Peralatan Pendakian yang Esensial Untuk Pendaki Pemula

Mau naik gunung? Belum pernah melakukan aktivitas ini sebelumnya?

Pas banget!

 

K ali ini saya mau sharing mengenai peralatan apa sih sebenarnya yang perlu kita bawa saat mendaki. Pengalaman saya selama ini banyak pemula yang membawa peralatan yang sebetulnya tidak perlu-perlu amat dibawa. Sehingga kadang nampak berlebihan dan cenderung njlimet. Sebaliknya, ada pula yang masih memandang sepele sehingga yang harusnya pendakian itu menyenangkan malah jadi memusingkan karena alat yang diperlukan tidak standard atau justru tidak dibawa sama sekali.

Kita ambil contoh yang dilebih-lebihkan itu seperti penggunaan tas tambahan. Entah itu dipakai di paha, pinggang, dan kebanyakan dikalungkan ke leher sehingga waktu mendaki tas itu menggantung di dada. Isinya paling cuma berkas-berkas, obat-obatan, permen atau “remah-remah” lainnya yang dirasa perlu dibuat terpisah dari ransel utama. Bahkan kebanyakan penggunaan dari tas tambahan ini tidak direncanakan, hanya karena barang printilan kurang diperhatikan akhirnya tertinggal waktu packing. Sadar ransel utamanya sudah terlanjur penuh, akhirnya ambil praktis dengan mencari tas tambahan untuk perlengkapan yang belum masuk ini.

Padahal sebetulnya bisa saja semua perlengkapan masuk ke dalam satu wadah, dan kalau mendadak dibutuhkan bisa kita akses dengan cepat—asal kita packing dengan tepat. Pergerakan kita akan jadi lebih leluasa tanpa harus dibatasi tas-tas yang dipakai dengan cara tidak semestinya. Itu sedikit contoh.

***

Untuk memudahkan, lis di bawah ini saya buat dalam 2 bagian, kelompok dan pribadi, dengan asumsi pendakian ke Gunung Gede, Jawa Barat. Gunung yang menurut saya tingkat kesulitannya berada pada level basic. Mengingat gunung ini sering dipakai pendaki-pendaki berpengalaman seperti Mahitala Unpar, Wanadri, dan lain-lain untuk pemanasan sebelum melakukan ekspedisi mereka ke Himalaya.

Perbedaan cuaca dan bentangan alam di masing-masing gunung pasti ada. Karenanya mungkin lis ini akan menjadi tidak relevan lagi jika dipakai sebagai referensi untuk mendaki puncak Nemangkawi (Carstensz Pyramid) di Papua yang memiliki gletser dan tebing. Tapi tak masalah, sebagian besar gunung di Indonesia masih mirip kok dengan gunung Gede ini. Jadi ini untuk permulaan saja, kalau kamu mengikuti ini minimal pasti sudah standard tinggal nanti ditambah atau dikurangi saja berdasarkan spesifikasi unik gunung yang mau didaki.

Peralatan Kelompok

1. Tenda Dome

WhatsApp Image 2017-08-13 at 20.08.45
Photo: Nur Rochmad

Dome berarti kubah, ciri khas dari bentuk tenda ini yang memang seperti Igloo di daerah kutub. Bentuk kubah dipakai bukan asal untuk menarik perhatian pembeli, tapi bentuk ini akan membuatnya tahan dari terpaan angin. Ketika hujan, air tidak akan sempat lama menggenang namun akan langsung terpeleset ke tanah.

Kemudahan dalam memasang komponen-komponen tenda dome ditambah packingnya yang compact di dalam ransel membuat saya sangat menganjurkan kamu yang pemula mesti, mesti, mesti banget bawa tenda ini. Jangan diganti pakai yang lain.

Credit: Rei.com

Kalau tenda prisma, bang?

Demi bivak ponco saya katakan tinggalkan jenis tenda itu. Tenda prisma biasa dipakai untuk mengakomodir kelompok pendaki yang beranggotakan cukup banyak. Dan hanya kelompok pencinta alam lawas yang masih menggunakannya di luar pendidikan dasar. Tujuannya bermacam-macam, salah satunya untuk menjaga rasa kebersamaan karena bisa berkumpul dalam satu tenda. Tapi pengalaman saya, tujuan itu tidak pernah sampai, sebab banyak juga yang akhirnya terbangun dan pindah ke tenda dome, menyelamatkan diri dari dinginnya hawa gunung yang mudah memasuki tenda prisma. Apalagi ukurannya yang besar memakan seperempat dari ruang ransel.  Bobotnya yang berat akan menguras tenaga yang membawa. Memasang dan membongkarnya pun memakan waktu. Jadi tak ada alasan bagi pendaki pemula untuk tidak membawa tenda dome.

