Idealisme-Idealisme Yang Terbeli

Jika pohon terakhir telah ditebang;
Jika air sungai terakhir telah tercemar;
Jika ikan terakhir telah ditangkap;
Maka manusia akan sadar, bahwa manusia tidak dapat memakan uang.
— Pepatah Indian Kuno

Belakangan ini kita terus dibombardir oleh banyak berita kerusakan, satu di antaranya adalah asap dari pembakaran hutan yang disinyalir milik korporasi-korporasi kapital. Asap pembakaran yang tidak hanya merusak hutan tapi juga merusak (menghilangkan) jiwa manusia. Membuat emosi kita bercampur aduk tak karuan. Ada yang mengkritisi kinerja pemerintah, ada yang berbelasungkawa, ada yang turut menjadi relawan, pun ada yang menyinyir mahasiswa katanya hanya bisa demo. Dan tak ketinggalan para pengkritik mereka yang mengkritisi pemerintah. Miris rasanya menyaksikan di tengah krisis ini masih sempat-sempatnya mempermasalahkan tindakan yang satu dengan yang lain dalam merespon permasalahan yang terjadi. Bukankah masing-masing sudah sadar kapasitasnya. Bukankah setiap golongan punya caranya sendiri dalam menanggapi permasalahan. Ibu rumah tangga fulltime tidak mungkin berangkat ke Kalimantan untuk jadi relawan pemadam api. Siapa yang akan memasak makanan anak-anaknya di rumah? Apa pula perasaan suaminya nanti yang terus-menerus khawatir karena istri sedang berjuang di tengah bara.  Maka yang bisa dilakukan kalangan ibu rumah tangga hanya bersimpati pada korban atau prihatin pada lambannya sikap pemerintah. Semua sudah ada bagiannya. Jika punya tenaga bantulah dengan tenaga. Uang bantulah dengan uang. Punya massa bantulah dengan aksi massa. Jika tajam menulis, menulislah! Jika pandai propaganda, sebarkanlah! Seorang bijak pernah berkata bahwa perbedaan itu adalah rahmat.

Yang membuat miris lagi, kenyataan bahwa ada generasi penulis – generasi kelahiran ’90–’92 – yang turut serta dalam kegiatan korporasi-korporasi besar tersebut dalam membabat hutan negeri ini. Ada di antara generasi seangkatan yang turut berkontribusi membangun kebesaran korporasi-korporasi tersebut. Kalau sudah begini, kawan-kawan yang tergabung di dalamnya hanya bisa terdiam seribu kata. Membela korporasi tempatnya mendulang uang jelas tak mungkin, karena kegiatan eksploitasi tanpa batas itu menyalahi kelestarian lingkungan dan hati nurani. Berteriak mendukung  #saveearth apalagi, bisa-bisa dicap munafik karena lain di mulut lain di tindakan. Bicara kelestarian lingkungan, tapi pekerjaannya membuka hutan.

Yah sebagai pekerja, kita akhirnya hanya bisa terdiam. Itu adalah cara yang paling aman dan tentram menghadapi kerusakan lingkungan yang menyeret kita juga pada krisis moral dan sosial. Mengapa? Sebab pada saat inilah kita berjumpa pada titik dilematis — pada cita-cita silam dan apa yang kita telah capai hari ini. Sejak sekolah, kita mungkin pernah memilki cita-cita yang tinggi. Seorang teman pernah bercita-cita menjadi wirausahawan agar bisa membuka lapangan kerja bagi jutaan pengangguran di negara ini. Ada lagi yang ingin tergabung dalam salah satu perusahaan besar karena besarnya nama dan karir pekerjanya yang terjamin. Dan yang termulia dari semuanya adalah bercita-cita menjadi seorang yang berguna bagi sesamanya. Semua anak pada masa itu punya cita-cita yang luar bisa muluk. Luar biasa idealis.

Sampai akhirnya waktu membenturkan cita-cita itu pada bermacam-macam godaan, tekanan, dan tuntutan kehidupan. Kelompok pertama dari kita lebih dahulu berdamai pada realitas. Pada kondisi ekonomi yang kian hari makin sulit; anjuran orang tua untuk hidup senang dan enak; serta godaan prestise dalam pergaulan. Kelompok ini menghalalkan suap sejak awal masuk perguruan tinggi/akademi dan tentu akan merelakan idealismenya dibeli oleh penguasa modal. Idealisme mereka dihargai seharga bangku manajer atau pengawas lapangan. Kelompok kedua dari kita masih mendengarkan hati nuraninya, namun terlalu ringkih untuk meghadapi kerasnya kehidupan. Mereka terlanjur pasrah bekerja untuk kaum kapitalis. Meski tak sungguh-sungguh bersedia dibeli, idealismenya dikemas rapi di dalam gudang yang kini telah berdebu dan usang. Hanya segelintir dari kita, yakni kelompok ketiga, selalu setia pada cita-citanya yang tertinggi. Mereka ini enggan menjual idealismenya pada korporasi yang tidak sejalan dengannya. Apalagi korporasi yang jelas hanya mencari keuntungan pribadi semata. Mereka akan bersuara mempertahankan cita-cita itu bahkan jika perlu melawan dengan segala daya upaya yang mereka miliki walau sejujurnya cuma idealisme itulah modal satu-satunya yang mereka punya. Namun begitu mereka tetap berdiri di atas kakinya sendiri. Kelompok ketiga tak pernah tergoda dengan kemewahan hidup, silaunya harta benda, dan kewibawaan artifisial dari gelar berderet. Cita-cita mereka selau membisikkan agar lebih baik makan sedikit daripada menghamba pada kerakusan penguasa modal.

Cita-cita yang dahulu ingin mempekerjakan para pengangguran pun pergi entah ke mana. Pun demikian bagi kita yang ingin menjadi seorang berguna. Alih-alih, kita justru ambil bagian dalam menyusahkan kehidupan jutaan warga yang menghirup udara bercampur asap. Kita tak sempat lagi membangun idealisme yang telah hilang dalam pekat asap karena rutinitas kerja telah menyita hampir separuh waktu. Karena tuntutan (gengsi?) hidup menjadi dalih yang ampuh untuk berpaling dari cita-cita semula, untuk berpaling dari menjaga lingkungan, untuk berpaling dari peduli sesama.

Kalimat di awal tulisan ini adalah sebuah bentuk keyakinan yang digunakan oleh sekelompok sadar lingkungan untuk menjaga apa yang menjadi sumber kehidupan kita di muka bumi. Kiranya prinsip itu juga yang akhirnya membentuk sebuah pandangan hidup. Pandangan yang selalu membatasi dalam segala hal yang dikonsumsi setiap harinya. Apakah ini perlu? Apakah ini butuh? Apakah ini harus? Akan selalu dipertanyakan nilai guna dan manfaatnya. Bukankah kebebasan telah menjadi fitrah bagi manusia? Kalau iya, maka batasanlah yang harusnya kita perjuangkan.

“Adapun orang yang melampui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggalnya.” (an-Nazi’aat: 37-39)

Mereka percaya bahwa sedikit saja bergeser dari jalur yang ditetapkan maka kebinasaan yang akan dihadapi. Akhirnya, pada mereka yang bersetia dengan kata hatinyalah kita menaruh harap.

***

Depok, 28 Oktober 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s