Tigapagi, Anti Sosial dan Makna-Makna yang Mendangkal

Menjelang pukul 03.00 saat mulai menulis. Kuputar sebuah lagu dari album Roekmana’s Repertoire-nya Tigapagi. Jauh lebih syahdu mendengar Banda Neira sebetulnya daripada lagu yang sedang akan kuputar ini. Jujur saya masih sering kesulitan memahami musik Tigapagi, namun “cerita” di baliknya berhasil membuat saya terpesona pada tembang pertama.

—ℑ—

T igapagi adalah akhir dari malam sekaligus awal dari pagi—hari yang baru—kondisi tergelap untuk menuju sebuah awal yang terang. Di antara awal dan akhir waktu, Tigapagi menempatkan diri mereka. Bagi Tigapagi hidup adalah sebuah garis: “life is not a circle, but life is just a simple line, and the line is an empty space between the start and the end.” Maka jangan coba-coba mendengarkan album Roekmana’s Repertoire di saat sedang sibuk dengan segala rutinitas kehidupan. Karena Roekmana’s Repertoire adalah cerita kehidupan itu sendiri. Mulai dari Alang-Alang sampai Tertidur, kita akan mendengarkan musik yang sambung menyambung, bila mencerna liriknya dengan seksama barulah kita akan mengerti bahwa Roekmana’s Repertoire memanglah sebuah cerita kehidupan. Jika kita berhenti sejenak saja untuk melakukan hal-hal lain, maka Roekmana akan melangkah pergi dan menghilang. Musiknya akan menunjukkan bagaimana kita harus senantiasa berjalan di atas kehidupan yang sudah digariskan. Bahkan bagi mereka yang percaya pada siklus kehidupan pun, Roekmana akan menjelma menjadi apa yang mereka inginkan. Coba dengarkanlah Tertidur, di bagian akhir darinya samar kamu dengar canda anak-anak yang terdengar di awal Alang-Alang. Seolah ia kembali ke dalam bentuk siklus kehidupan.

Bukan kebetulan nampaknya di antara buku-buku kiri yang sedang kubaca ini, G30S adalah peristiwa sejarah yang coba Tigapagi representasikan dalam desain dekorasi album perdananya. Dan peluncuran album ini tepat pada 30 September menjadi catatan yang tak terelakkan. Melalui Roekmana’s Repertoir, saya mencoba membunuh waktu dari rutinitas yang semakin hari semakin mengubur makna kehidupan, kiranya begitulah yang dialami Sigit, sang vokalis. Membuatnya mengajak kita kembali melakukan pencarian-pencarian akan makna dan esensi.

Mungkin pembaca mulai bingung ke mana arah saya berbicara karena memang ini iseng saja. Tak ada hal bisa saya kerjakan di pukul tiga pagi ini. Menjadi pengangguran adalah hal yang paling menyebalkan dalam hidup. Selain merusak otak, lambat laun kurasakan badan makin terkikis karenanya. Kemarin beratku masih konsisten di angka kramat 45. Namun hari ini sudah turun menjadi 42, Tahun di mana seorang Tan Malaka kembali ke Bayah dan meyaksikan ribuan tubuh romusa mati karena “diperas” isi tubuhnya. Tentu saya tak berharap berakhir demikian. Saat melamun tak tentu arah inilah, saya kembali teringat masa silam.

Tigapagi Album

Kuambil garis waktu Roekmana yang masih mendayu-dayu di telinga. Kuseret jari ke arah kiri garis, arah yang kudefinisikan sebagai awal dari cerita. Lalu berhenti tepat pada tahun pertama saya duduk di bangku sekolah arsitektur. Seorang ibu dosen yang mengajar di mata kuliah perancangan tengah memberi wejangan-wejangan pada mahasiswanya sebelum mengakhiri ujian semester pertama. Beliau berkata:

“Jangan seperti orang ‘idiot.’ Berjalan sambil memegang hape. Nunduuuuk terus kepalanya. Emang gak takut kesandung ya mba? Gak di kelas, di kantin, di kereta, di kamar mandi. Tangannya gak pernah lepas dari hape. Jangan begitu yah! Nanti kita jadi antisosial, gak peduli sama orang lain mau gimana keadaannya. Dosen lewat di lorong gak mau nyapa, masih asyik sama hapenya. Jempolnya ituu … Daripada begitu mending kalian banyak baca buku. Supaya pikiran kalian terbuka. Wawasan kalian gak segitu-gitu aja. Yah, nak!”

Pada akhir sesi wejangan tadinya saya ingin bertanya, tapi gerak lidah kalah cepat dengan hati yang mudah tersayat. Sial betul. Padahal kalau tidak saya sudah jadi seperti Tan yang mendebat Sukarno di Bayah. Tapi bayangan sok keren itu sirna karena hatiku yang sempit dan mudah tersinggung, payah, kalau para pendebat di medsos itu tau, saya pasti sudah dibuli sebagai anggota generasi micin.