Harga tenda dome terbilang mahal. Ini adalah alat termahal dalam lis peralatan gunung. Jadi bila belum bisa membeli, berusahalah untuk pinjam kepada temanmu yang hobi mendaki, dia akan dengan senang hati meminjamkan tendanya kepadamu ketimbang berkarat karena kelamaan di lemari. Dan nanti bila kelompok kalian sudah siap membeli tenda untuk kelompok kalian sendiri. Kalian akan mendapati banyak jenis tenda dome, dari mulai tenda dum-duman sampai tenda dome beneran. Pastikan kalian membeli yang beneran.

2. Kompor Kotak

kompor-kotak
dhgate.com

Tadinya mau pakai istilah portable, tapi takutnya tertukar dengan kompor portable yang dipakai emak-emak. Istilah yang populer di kalangan pendaki itu kompor lapangan dan kompor kotak. Dan Trangia itu merk. Oke gak penting. Intinya kalau kamu googling kompor lapangan, gambar yang muncul akan bercampur antara kompor kotak dengan kompor DIY kalengan. Tapi kalau googling dengan istilah kompor kotak, gambar yang muncul, yaa … kompor kotak.

Ehlaah.. penting banget ini istilah yak? Penting gak penting sih, cuma saya berharap kamu gak ngalamin kejadian macam yang saya alami waktu ke toko outdoor mau beli aksesori yang lagi ngepop waktu itu. BUFF!

“Mbak mau beli Buff.”

“Buff? Ruff kali mas?” Nyengir ngenye.

*krik-krik-krik*

“Eh iya, Ruff.. apalah. Ada gak mbak?”

Karena gak cocok dengan warnanya. Saya cari ke toko lain.

“Mas mau beli Ruff dong.”

“Ruff? Buff kali mas?” Nyengir ngenye.

*narik-napas*

“Ruff, Buff, lap, serah dah pokoknya buat muka.” ujar saya sedikit kesel.

Padahal Ruff dan Buff itu merek, yang bener itu multifunction headwear atau masker multifungsi. Jadi yang jual sama yang beli sama-sama koplak sebenernya. Okeh cukup.

Jadi saya pakai istilah kompor kotak saja. Kompor sejuta umat kecuali emak-emak. Legenda tapi bukan motor. Tanpa merek tapi bukan selundupan. Jadi maaf kalau kalian termasuk yang fanatik merek ya. Memang ada kompor kotak yang dimerekin. Tapi kinerjanya sama aja.

Kompor kotak gak bisa diganti pakai yang lain kecuali Trangia. *krik-krik* Tapi nanti saya tunjukin kelemahan antara dua alat ini. Pertimbangannya apa? Masih soal keandalan dan kemudahan packingnya. Kompor kotak memiliki nyala api yang cukup baik untuk mendidihkan air dalam kondisi udara yang dingin sekalipun. Kamu gak perlu khawatir, karena sudah teruji untuk memasak nasi, kompor ini sanggup menangani. Biasanya kalau masak nasi jadi, memasak yang lain pasti jadi juga.

Trangia.se

Kompor kotak juga cukup tahan banting. Paling tidak, dalam 7 Tahun sudah 5 kali mendaki saya gunakan kompor ini. Masih awet tanpa ada masalah sedikitpun asalkan kamu merawatnya dengan baik. Iya, ini yang paling saya suka dari kompor kotak: perawatannya. Cukup di lap dengan kanebo basah lalu angin-anginkan maka kompor kotakmu cakep lagi.

Urusan packing, sebetulnya kalau kompor kotaknya saja, ukurannya udah compact. Jangan lupa, ketika saya katakan kompor kotak maka itu sudah sepaket dengan gas dan korek  gas ya. Yap! Kelemahan dari kompor ini adalah kita masih perlu bawa gas hi-cook, bila dalam satu kelompok yang terdiri dari 5-6 orang maka perlu 2-4 gas. Dan korek gas biasanya untuk jaga-jaga kalau pemantiknya tidak berfungsi. Hanya dua itu setahu saya.

Credit: sinrumbo.gt

Bila datang angin kencang pendaki bisa mengakalinya dengan memasak di dalam vestibule tenda. Atau, menggunakan varian lain dari pengembangan kompor kotak yang sudah dilengkapi oleh penahan angin.

Repot yak? Pakai Trangia aja makanya, cukup bawa bahan bakar spiritusnya sebotol sama koreknya. Tapi kelemahannya satu: MAHAL!

Jangan bilang kamu mau pakai kompor parafin. Kamu gak mau kan dibilang siswa yang lagi pendidikan dasar pencinta alam? Apalagi pemakaian parafin meninggalkan bekas hitam di nesting. Cukup sulit membersihkannya.

3. Nesting

amazon.com

Harus bawa nestinglah! Kecuali kamu pake Trangia. *krik lagi*

Gimana ceritanya bawa kompor kotak tapi ga bawa wajan, ketel, panci dan lain-lain untuk ngolah masakan? Tumplekin gitu ke kompor? Perlu ke klinik kamu. Dan jawaban dari segala perlengkapan masak-memasak ini adalah nesting. Persis seperti halnya jawaban dia atas penantian kamu selama ini. … Iya, iya.

