Tentang Ibu Bumi dan Perjuangan Petani Kendeng

Dalam bahasa Arab, kata “bumi” (أَرْضٌ), digolongkan ke dalam kata berjenis kelamin perempuan (مُؤَنَّثْ). Tidak jauh beda dengan orang Indonesia yang sejak dulu mengenal istilah semacam Ibu Pertiwi, sebagai personifikasi tanah air Indonesia.

Pertiwi (Sanskerta: pṛthvī) diserap dari Hindu, adalah Dewi atau Ibu Bumi. Masuk ke Indonesia sejak periode Hindu-Buddha menjadi Dewi Pertiwi atau Dewi Bumi. Iya, manusia dahulu hingga sekarang mengibaratkan bumi seperti ibu yang memberi tanpa pamrih. Ibu yang menghidupi, yang menyusui, yang menyayangi. Continue reading “Tentang Ibu Bumi dan Perjuangan Petani Kendeng”

Tigapagi, Anti Sosial dan Makna-Makna yang Mendangkal

Menjelang pukul 03.00 saat mulai menulis ini. Kuputar sebuah lagu dari album Roekmana’s Repertoire-nya Tigapagi. Jauh lebih syahdu mendengar Banda Neira sebetulnya daripada lagu yang sedang akan kuputar ini. Walaupun selalu kesulitan memahami musik Tigapagi, namun “cerita” di baliknya berhasil membuat saya terpesona pada tembang pertama.

Tigapagi adalah akhir dari malam sekaligus awal dari pagi—hari yang baru—kondisi tergelap untuk menuju sebuah awal yang cerah.. Di antara awal dan akhir waktu itu, Tigapagi menempatkan diri mereka. Bagi Tigapagi hidup adalah sebuah garis: “life is not a circle, but life is just a simple line, and the line is an empty space between the start and the end.” Maka jangan coba-coba mendengarkan album Roekmana’s Repertoire di saat sedang sibuk dengan segala rutinitas kehidupan. Continue reading “Tigapagi, Anti Sosial dan Makna-Makna yang Mendangkal”

Idealisme-Idealisme Yang Terbeli

Jika pohon terakhir telah ditebang;
Jika air sungai terakhir telah tercemar;
Jika ikan terakhir telah ditangkap;
Maka manusia akan sadar, bahwa manusia tidak dapat memakan uang.
— Pepatah Indian Kuno

Belakangan ini kita terus dibombardir oleh banyak berita kerusakan, satu di antaranya adalah asap dari pembakaran hutan yang disinyalir milik korporasi-korporasi kapital. Asap pembakaran yang tidak hanya merusak hutan tapi juga merusak (menghilangkan) jiwa manusia. Continue reading “Idealisme-Idealisme Yang Terbeli”

Cerita Seorang Mantan Buruh – Bagian 1

Sebuah diary jadoel yang didigitalisasi.

BAGIAN 1

Masa-Masa Akhir di Sekolah

 

Juni 2010

Sudah beberapa bulan lamanya sejak aku melepaskan jabatan ketua pengurus sispala. Rasanya lega. Namun ada campuran gelisah, karena menyadari kami hanya mampu menyambung nafas organisasi ke penerus berikutnya. Dua prestasi dari ajang lomba panjat. Ah! itu sama sekali tak dihiraukan pihak sekolah. Kompak dengan orang tuaku yang tak mempedulikannya. Padahal piala kecil itu yang kuraih dengan susah payah dalam ke-istiqamah-an. Rasanya ingin kuambil kembali piala itu dari sekolah. Continue reading “Cerita Seorang Mantan Buruh – Bagian 1”

Kuda Untuk Kerajaan

Kisah raja Richard, Jangan putus asa
Ilustrasi: anneahira.com

Pernah dengar kisah drama yang ditulis oleh Shakespeare? Dalam ceritanya di mana Raja Richard suatu ketika putus asa karena tak kunjung mendapatkan kuda yang tepat untuk berperang. Begitu putus asanya sang Raja sampai terucap sebuah kalimat yang amat terkenal: “horse, horse, my kingdom for a horse!” (Kuda, kuda, kerajaanku ditukar dengan kuda) Continue reading “Kuda Untuk Kerajaan”

Orientasi Hasil dan Hasilnya

“The good life is a process, not a state of being. It is a direction not a destination.” — Carl Rogers

