Tentang Ardy

406192_256503881085814_496286989_nAssalamu’alaikum wa rohmatullah,

 
S ejujurnya saya punya phobia ketika harus memperkenalkan diri di depan orang banyak. Saya memang pemalu, tapi bukan itu sebab utamanya. Lagipula kata orang saya lebih banyak malu-maluinnya. Jadi sekali waktu saya berpikir, bahwa masalahnya adalah saya tidak pernah merasa harus memperkenalkan diri. Sebab memang tak ada yang berbeda dan istimewa dari diri saya yang bisa membuat orang berlama-lama menatap mata coklat saya yang sering terlihat mengantuk ditambah nada suara yang datar.

Saya tak pernah bisa membuat seorang Eccedentesiast berhenti menampakkan senyum palsunya, atau membuat mata seorang Bibliophile barang semenit saja berpaling dari bukunya, sebab saya bukan seorang anak kolong yang kemudian tumbuh menjadi pria berprestasi dan lebih beradab dari masa kecilnya yang kuyu. Sekali-kali tidak. Saya juga tidak tinggal di rumah kayu dimana halaman belakangnya terdapat sungai mengalir jernih lengkap dengan rimbun pepohonan. Dimana kami sering berenang sambil mengintipi gadis-gadis desa tengah mandi. Alih-alih saya tinggal di lingkungan suburban yang bingung mencari jatidiri. Penuh asap pabrik, cenderung lebih panas dari pesisir, dan kurang dingin dari pegunungan. Sangat biasa bukan.

Masa kecil saya juga tidak dibumbui dengan petualangan kecil di tengah hutan atau berkeliling ke pasar sendiri setidaknya hingga saya menginjak umur 16 tahun. Betapa kupernya kata orang. Mau bagaimana lagi? Tak ada hutan di Bekasi selain tanah luas yang ditanami pohon rambutan warga. Tak ada pasar yang bisa dijangkau dengan sepeda seorang anak berumur 6 tahun. Bila nekat, ancaman orang tua yang akan kami dapat; “nanti kamu ketabrak mobil, nak!” Begitulah.

Sekolah kami dua lantai, atapnya bukan jerami melainkan genteng keramik. Kami menulis dengan bolpoin, menyerut pensil dengan rautan giling, menghapus tinta dengan tipe-x dan pensil dengan stip bukan karet—walau pernah—tapi rasanya bukan kebiasaan yang bisa menggelitik rasa penasaran orang. Bahkan, kami sudah mengenal komputer sejak kelas 3 SD sehingga menutup kesempatan ribuan pengarang untuk menuliskan berlembar-lembar usaha keras seorang anak yang telat belajar komputer. Tak akan pernah ada cerita seperti itu untuk anak di Bekasi.

Keluarga kami adalah pendatang, tak ada adat yang dibawa, hanya nilai dan norma ketimuran serta ajaran Islam yang menjadi patokan. Tak ada upacara-upacara dengan tembang mendayu-dayu untuk jadi bahan pamer sehabis liburan sekolah. Keluarga saya, seperti kebanyakan di sini, hanya punya gengsi yang tinggi. Perasaan untuk dihargai dan menjadi penting di mata orang banyak. Satu-satunya hal yang tak bisa saya terima dalam keluarga.

Oleh karena itu saya sering mencoba menempuh jalan sunyi yang berbeda dari keinginan keluarga. Jalan yang jauh dari puja-puji mulut tetangga. Mendaki gunung dan membaca buku, dua hal yang membuat saya dapat merasakan sunyi. Sunyi membuat saya rindu pada keluarga dan ocehan para tetangga. Pada akhirnya saya kembali pada mereka. Begitulah. Semacam siklus yang tak semua orang bisa mengerti bila saya ungkapkan dalam sebaris paragraf perkenalan diri.

Omong-omong buku pertama yang dibelikan orang tua saya ketika duduk di kelas 5 itu berjudul “Buku Pintar” yang berisi mengenai kumpulan data, fakta, dan wawasan umum. Sampai hari ini masih dicetak ulang, saya sangat menyarankan bung dan nona supaya membelikan kelak buah hatinya buku ini. Menurut saya lumayan manjur untuk menjadi “Einstein” dalam waktu singkat. Buat saya buku itu masih sering jadi bacaan hiburan kala jengah membaca buku-buku teori arsitektur atau kumpulan standard dimensi ruang yang dicatat oleh Ernst Neufert—saya bisa pastikan ia orang yang luar biasa membosankan. Andai Neufert bisa membuatnya seperti Buku Pintar saya pasti sudah lulus sarjana tepat waktu.

Sekian perkenalan dari saya, terima kasih sudah berkunjung ke laman ini. Senang sekali bila kita bisa berteman, bercerita dan berbagi pengalaman. Oh hampir lupa, nama saya Ardyan Satya. Doa saya untuk kebahagiaan dan kesuksesan bung dan nona dunia akhirat.

Assalamu’alaikum,

 

Ardyan Satya

16 thoughts on “Tentang Ardy

      1. ilmu tentang perencanaan dan perancangan sebuah lingkungan binaan mulai dari lingkup mikro (bangunan) sampai ke makro (kawasan). Kalau gak salah begitu mas. Maklum sering bolos heuhe 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s