Bentuknya emang udah dirancang semacam rantang yang saling mengisi. Jamin gak bakal ribet mekingnya. Bahkan, nesting nampaknya akan mulai jadi peralatan lawas seiring berkembangnya produk baru yang disebut cooking set. Desainnya lebih cantik, ukurannya lebih ramping. Warnanya IGers bingits. Harganya terjangkau. Kumplitlah. #SaveNesting

Yang pakai Trangia semuanya udah include dah.

4. Tali Temali

Ini 2017, tapi tolong jangan remehin tali rapia! Dia bisa jadi gesper dadakan kalau gespermu putus. Berasa lagi ospek gitu tapi tetep guna. Badewei, tali temali itu banyak jenisnya banyak ukurannya. Kalau asumsinya Gunung Gede. Bawa tali rapia, prusik kecil, dan webbing sudah cukup.

deuter.com

Tali rapia banyak manfaatnya, bisa buat ngiket gulungan tenda dan flysheetnya agar ketika masuk ransel bisa rapi bentuknya. Bisa jadi pengganti tali flysheet tenda yang tiba-tiba putus pas di gunung tapi lebih bagus kalau pakai prusik. Malahan rapia bisa jadi penanda kalau amit-amitnya kita nyasar di gunung. Tim SAR jadi lebih mudah menemukan kita dari rentetan tali rapia yang kita ikat di pohon-pohon.

Gak perlu mikir ribet-ribet bakar baju segala buat bikin asap SOS, atau habisin makanan terus bungkusnya dicecerin di sepanjang kamu jalan, buang-buangin permen coklat Cha-Cha kaya di Petualangan Sherina, gak perlu.

Kalau suatu hari kamu menjadi seorang pendaki expert dan menjajal Gunung Raung atau Puncak Nemangkawi. Mungkin kamu akan mulai memaknai tali temali ini dalam bentuk kernmantel dan kawan-kawannya.

5. Pisau

Rei.com

Di beberapa Taman Nasional, membawa pisau sifatnya dispensasi. Setiap kelompok pendakian dibolehkan membawa pisau hanya 1 buah. Itulah mengapa saya menaruh pisau di daftar peralatan kelompok.

Gunakan pisau yang berukuran sedang dan pastikan lengkap dengan sarungnya. Sarung pisau akan menghindarkan kita dari kecelakaan yang tidak diharapkan atau rusaknya alat-alat lainnya karena terkena mata pisau yang tidak ditutup.

Belakangan berkembang model pisau lipat seukuran kartu. Lebih tipis dari pisau lipat pada umumnya.

iainsinclair.com

6. Kamera

Gini hari ga bawa kamera hampa ya? Sehampa hati kamu. Errr..

Bucketlistly.com

Dan saya gak akan menganjurkan kamu bawa SLR/DSLR. Sebab pendaki bukan fotografer. Kalau kamu fotografer ya gapapa juga, atau punya uang lebih buat hire fotografer, silahkan banget. Tapi bila kamu termasuk pendaki kebanyakan yang berbekal kemampuan fotografi dasar dan kemampuan editing juga dasar. Tak perlu memaksakan diri menggunakan kamera profesional. Jatuhnya over capacity.

Semacam pakai Trangia waktu persami di lapangan rukem. Kemahalan. Saran saya cukup bawa kamera mirrorless.

Kecil, simpel, bagus hasilnya. Ditenteng ke mana-mana pun enak gak berat. Kenapa saya anjurkan pakai mirrorless. Sebab untuk pendaki, ketika mengolah foto dan mengunggahnya ke sosial media, blog, atau website. Seluruh jagat netizen yang lihat foto itu dari gawai dengan layar rata-rata cuma 5 inci gak akan memerhatikan detail fotomu. Makanya di atas saya bilang “kecuali kamu fotografer,” maka netizennya pasti dari kalangan fotografer juga yang memerhatikan sense of detail dari foto yang diunggah.

 

tumblr_niq1np7Z1s1tkairwo1_1280
hasil jepretan mirrorless, bintang aja keliatan.

 

 

Setau saya, mohon dikoreksi kalau salah, foto bagus itu bukan soal apa kameranya tapi lebih soal komposisi gambar, angle, pesan atau kesan yang ingin ditangkap oleh penikmat foto itu apa. Dan orang gak akan tanya kameramu kalau emang gambarnya tuh punya makna. Terus bokeh-bokehnya gimana? Sony RX 100 bahkan bisa merekam video dengan resolusi 4K.

Apalagi kalau kamu termasuk yang rajin jepret di jalur. Jalan 5 langkah jepret, istirahat jepret, mau minum jepret. Mirorless bisa sangat membantu karena ga perlu repot-repot bongkar tas slempang macam SLR. Kantongi saja di dalam kantong jaketmu yang waterproof. Beres.

