitulah yang dikatakan Wakasek melalui abang-abang senior.  Red Ant menjawab itu, 2 Piala dalam 2 kompetisi yang berdekatan. Satu olehku sendiri di Pagelaran 4 Dimensi Unisma kategori lead dan satu lagi oleh Doni di Circuit 3 Climbing FPTI kategori Speed. 2 Piala, 2 Kompetisi dan 2 Kategori harusnya bisa jadi pembuktian kepada sekolah bahwa kami serius ingin berubah. Kami bukan sekedar organisasi keras tukang bantah yang sering kelayapan dan tahan tidak makan. Tapi kami adalah organisasi yang juga mau berjuang meraih prestasi, yang konsisten dalam bidang kegiatannya.

Meski demikian, yang kami peroleh dari sekolah hanya segaris senyum Wakasek yang tidak ada manis-manisnya dipandang. Aku tak ada masalah dengan senyumannya. Aku juga tidak benar-benar khawatir dengan kondisi organisasi karena aku percaya pada kemampuan adik-adikku ini dan kenyataan bahwa Lembayung Senja teah mentransfer seluruh ilmu yang dimiliki pada mereka. Yang harusnya khawatir adalah pihak sekolah, karena dia betul-betul mencoba mematikan potensi siswa-siswanya yang paling berbakat sekaligus keren. Siswa Pencinta Alam. Buktinya setelah senyum palsu Wakasek di upacara senin itu, tiga anggota kami masih sempat masuk jadi bagian atlet yang mewakili Kabupaten Bekasi di Kejurda Jawa Barat. Sekolah tidak tau itu, mereka taunya biar tekor asal kesohor. Cuih!

“Pak, kami ingin dibuatkan papan panjat di sekolah supaya bisa sering latihan di sini dan anak-anak tidak perlu pulang malam lagi.” Tawarku pada kepsek.

“Buat apa? Kan ada papan di depan. Pakai saja yang sudah ada.” Jawab Kepsek serampangan.

“Iya pak! memang ada di depan. Tapi itu punya FPTI bukan punya kita, kami ingin punya wall kami sendiri. Kalau minjam saja kami bisa dapat piala apalagi bapak bangunkan satu di halaman sekolah ini. Pasti kami bisa melampaui SMUN.”

“Ah sudah kalian pakai dulu  yang ada di depan. Urusan lain-lain biar sekolah yang uruuus. Kamu latihan saja yang beneeeer.”

“Loh memang selama ini kami bercanda ya pak? Bercanda saja kami dapat piala ya pak. He he. he. Sekolah saja internasional tapi sarana olahraga internasional saja kita tidak punya!” Ejekku mencoba meniru yang diucapkan alumni.

Siang hari di teras GOR Tambun yang teduh, angin semilir membuatku mengantuk sesekali melihat ke atas wall menanti teman-teman selesai memasang angkur. Anak-anak paskib yang tengah latihan berbaris jadi selingan cuci mata. Lembayung Senja baru saja naik ke kelas tiga. Anak-anak Red Ant yang kelas tiga kini lebih sering menyampaikan teori di kelas daripada berlatih di lapangan. Itulah kenapa hari ini aku di sini hanya duduk melihat Cacing Batu menggantikan kami mengajarkan anak baru praktek panjat. Cacing Batu sudah punya anggota yang banyak, siapa yang meneruskan panjat? Siapa yang akan mengembangkan caving? Siapa pula yang akan membenahi sisanya? Begitu tanyaku dalam hati. Selagi merenung, dari kejauhan Azkar mendatangiku. Dia duduk tepat di sampingku. Tahun ini dia lebih kelihatan seperti teman daripada seorang pelatih panjat yang kekanakan.

Diberinya aku sebuah saran yang rada-rada licik kalau tidak bisa dibilang politik. Di antara anak baru Bonlap ada Ucup, adik bang Aziz sekaligus atlet muda FPTI. Aku manjat bersamanya saat ia masih kelas 2 SMP di Al-Muslim. Dia anak yang berbakat dalam olahraga panjat. Kalau tidak, dia tidak akan mungkin dilatih oleh bang Amri. Lantas apa hubungannya? Azkar bilang kepadaku bahwa aku harus memasukkannya sebagai anggota Red Ant. Supaya prestasi Red Ant di panjat tidak berhenti dan Ucup bisa menjadi aset Red Ant meski begitu dia juga masih aset FPTI. Setiap Ucup memenangi kompetisi dia akan tercatat sebagai atlet FPTI namun pialanya dapat diberikan ke sekolah. Sambil menyelam minum air katanya. Aku tidak mengiyakan juga tidak menolak saran. Kedengaran seperti mendompleng kekuatan. Kukatakan pada Azkar bahwa aku harus membicarakan ini terlebih dahulu dengan yang lain, maksudku dengan pengurus juga dengan anak-anak baru itu. Karena masa rekrutmen sudah lewat, anak-anak baru juga sudah melewati pengambilan nama rimba. Ia tak bisa ujug-ujug ada ditengah-tengah yang lainnya.

Hal yang lebih mengganggu pikiran, karena seingatku Ucup pernah mengatakan ia tidak akan masuk Red Ant karena tau sulitnya proses menjadi anggota. Dan memang ia memilih P-Cost saat masa orientasi. Kami tak mau mendapat anggota setengah hati, lebih baik yang lemah namun mau belajar bersama Red Ant daripada cerdas berbakat tapi hatinya tidak untuk Red Ant. Akan percuma, percuma untuk organisasi percuma juga untuk Ucup. Dalam rapat kecil dibawah pohon beringin, kami memutuskan untuk tidak meminta apapun dan melupakan cara ini. Masih ada cara lain untuk membuat Red Ant tetap konsisten dalam jalur prestasi.

Tapi  takdir siapa yang tau, anak-anak kelas 1 rupanya sudah tau kalau Ucup mau masuk Red Ant. Beberapa di antara mereka menyampaikan keinginan Ucup kepadaku. Kutanya pada mereka apa mereka bisa menerima ucup seperti saudara jika ia masuk belakangan. Mereka menjawab dengan nada afirmatif. Maka kukatakan pada anak-anak kelas satu itu, untuk menyuruh Ucup datang langsung kepadaku dan katakan keinginannnya untuk bergabung. Jika ia benar niat maka ia harus ikut pengambilan nama rimba dari awal. Dan dia harus mengejar materinya sendiri dari buku yang dipinjam. Akhirnya Ucup pun bergabung. Diberi nama Ireng oleh Cacing Batu. Aku sempat datang saat post to post-nya, hanya bertanya dan memastikan bahwa keikutsertaannya bukan dikarenakan paksaan Azkar maupun kakaknya. Ia jawab dengan cukup meyakinkan bahwa itu murni keinginannya. Aku? Hanya mencoba mempercayainya dan berdoa semoga dia tidak membohongi dirinya sendiri. Mungkin saja ini bisa jadi awal dari masa-masa jaya Red Ant di kemudian hari. Paling tidak dari kerumunan anak-anak kelas 1 itu aku melihat sedikit titik cerah di sana.

***

Bersambung ke bagian 2: Kehidupan Buruh Muda

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s