“Ibu, apa hubungannya sih anti sosial dengan handphone (teknologi) yang saya pegang? Kenapa pula hape saya harus diganti dengan buku? Apa dengan membaca buku kita jadi lebih baik dari tukang gulung layar? Atau yang lebih hebat lagi, kita bisa jadi seorang sosialis?”

Karena tidak ada jawaban—karena memang saya tidak bertanya padanya—maka saya langsung sambung saja dengan memberi penilaian awal bahwa ibu ini jarang membaca buku, atau ibu dosenku yang cantik bukan seorang pecandu buku. Kalau ibu naik pitam (karena memang tipikal yang cepat naik pitam, maklum didikan tentara) saya sudah siapkan jawaban: Ibu terima atau tidak saya tetap enjoy.

Pertama,

Saya termasuk manusia yang senang membaca buku. Banyak teman heran kenapa tas saya begitu berat kalau berangkat ke kampus. Isinya buku-buku untuk dibaca. Dibaca di mana? Di sela-sela waktu yang memungkinkan untuk diisi dengan membaca buku tersebut. Pulang pergi naik kereta. Dua sampai tiga jam perjalanan. Sedih hati saya kalau setiap hari melihat lingkungan kumuh di pinggir rel yang tak pernah berubah, ditambah kenyataan bahwa saya belum bisa berbuat apa-apa untuk mereka. Untuk mengalihkan kesedihan itulah saya sering membuka buku di kereta. Mengapa tidak memilih berbincang dengan orang di sebelah? Nanti saya jelaskan di ronde kedua. Saat membaca, kadang mata saya harus beristirahat beberapa detik agar tidak cepat lelah. Menengok ke kanan dan kiri saja itu sudah cukup. Dalam satu tengokan pertama saya lihat beberapa muda-mudi sedang asyik dengan gawainya. Pada tengokan kedua terlihat lagi beberapa tua sedang asyik dengan gawainya. Pada tengokan ketiga beberapa ibu ternyata juga sibuk dengan gawainya.

“Kenapa sih mereka ini?” Aku memprotes dalam hati. Lalu lanjut membatin.

“Kenapa sih gak baca buku aja? Kan bisa nambah wawasan mereka. Atau ngobrol kek, basa-basi kek. Ansos banget kepala ditundukin semua. Kaya orang ‘idiot!'” Sampai sini persislah pandanganku dengan ibu dosen.

Kemudian saya kembali menundukkan kepala lalu kembali asyik dengan alur cerita dalam buku.

Tahan dulu!

Ada yang salahkah sadulur-sadulur?

Yak, anda cerdas! Apa bedanya diri ini dengan para penggulung layar di sekitar? Sama-sama nunduk; sama-sama gak peduli kanan kiri; sama-sama asyik dengan mainan sendiri. Sialnya, waktu saya mencoba untuk meng-kepo salah dua, tiga, dan empat penumpang yang tengah menggulung layar, ternyata mereka sedang membaca loh! Ada yang baca Detik, Kompas, e-Book, Qur’an, dll. Nah! Ini hipotesis yang pertama bahwa yang memegang buku dan yang memegang hape adalah sama idiotnya, sama anti sosialnya!

Kedua,

Mari kita mulai mencari tahu sedikit seluk-beluk mengenai ranah sosial yakni ruang publik. Dalam arsitektur, kita akan mendapati dua terma dalam lingkungan sosial kita. Pertama yaitu Public Space dan yang kedua adalah Public Place. Public space adalah sebuah ruang yang digunakan secara bersama/kolektif untuk mewadahi aktivitas-aktivitas masyarakat. Dalam public space tidak dimungkinkan adanya interaksi sosial antara yang satu dengan yang lainnya. Kesadaran akan privasi, secara otomatis akan menciptakan jarak antara orang-orang yang tengah beraktivitas dalam lingkungan yang sama. Contoh: Saat sedang asyik duduk di taman kita pasti akan risih jika ada orang asing yang duduk persis menempel di samping kita, kemudian kita akan menjauh mengambil jarak privasi dengan sendirinya. Siapa dikau, daku tak mengenal.

Jadi, public space memungkinkan daya tampung aktivitas yang banyak tapi tidak mewadahi interaksi sosial yang intim. Tujuan public space bukan untuk agar warga yang bernama Parjo bisa berkenalan dengan si Mutmainah. Lalu pacaran kemudian menikah dan berbaur dalam masyarakat sosial. Sekali-kali tidak. Melainkan agar tiap-tiap aktivitas yang beragam itu dapat ditampung dalam sebuah wadah yang digunakan bersama oleh kelompok siapa saja dan kapan saja. Bentuk public space itu antara lain yaitu jalan, trotoar, taman, kereta api, angkutan umum, dsb.