Karena saya sudah singgung-singgung soal jaket. Kita lanjut aja ke jaket.

Peralatan Pribadi

7. Jaket

SwitchbackTravel.com

Peralatan berikutnya yang esensial bagi pemula adalah Jaket. Peralatan terkece di antara peralatan yang lainnya. Warna terang yang mencolok biasanya jadi serbuan pendaki, apalagi kalau lagi diskon.

Memilih jaket gunung bukan perkara yang mudah, ada banyak sekali jenis dan fungsinya. Kesampingkan sejenak ihwal perkara fashionable. Tak begitu berguna di gunung kecuali untuk berpose sambil menggigil depan kamera.

Fokuslah pada fungsi utamanya dulu yakni melindungi tubuh dari suhu dingin maupun angin. Jaket yang mampu menahan suhu yang turun drastis dengan jaket yang menahan angin kencang bisa berbeda istilahnya di pasaran sana. Malah ada jaket khusus untuk menahan hujan, jadi fungsinya ganda dengan raincoat.

Arc'teryx Alpha FL jacket (pocket)switchbacktrave
SwitchbackTravel.com

Akan sangat panjang jika saya menjelaskan jenis-jenis jaket gunung di artikel ini. Jadi cobalah untuk memilih salah satu. Misalnya utamakan membeli jaket yang menahan dingin supaya bisa dipakai untuk tidur. Bila angin bertiup kencang kamu bisa akali dengan melapisnya menggunakan jas hujan.

SwitchbackTravel.com

Saya sendiri sering menggunakan jas hujan bila di gunung. Menurut saya jauh lebih hangat ketimbang jaket. Lagipula bila suhu mendadak berubah menjadi dingin sulit bagi saya mengakses jaket yang notabene saya packing bersama pakaian di bagian bawah carrier.

Berhubung jas hujan kan dipacking di kepala carrier jadi lebih mudah mengaksesnya.

SwitchbackTravel.com

Sebaiknya hindari memakai jaket di awal pendakian karena kamu akan berkeringat luar biasa. Percayalah. Jaket boleh dikatakan halal dipakai bila kamu sudah mencapai spot-spot yang membuat gerakanmu menjadi lebih lambat, matamu banyak dimanjakan dengan pemandangan seperti bila sudah sampai Surya Kencana di Gede, Kalimati di Semeru, Taman Hidup di Argopuro, Pestan di Sumbing atau Segara Anak di Rinjani dan jelas di setiap puncak-puncaknya.

Namun umumnya pendaki tidak mengawali pendakiannya dengan jaket di tubuh, kecuali suhu saat itu memang sangat dingin atau pendakian dimulai saat malam hari.

Pilihlah jaket yang ringan dan setipis mungkin untuk kemudahan packing. Namun punya kemampuan menghangatkan yang baik.

8. Boots

SwitchbackTravel.com

SwitchbackTravel.com membagi dua jenis sepatu, hiking boots dan hiking shoes. Apa yang harus kita pakai? Umumnya gunung-gunung di Indonesia berbentuk kerucut atau stratovolcano. Sehingga kemiringan treknya bisa dibilang cukup rumit untuk didaki. Karena itu penggunaan hiking boots lebih tepat daripada hiking shoes, sebab boots memang didesain untuk mendaki trek yang memiliki tingkat kecuraman yang tinggi. Sedangkan hiking shoes cocok digunakan pada trek landai.

Boots adalah hal paling mendasar dalam pendakian. Andai kata kita mengalami cedera kecil di tangan mungkin itu belum seberapa, tapi kalau cidera kecil itu di kaki bisa jadi masalah besar. Keram sedikit saja di kaki kadang bisa buat jatuh mental seorang pendaki pemula. Jika mental yang drop itu terus berlanjut bukan tidak mungkin cederanya bertambah parah.

Karena itulah penggunaan sepatu sangat mendasar dan penting bagi setiap pendaki, pemula maupun berpengalaman. Biasanya sepatu yang baru membutuhkan penyesuaian dengan bentuk kaki kita. Maka belilah sepatu jauh-jauh hari sebelum pendakian dan gunakan sepatu itu dalam rutinitas sehari-hari seperti ke kampus, kantor, atau sekadar berjalan-jalan di taman. Dengan begitu bagian dalam sepatu akan menyesuaikan dengan bentuk kakimu sampai hari pendakian kamu pun sudah siap.

Perlu kamu pertimbangkan juga untuk memakai sepatu yang mampu menahan air masuk ke dalam kaki. Karena sebagian besar gunung Indonesia adalah hutan basah. Bahkan di Salak, saya pernah harus menyusuri jalur sungai kecil selama 2 menit, cukup untuk membasahi kaus kaki dan membuat kulit kaki menjadi keriput.

