The Founding Fathers

Semasa kecil, ketika orang-orang disekitar menyanjung tinggi Ir. Soekarno. Entah mengapa aku tak demikian. Mereka bilang Soekarno itu karismatik, berani, pejuang, pembela rakyat, penyambung lidah rakyat. Tapi entah mengapa hatiku saat itu sama sekali tak tergugah mendengarnya. Aku hanya merasa ada yang kurang dari sosok Soekarno entah apa itu. Ketika proklamasi diperdengarkan pada perayaan hari kemerdekaan, ibu selalu berucap, “wibawa kali yah suaranya.” Tapi menurutku justru biasa saja, datar-datar saja. Ketika orang mengomentari ketampanan paras bapak bangsa ini, maaf, saya justru melihatnya mirip artis-artis Korea yang sedang jadi buah bibir akhir-akhir ini.

Tan Malaka di samping soekarno
Mendampingi Soekarno pada rapat besar di lapangan Ikada

Jujur saja aku memang sedikit sekali membaca biografi tentang Soekarno. Tapi percaya tidak percaya aku punya intuisi yang kuat kalau tidak bisa disebut firasat. Ada yang ganjil menurutku dari kehebatan Soekarno itu. Bagiku seharusnya bukan dia sosok pahlawan yang dijunjung tinggi. Revolusi Indonesia yang berapi-api tersebut haruslah orang yang luar biasa pribadinya, jika bukan sebagai pemimpin revolusi maka ia akan menjadi baranya api revolusi. Aku percaya Tuhan tidak pernah main-main memilih orang di balik kelahiran suatu bangsa. Sampai umur 18 tahun aku masih saja sangsi pada apa yang kudengar tentang the founding fathers of Indonesia. Juga mengenai tiga serangkai serta sanjungan-sanjungan tentangnya.

Tapi sekarang aku bisa lega. Ternyata intuisiku memang kuat dan firasatku memang terbukti. Ada sosok lain di balik Soekarno yang tak kalah hebat darinya. Bahkan kalau boleh egois, menurutku sosok ini tidak boleh disamakan dengan para founding fathers yang lainnya. Dia harus lebih tinggi karena dia seorang pahlawan sekaligus “pemberontak.” Orde Baru telah membuat namanya terkubur dalam-dalam dan pada waktu yang sama telah mengeraskan suaranya dari dalam kuburnya.

Namanya Tan Malaka

“Belajarlah dari Barat, tapi jangan jadi peniru Barat, melainkan jadilah murid dari Timur yang cerdas”
― Tan Malaka

Aku sangat tergelitik saat pertama kali mendengar namanya. Waktu itu aku yang baru saja lulus SMA terheran-heran, bagaimana mungkin seorang bapak bangsa Indonesia menggunakan nama sebuah tempat di luar batas teritorial Indonesia. Firasatku mengatakan pastilah orang ini bukan orang biasa. Membaca artikel-artikel biografinya yang sering dimuat oleh Antara dan Tempo akhirnya membawaku pada kenyataan bahwa Tan Malaka berasal dari golongan yang berada. Dia adalah orang yang menimba ilmu di Belanda. Tan Malaka adalah gelar adat Minang yang diturunkan kepadanya dari garis ibu yakni gelar Datuk Tan Malaka. Aslinya Ibrahim. Walaupun dia dari kalangan terhormat namun semasa hidupnya, perjuangannya hanya untuk membela kaum murba/proletar. Kaum-kaum pekerja dan tani. Kaum yang pada masanya tak pantas disekolahkan. Dia orang luar biasa yang membela rakyat biasa melalui cara perjuangan yang tak pernah bengkok hingga akhir hayatnya.

Aku juga lega, ternyata seorang bapak bangsa Indonesia adalah seorang yang aktif menulis dan gemar membaca. Dia juga aktif di organisasi internasional, menguasai banyak bahasa, dan menjadi buronan banyak polisi internasional saat itu. It sounds like he was a Superman. Namun walaupun ia seorang pribadi yang super, buku-bukunya selalu berisi tentang dorongan-dorongan perjuangan oleh rakyat banyak. Siapa sangka dia adalah orang balik layar yang mengorganisir rapat besar di lapangan Ikada pada 19 September 1945. Baginya revolusi adalah aksi massa. Tak hanya itu, buku-buku Tan ternyata telah menjadi acuan bagi Soekarno dan banyak pemuda lainnya dalam memperjuangkan revolusi Indonesia.

tan_malaka_a2091aa2
Ibrahim Gelar Datuk Sutan Malaka

Riwayat hidupnya yang penuh dengan pelarian-pelarian dan penyamaran untuk menghindari polisi internasional membuat sosoknya macam mitos. Bahkan pada masa itu banyak orang yang memalsukan sosoknya dengan mengaku-ngaku di depan rakyat sebagai Tan Malaka–layaknya seorang selebriti. Sampai-sampai Matu Mona terinspirasi untuk menuliskan kisah hidupnya dalam novel yang berjudul Patjar Merah Indonesia. Tapi kalau dilihat dari wajahnya sangat jauh dari wajah seorang selebriti. Menurutku wajah Tan sewaktu muda sangat kampung. Tipe-tipe wajah dari kampung asli Indonesia. Tapi justru di situlah titik karismatiknya Tan Malaka.

Aku lega dan senang akhirnya aku tau bapak bangsa Indonesia adalah orang yang sangat keren. Keren pemikirannya dan keren juga perjuangannya. Aku senang akhirnya bisa menemukan orang Indonesia yang bisa kupelajari pemikirannya dan kuteladani perbuatannya. Ketika rasa kagum ini hampir-hampir berubah menjadi sebuah fanatisme pada seorang tokoh, Tan, di setiap kalimat-kalimat dalam tulisannya seolah menasihatiku bahwa aku tak perlu memuja dan menyanjungnya begitu tinggi. Cukuplah meneruskan apa yang telah menjadi cita-citanya selama ia hidup–mengubah nasib bangsa. Menurut keluarganya, dirinya juga pernah hafiz Qur’an namun demikian ia tak pernah mau dibilang Muslim. “Ketika saya berdiri di depan Tuhan saya adalah seorang Muslim, tapi ketika saya berdiri di depan banyak orang saya bukan seorang Muslim. karena Tuhan mengatakan bahwa banyak iblis di antara banyak manusia!” Katanya dalam sebuah pidato di Kongres Komintern ke-4 tahun 1922. Hampir mirip dengan yang diucapkan Cak Nun kalau status keislaman seseorang itu hak prerogatif Allah SWT semata. Bertambah yakinlah keyakinanku bahwa Tuhan tak pernah main-main memilih orang di balik kelahiran suatu Bangsa.

Terima kasih Engkau pernah menghadirkan dia yang tulus dan tak pernah menuntut untuk disanjung dan dikenang. Superman is dead, sekarang  waktunya super team yang melanjutkan perjuangannya. Ini butir-butir kerinduanku pada sosok Bapak Republik Indonesia yang bersahaja.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s