Sumber: 9gag.com
Sumber: 9gag.com

Public place adalah sebuah lingkungan binaan yang berfungsi untuk menjalankan aktivitas-aktivitas kelompok masyarakat tertentu. Ciri paling kuat yang membedakannya dengan public space biasanya ada norma-norma spesifik yang diciptakan dan dipatuhi bersama oleh komunitas masyarakat yang memiliki dan mengatur ruang tersebut. Penggunaannya dapat digunakan oleh kelompok masyarakat lain asalkan ada pembagian waktu yang tepat. Contoh: sebuah lapangan untuk menjemur ikan asin pada daerah pesisir. Lapangan ini hanya digunakan untuk mereka-mereka komunitas para nelayan. Dan biasanya interaksi mereka sangat intim antara nelayan satu dengan yang lain. Lapangan tidak diperuntukkan untuk aktivitas lain dan kelompok masyarakat lain selain nelayan itu sendiri. Kecuali jika lapangan tersebut sedang tidak dipakai dan terlebih dahulu dirundingkan bersama pembagian waktunya maka lapangan bisa beralih fungsi untuk aktivitas kelompok yang lain misalnya klub sepak bola yang ingin berlatih, dengan waktu yang sudah ditentukan masa pakainya. Bentuk public place lainnya adalah ruang kelas, stadion, pasar, masjid, balai kota, pos siskamling RT1, RT2, RT3, dst.

***

Jadi nyatalah bahwa ruang publik sering disalahartikan dan dimaknai dangkal sebagai wadah untuk bersosialisasi. Padahal tidak semua ruang publik mewajibkan penggunanya untuk bersosialisasi dalam bentuk interaksi sosial yang intim antar sesama pengguna. Justru sebaliknya sebuah public space mewadahi privasi masing-masing anggotanya. Dan privasi itu adalah hal yang manusiawi melekat pada diri manusia. Nyata pula tak ada sangkut pautnya penggunaan teknologi itu dalam menciptakan budaya anti sosial dan bahwa buku akan lebih baik dari itu.

Kereta dalam hal ini merupakan public space yang mewadahi privasi penggunanya. Jadi tak bisa disebut “idiot,” pengguna public space yang tak mau bercakap-cakap dengan orang di sebelahnya. Dan jangan disalahkan pula gawai itu sebagai biang keladinya. Toh yang membaca buku sama saja sikapnya dengan si pengguna gawai. Sama-sama privat. Jika kita melihat secara kritis gawai itu sebenarnya adalah juga buku yang mengalami perkembangan fungsi dan transformasi bentuk. Orang di kereta tetap membaca buku hanya medianya saja yang berubah dan fungsinya yang bertambah.

Jadi ibu, menurut saya sebaiknya jangan disamaratakan tempat itu sebagai tempat para “idiot” menggunakan teknologi. Harus dipilah dulu mana public space mana public place. Saya akan sepakat jika lorong kampus dan studio perancangan itu sebaiknya tidak digunakan bermain gawai atau hal lain yang tidak kontekstual sampai lupa bertegur sapa dan ramah tamah hingga timbul benih anti sosial pada sesama civitas akademik. Karena memang sifatnya yang public place. Tapi saya jadi tidak setuju kalau pengguna kereta, jalan, kantin juga dikatakan anti sosial dan “idiot” hanya karena membaca buku pada media yang lebih hi-tech. Demikian penjelasannya bu dosen. Mohon dimaafkan kalau ada salah-salah kata. Saya memang masih belajar dan kita semua sama-sama belajar. Yang terpenting jangan pernah berhenti belajar kan? Jangan mau disebut mantan murid tapi harus legowo kalau sudah jadi mantan guru. Bersyukur pula ini tak pernah tersampaikan. Kalau tidak, ini hanya menjadi debat yang tidak perlu dan masing-masing hanya akan semakin berpegang kuat pada argumennya.

Advertisements

7 thoughts on “Tigapagi, Anti Sosial dan Makna-Makna yang Mendangkal

  1. Btw bagaimana ceritanya kamu bisa suka dengan sesuatu yang bukan pop? Roekmana’s Reprtoir insetad of Jkt 48, Tan Malaka instead oh Ki Hajar Dewantoro? Aku menemukan keunikan di diri orang-orang sepertimu. Maksudku, bagaimana bisa?

        1. Wah, mencoba mengenal kiri pun baru kemarin ini. Pun menulis aku baru mulai, bang. Rasanya belum kepikiran menulis fiksi. Mungkin nanti.. 🙂
          Kenapa gak baca tetralogi buru karya Pramoedya aja bang? Nuansa marxist begitu kental. Beliau menuliskannya dengan sangat baik. Tulisannya seperti warisan bagi anak semua bangsa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s