SwitchbackTravel.com

9. Raincoat atau Ponco

kabudsport.com

Fungsi raincoat dan ponco sama-sama melindungi tubuh dari hujan yang kerap terjadi di daerah tropis. Perbedaannya hanya cara penggunaannya saja. Memilih ponco, kamu akan dimudahkan dalam pemakaian dan dapat melindungi carrier sekaligus. Namun riskan pada bagian bawah celana yang tidak mampu ditutupi oleh ponco. Sedangkan jika memilih raincoat, akan membuatmu lebih hangat dan jauh lebih tahan air namun tidak mampu melindungi carrier dan pemakaiannya kurang praktis.

Ada pula yang menggabungkan ponco dengan celana raincoat sekaligus untuk meningkatkan ketahanan akan hujan namun tetap tidak meninggalkan kepraktisannya.

10. Sarung

Satu-satunya alat yang akan membedakan pendaki Indonesia dengan pendaki bule. Sarung sangatlah penting di gunung terutama untuk kamu yang tidak menginginkan ibadah salatnya tertinggal hanya karena mendahulukan urusan dunia.

Di gunung hampir pasti celana akan kotor. Terutama bagian bokong. Kedua di pergelangan kaki sampai betis. Walau sampai hari ini saya masih penasaran dengan adanya pendaki yang bisa naik ke puncak dan turun dengan celana yang tetap tampak bersih. Tapi buat kamu yang tidak dianugerahi kemampuan spesial semacam ini, bawalah sarung sebagai salinan yang lumayan ampuh menghemat waktu daripada harus salin menggunakan celana bersih yang lain. Salin dengan celana yang baru, selain sulit mengaksesnya karena menyatu dengan buntelan pakaian yang berada di bawah keril. Mau gantinya lagi kadang sudah kepalang males.

Tips packingnya satukan sarung dengan raincoat di bagian kepala. Karena salat itu lima waktu, kamu pasti akan bolak-balik mengeluarkannya.

11. Matras

58813027_d535d6be-3c0e-406d-9b9a-386d4147ee08

Ada sarung ada sajadah (ini bukan pantun). Sajadah di gunung bisa kamu ganti dengan menggunakan matras.

Cara packing matras ada dua macam. Yang pertama yang di bagian samping carrier, ini akan saat menguntungkan kamu sehingga jadi makin semangat untuk salat karena tidak sulit untuk memakainya bila waktu salat tiba.

Yang kedua yang di dalam carrier. Matras yang dipacking di dalam carrier sebetulnya punya fungsi yaitu membentuk badan carrier agar lebih lonjong dan tidak miring-miring. Sehingga dapat meningkatkan kenyamanan saat kita menggendong carrier. Namanya kalau udah nyaman pasti gak akan cepat lelah. (Kalimat ini mengandung baper tingkat tinggi)

Gka enaknya matras di dalam? Susah ngeluarinnya pas kita butuh buat salat. Bisa berantakan semua itu seisi carrier. Terus jadi gak salat dong? Tenang, saya belum kehabisan ide: bawa dua matras. Satu untuk di dalam, ngebentuk carrier biar rapi dan yang satu lagi taruh di samping carrier, buat sajadah dan alas saat perlu istirahat di tengah jalur. Awas jangan keasyikan selonjoran yang ada kamu malah gak nyampe-nyampe ke puncak

Ribet bawa dua matras? Yaudah bawa aja trashbag, bisa juga kok jadi alas salat.

12. Trashbag

Banyak pendaki pemula yang masih sering menganggap enteng fungsi trashbag. Fungsi trashbag antara lain:

  • Sebagai pelapis bagian dalam carrier sebelum matras dan segala perlengkapannya masuk. Hal ini membuat carriermu mendadak memiliki fitur waterproof kala hujan. Sangat bermanfaat buat yang waktu hujan memilih pakai raincoat.
  • Menampung sampah-sampah yang dihasilkan selama pendakian dalam jumlah besar, sehingga lebih mudah mengorganisir sampah kalian bila dimasukkan dalam satu wadah.
  • Sebagai alas pengganti matras dan sajadah. Namun sebelumnya pilihlah permukaan tanah yang lembut dan tidak berbatu.
  • Bisa pula jadi media ngiklan di IG. Tetep.
IMG-20170817-WA0073
FjallRaven Trashbag – Gedepangrango.org

13. Sleeping Bag

SwitchbackTravel.com

Pasti pada males bawa ini, ngaku deh.

Iya, ukurannya itu loh sama kaya gulungan tenda. Mager banget bawanya. Meski begitu sleeping bag masih tergolong ringan. Yang biasa tidurnya di gunung gak pake sleeping bag sekalinya pake sleeping bag pasti nagih pingin lagi. Berasa ada yang kurang gitu kalau gak bawa barang yang satu ini. (aslinya curhat ini mah)

Saya punya 4 sleeping bag. Syombooong. Bukan apa-apa cuma hasil eksperimen karena belum bisa dapet yang anget, tipis, tapi murah. Maruk yak.

