Tentang Ibu Bumi dan Perjuangan Petani Kendeng

Dalam bahasa Arab, kata “bumi” (أَرْضٌ), digolongkan ke dalam kata berjenis kelamin perempuan (مُؤَنَّثْ). Tidak jauh beda dengan orang Indonesia yang sejak dulu mengenal istilah semacam Ibu Pertiwi, sebagai personifikasi tanah air Indonesia.

Pertiwi (Sanskerta: pṛthvī) diserap dari Hindu, adalah Dewi atau Ibu Bumi. Masuk ke Indonesia sejak periode Hindu-Buddha menjadi Dewi Pertiwi atau Dewi Bumi. Iya, manusia dahulu hingga sekarang mengibaratkan bumi seperti ibu yang memberi tanpa pamrih. Ibu yang menghidupi, yang menyusui, yang menyayangi.

Sedangkan kata “langit” (dyaus pita) adalah lawan kata dari bumi. Dalam Regweda-nya Hindu, langit diartikan sebagai Bapak Angkasa, Dewa Langit. Seperti Islam menyebutkan bahwa Allah menciptakan segala sesuatunya berpasang-pasangan. Maka Ibu Bumi (pṛthvī) bisa jadi pasanganya adalah Bapak Langit (dyaus pita).

وَمِنْ كُلِّ شَيْءٍ خَلَقْنَا زَوْجَيْنِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah.” (QS. Adz Dzariyat: 59)

Adapun bulan (قَمَر) yang ada di langit bumi ini, termasuk kata berjenis kelamin laki-laki (مُذَكَّر). Apa mungkin karena perilakunya seperti seorang bapak yang pergi mencari nafkah sepanjang hari dan baru nampak lagi wajahnya yang terang bersinar saat pulang disambut ibu menjelang maghrib?

Jadi ada baiknya pula, kita mengenal kembali bumi ini. Setelah kenal maka kita jadi sayang, setelah sayang maka kita jaga dan rawat ia seperti ibu menjelang usia tuanya. Setelah semua keseruan rutinitas dan kerenyahan menaiki tangga status sosial membuat kita lupa.

Kata peribahasa tak kenal maka tak sayang. Maka pelajarilah sifat dan perangainya Ibu Bumi itu supaya terhindar kita dari amarahnya. Konon, doa ibu yang kuciwa—merujuk pada Presiden Jokowi, beliau bilang kuciwa ini tingkatannya di atas kata kecewa—bisa membuat seorang Malin jadi sebongkah batu. Supir yang suka menulis kata “doa ibu” di belakang mubil angkutnya paham betul soal ini.

Dan perjuangan petani-petani Kendeng hari ini, seolah mengingatkan umat manusia di Indonesia pada bumi kita yang mulai terlupakan atau sengaja dilupakan? Kalian yang pernah ikut serta dalam aksi penolakan petani terhadap ekspansi perusahaan semen pasti sering melihat kata ‘Ibu Bumi’ ini dalam setiap poster-poster perjuangan mereka. Sebuah pesan, kepada kita untuk kembali. Kembali ke pelukan ibu yang sedang disakiti atau maju terus dengan persepsi sendiri demi ilusi kemajuan dalam pembangunan infrastruktur.

***


Foto Header: capture Video Dokumenter “Samin vs Semen”  produksi watchdoc.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s