Biasanya kalau mau murah dan anget pasti bahannya ketebelan. Mau tipis dan anget pasti harganya kemahalan. Mau murah dan tipis pasti kedinginan ini mah. Mau kamu aja deh tipis, anget, murah tapi gak murahan. Koyo! Koyo!

Ckckck maneh teh..

SwitchbackTravel.com

14. Headlamp

REI.com

Saya pernah ngeremehin alat yang satu ini. Pikir saya naik siang kok, malamnya kita ngecamp bawa senter tangan aja cukup saya pikir. Namanya di gunung gak ada yang tau. Kemalaman di jalur, sampai tujuan kami bangun tenda dalam kegelapan dan baru sadar kalau bangun tenda sambil megang senter itu ribet. Kudu ada yang megangin, kalau fokus sih gapapa, biasanya tuh lampu senter ke mana-mana gak jelas karena yang pegang senter gemeteran.

Tambah lagi pas masak malam-malam. Tangan kiri pegang senter, tangan kanan pegang sendok. Mau buka bungkusan, senternya digigit.

Mau buang hajat, nah luh gimana. Minta senterin kawanmu.

thoughtco.com
REI.com

Jadi mulai sekarang tinggalkanlah senter tangan, kalau ada banyak di rumah, kuatkan iman, jangan tergoda. Apalagi kalau kamu rada vintage, ga bisa liat senter legendaris ala ala hansip nganggur dikit. Udah jangan dibawa. Kasian pak hansip nanti nyariin.

Beralih ke headlamp dan wajib dibawa walaupun kamu gak suka mendaki pada malam hari sekalipun. Karena kita nggak tau apa yang akan terjadi di gunung. Apakah kamu akan ngecamp sebelum sore gak ada yang jamin. Apakah purnama akan menerangi malammu di gunung gak ada yang jamin juga, kecuali kamu naiknya bareng Bagus Netral suruh aja dia nyanyi kenceng2 “caaa… hayaa bulan menemani aku!!”

Kesimpulannya bawa headlamp itu perlu.

15. Kupluk/Sarung Tangan/Kaoskaki

Semacam kolaborasi trio ujung. Ujung kepala, ujung tangan, dan ujung kaki. Masih ada ujung yang lain? Ada sih, yang maho-maho macam kelien pahamlah.

Yang jelas, trio aksesori ini punya fungsi vital dalam menjaga tubuh tetap hangat. Ujung-ujung bagian tubuh yang hangat biasanya menentukan pergerakan kalian selanjutnya. Apakah makin gercep? Atau makin mager.

Semua balik lagi ke kualitas bahannya. Ya jangan berharap lebih kalau beli sarung tangan cebanan di warung-warung kaki gunung ya. Memang untuk rata-rata produk garmen harga menentukan kualitas itu benar adanya.

Cari pula kaos kaki yang tebal, selain hangat, bisa pula menjadi bantalan ketika telapak kaki harus menapak di trek berbatu.

Untuk kupluk carilah yang rapat dan menutup telinga. Kupluk rasta yang longgar itu juga gapapa sih, siapa tau ada yang ngajakin bikin band reggae. Mayan.

16. Repair Kit dan First Aid Kit

Memang paling males bawa barang yang modelnya perintil-perintil kayak begini. Padahal repair kit dan first aid kit sangat berguna dalam pendakian manapun. Peralatan macam apa sih ini? Intinya kalau pakai bahasa Indonesia mah Repair Kit itu seperangkat alat buat ngebenerin yang rusak dan First Aid Kit itu PPGD (Pertolongan Pertama Gawat Darurat) wae lah. Sok yang jago nginggris dibantu saya nya.

Saya terbiasa pakai kotak plastik kecil, buat menyimpan alat-alat ini, baik repair kit dan first aid kit punya kotaknya masing-masing. Hal ini supaya membuat kita lebih terorganisir. Ketika dibutuhkan kita bisa dengan mudah mengeluarkannya.

Kebutuhan repair kit tergantung dari ragam peralatan yang kamu gunakan dalam suatu pendakian. Jika kamu kamu mendaki dengan membawa seperangkat alat climbing, ya usahakan repair kitnya yang nyambung dengan alat-alat tersebut.

Beda lagi dengan first aid kit. Kamu perlu mengenali kondisi fitness tubuh kamu sendiri, punya alergi atau tidak, mudah pusing, mudah mual di kendaraan atau apapun lah gejala-gejala yang kiranya dapat kambuh dan membutuhkan penanganan segera. Semua itu butuh kepedulian dari dirimu sendiri. Kalau sama diri sendiri aja gak care, gimana coba? Karena gak semua rekan pendaki bisa paham betul apa yang kita rasain kalau lagi sakit di gunung. Soalnya kadang gak bedarah tapi sakitnya tuh di sini.

Dengan membawa 2 jenis alat ini, kamu sudah membantu meminimalisir resiko kecelakaan hati dalam pendakian.

17. Botol Minum

Nalgene
Nalgene.se

Nah ini! Kalau sampe gak bawa mending pulang lagi sih.

Naik gunung gak bawa botol minum apa yang diharep? Indomaret? Kangen Water? Pipa PDAM? Kagak ada di sono.

Pakai water bledder juga bisa, cuma cenderung privat menurut saya. Susah dibagi-baginya. Maksudnya tuh begini, biasanya kan ada tuh anak-anak abege yang kekurangan air, terus minta air ke kita. Kalau kita pakai water bledder pasti males bukanya, ribet. Ngurangin pahala jadinya. Xixixi

Terus misalkan kita minum dari selang water bledder biasanya kan diisep. Kalo minum sendiri gak nawarin ke temen kita rasanya pegimana gitu. Tapi kalau kita nawarin, takutnya temen kita malah males sendiri. Berasa pegimana gitu jadinya seisep bedua. Maho lah euy. Kalo nawarin adinda sih seneng pasti, masalahnya emang adindanya seneng?

Gak ada salahnya pakai water bledder, kan 2017 lay, tapi saya sarankan bawa botol minum juga.  Sebab water bledder itu rawan bocor juga. Tau-tau udah rembes aja.

Water Bottles (backpack holster)
SwitchbackTravel.com

Kamu bisa coba veples yang sering dipakai tentara. Mau yang mahalan dikit bisa coba Botol Nalgene yang 32oz (1000ml). Mestinya satu veples atau Nalgene itu cukup untuk trekking selama 5 jam. Kalau di atas ketemu mata air bisa isi lagi. Kalau gak ada air sama sekali ya stok dari bawah. Nah untuk stok air, saya biasa pakai jerigen kecil, jumlahnya ya sesuai kebutuhan setelah itu dilebihkan satu jerigen buat cadangan.

GOPR2295
Brandonmauth.com

Hanya saja pastikan lagi tutupnya karena jerigen rawan bocor di bagian tutup. Beberapa pendaki sering juga saya dapati memakai botol Aqua. Sah-sah aja sih, cuma menurut saya kurang ramah lingkungan. Dipakai cuma sekali begitu turun dibuang. Hina. Kalau pakai jerigen kan masih bisa dipakai berkali-kali.

water bleadder
Survival-Mastery.com

Rumusnya begini kalau digabung, water bledder buat diisep-isep sendiri, tumblr atau veples untuk teman atau pendaki lain yang kehausan kita bisa tawarin pake ini, dan jerigen untuk keperluan masak dan hajat.

18. Carrier

Ini dia kantong ajaib doraemon yang akan menampung semua peralatan yang sudah kita sebutkan di atas.

Penggunaan carrier adalah keharusan, bukan supaya kamu terlihat layaknya pendaki gunung, melainkan supaya kamu bisa mendapatkan kenyaman dan keamanan lebih saat mendaki.

686xauto-9494-AircontactPRO60u15-5280-17
Deuter.com

686xauto-8828-AircontactPRO55u15SL-5005-17-back

Carrier punya banyak ukuran, dari 60 liter sampai yang terbesar yakni 120 liter. Harap dicatat bahwa perkara memilih ukuran bukan soal gede-gedean. Pendaki gunung tidak boleh terjebak dengan hal seperti ini. Dewasalah.

Pemilihan ukuran carrier harus memerhatikan postur tubuh kalian. Kalau badan kalian cenderung pendek, jangan memilih carrier 100 liter. Sekalipun nantinya kamu cuma isi dengan botol minum kosong sehingga enteng dibawa. Tetap saja akan tidak nyaman karena lebar carrier yang tidak match dengan ukuran punggungmu.

Jadi carilah carrier yang cocok dengan bentuk punggung. Jangan ragu-ragu menjajalnya di toko outdoor daripada menyesal belakangan.

Jangan pula terpaku dengan merek, desain, dan warna carrier. Tiga hal itu bisa kamu kesampingkan dulu, anggap saja bonus kalo dapet warna yang disuka. Tapi tetap utamakan kenyamanan.

Suatu waktu saya pernah bertanya kepada beberapa pendaki berpengalaman, mengapa rata-rata dari mereka cenderung memilih carrier woman series dari Deuter. Carrier yang didesain untuk perempuan.  Hal ini bukannya tanpa alasan, mereka menjawab karena ukuran women series sangat cocok dengan ukuran tubuh orang Indonesia kebanyakan. Kalau dipikir-pikir masuk akal juga. Deuter adalah produk Jerman, produknya didesain untuk ukuran tubuh orang Eropa yang besar-besar. Kaum wanitanya bahkan bisa menyamai ukuran tubuh laki-laki dewasa Asia.

Nah untuk perempuan Indonesia yang cenderung mungil-mungil, sebaiknya menggunakan daypack sudah cukup. Kalau kalian termasuk perempuan tinggi sekitar 165 ke atas kalian beruntung karena masih bisa memakai carrier maksimal 60 liter menurut saya. Kalau ditambah lagi bisa aja namanya endurance orang berbeda-beda tapi kok ya rasanya jomplang diliatnya.

Oh satu lagi, kalau kalian pernah liat foto-foto pendaki lawas, kalian pasti sering liat pendaki-pendaki dulu suka menggunakan carrier yang tingginya hampir menyamai tinggi badannya. Kok bisa begitu? Jangan keburu nafsu dulu. Pendaki 80-an, 90-an itu bisa jadi menggunakan carrier yang segede gaban itu karena zaman pada saat itu memang “menginginkannya.” Era 90-an adalah masa di mana tuntutan reformasi sedang gila-gilanya, mendaki saat itu adalah simbol perlawanan pemuda. Mendaki bisa menjadi sebuah ekspresi kebebasan pemuda yang hidup dalam pemerintahan militeristik yang serba mengekang. Lontaran semangat yang meletup-letup, egosentrisitas tingkat tinggi bisa jadi telah melatarbelakangi penggunaan carrier-carrier besar. Seperti ingin menunjukkan gelora pemuda kala itu yang selalu ingin menuntut akan adanya perubahan. (aslinya mah ini paragraf ngarang, biar ga ada yang bawa carrier lebih gede dari saya, ho ho.)

redantsmantas.or.id

Bagaimana dengan hari ini? Saya sendiri berpendapat mestinya kita bisa bersikap realistis, di tengah kehidupan yang makin hari semakin cepat saja rasanya. Bisa mendaki sabtu minggu saja sudah luar biasa. Jangan lupa setelah itu kamu masih harus bekerja, kuliah, sekolah. Pikirkan badanmu juga. Dengan membawa carrier yang beratnya sesuai kemampuan akan menjaga rutinitasmu tetap berjalan dengan baik.

Tips yang terakhir untuk carrier, kalau saya bilang carrier itu artinya sepasang dengan coverbagnya. Segala sesuatu itu memang Allah ciptakan berpasang-pasangan. Carrier aja punya pasangannya, masa kamu …

Nah, fungsi coverbag untuk melindungi carrier dan isinya dari basah karena hujan dan udara lembap pegunungan. Membuatnya jadi tambah rapi. Bila warnanya cerah bisa menjadi penanda bagi rekan dan pendaki yang lain. Bila kamu termasuk yang sembarangan duduk kalau udah capek trekking. Setidaknya coverbag bisa membuat pantat carriermu tidak kotor. Carriermu jadi lebih awet.

***


Kira-kira itu tadi peralatan-peralatan pendakian gunung yang esensial. Mungkin kamu akan bertanya-tanya kok ga ada baju, kaos, celana? Ya namanya juga esensial, yang penting-penting aja dan frekuensinya banyak dipakai di gunung-gunung manapun di Indonesia. Kalo baju bukan lagi penting bahasanya tapi keniscayaan, fa-biayyi alaa’i Rabbi kuma tukadzdzi ban. Mau emang naik gunung gak pake baju. Kaya bang ale nih:

477789_385268168209384_2076482714_o

Saya harap tulisan ini bisa jadi penyemangat untuk kalian yang mau mulai mendaki. Berjalan di atas bumi Allah itu dianjurkan. Pahala ibadah waktu safar itu banyak. Mumpung masih muda, yekan. Nanti kalau udah agak tuaan jangan naik gunung lagi tapi naik haji. Naik pelaminannya kapan, bang? Kalo kata mbah momotaro mah ini suara siapa ya, tolong dibungkam sebentar.

Buat para suhu di gunung manapun kalian bertapa, bila dikau membaca ini mohon koreksinya kalau ada yang salah dan kurang. Dan kalau kalian bisa baca ini dari puncak gunung mohon kiranya saya dikasih tau atuh kalian pakainya provider apa.

Kebenaran itu datangnya dari Allah SWT dan kesalahan itu datangnya dari syaitan. Mohon saya dimaafkeun.

 

(Artikel ini pernah dimuat di mowa-adventure.id)

Advertisements

7 thoughts on “Peralatan Pendakian yang Esensial Untuk Pendaki Pemula

  1. Ketawa baca ‘Kesampingkan sejenak ihwal perkara fashionable. Tak begitu berguna di gunung kecuali untuk berpose sambil menggigil depan kamera.’ Lengkap banget inih infonya, etapi kurang satu ilmu nih. Saya kasitau yaa, ‘Surya Mudra’ (*ini maksudnya supaya mampir juga ke blog sayah hehe), cocok buat pandaki gunung -apalagi kalo jaketnya lebih condong ke fesyen 😀 Salam kenal ya!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s