Pagi itu saya iseng buka facebook, barangkali Maudy Ayunda nge-add saya sebagai teman di jejaring sosial itu. Tapi yang saya dapati justru notifikasi dari Ivan–teman yang pernah saya ajak keliling gak jelas di Bekasi–yang menanyakan pendapat saya mengenai status Wuni. Di dalam statusnya Wuni mengungkapkan keheranannya sekaligus keprihatianannya terhadap wajah pendidikan Indonesia. Pasalnya di sekolah internasional yang ia nilai memiliki kurikulum yang bagus itu, ternyata masih mempertimbangkan pelamar yang tidak memiliki background pendidikan sama sekali untuk jadi tenaga pendidik di sekolah yang bersangkutan. Padahal ketika dirinya berdiskusi dengan dua pelamar itu, nampak sekali keduanya tidak memahami permasalahan pendidikan di negeri ini. Continue reading “Orientasi Hasil dan Hasilnya”

Nonton Apa di Museum Wayang?

Perhatian  kami tak  bisa lepas dari barang-barang yang tak lazim dipakai dalam pertunjukkan wayang pada umumnya. Seperti wayang yang terbuat dari sandal jepit; piring kaleng yang dipakai sebagai salah satu instrumen musik pengiring; ditambah lagi ‘aktor-aktor siluman’ yang berbaur di antara kerumunan penonton. Membuat pertunjukkan Wayang Beber terasa hidup dan tidak kaku.

Continue reading “Nonton Apa di Museum Wayang?”

TWA Angke Kapuk: Surga Mangrove di Sudut Ibukota

Jika mau sedikit saja usaha melihat sudut-sudut ibukota, kita pasti akan mendapati sebuah kawasan hijau berisi hutan mangrove yang berfungsi meminimalisir dampak abrasi dan pembangunan yang semakin tak ramah pada lingkungan. Apabila Suaka Margasatwa Muara Angke dikhususkan untuk konservasi, maka di Taman Wisata Alam Angke Kapuk lebih diperuntukkan sebagai kawasan wisata (ecotourism). Mudah-mudahan dengan banyaknya ekowisata, seluruh lapis masyarakat bisa mendapat pendidikan lingkungan dengan cara yang lebih menyenangkan.

Continue reading “TWA Angke Kapuk: Surga Mangrove di Sudut Ibukota”

Akhirnya Muncak – Monumen Nasional, Cak!

Harusnya hari itu saya dan dua teman lainnya – Wais dan Yudha – berangkat ke Taman Wisata Angke di utara Jakarta. Tapi berhubung keduanya tidak membalas sms saya dari pagi. Jadilah saya pesimis akan rencana yang sudah dibuat sebelumnya. Susahnya jalan sama anak Plegmatis ya begitu, kamu sudah serius mereka bercanda. Kamu minta konfirmasi keberangkatan mereka jawab:

“Emang siapa yang mau berangkat?” Haeee… *tarikgolok

Untung manusia kalau ayam udah gua masak jadi opor. Enggak ding, cuma Emak saya yang bisa masak opor. Tapi mereka tetap bisa kok jadi teman perjalanan yang asik. Selain penurut dan tidak banyak mengeluh ini itu, biasanya di situasi kritis mereka bisa mendadak tampil ke depan.  Hari itu saya langsung deal dengan rombongan fungky – Pungkas cs – yang kebetulan akan berangkat ke TWA juga lusanya. Iya, kalau kata SBY selalu ada pilihan. Begitupun hari ini walau gagal rencana selalu ada pilihan lain. Apakah itu? Saya sebut itu menuntaskan hasrat! Continue reading “Akhirnya Muncak – Monumen Nasional, Cak!”

Chairil dan Orang-Orang yang Patah Hati

Patah hate mah biasa. Nyeri hate mun teu boga duit. Teu biasa!!

ekopangkapi

Lama tidak menulis, saya kangen untuk kembali mengisi blog sekaligus note Facebook. Saya ingin menulis tentang patah hati. Inspirasi ini hadir setelah membaca salah satu puisi terbaik dari Chairil Anwar yang akan dibahas dalam tulisan ini. Selain itu juga inspirasi hadir setelah mendengar cerita beberapa kawan yang gagal saat membangun hubungan cintanya.

Beberapa bulan kemarin, Harian Kompas menurunkan artikel tentang Cinta, Seks dan Otak. Disana dijelaskan tentang cinta, seks dan hubungannya dengan syaraf-syaraf di otak. Diterangkan bahwa otak memiliki fungsi sentral sebagai pusat kendali perasaan cinta dan juga nafsu seks. Ternyata perasaan cinta memiliki stimulan di otak yang dekat dengan pusat kegilaan ringan pada manusia. Artinya, memang terdapat perbedaan tipis antara perasaan bahagia pada orang yang jatuh cinta dengan perasaan bahagia pada orang yang kehilangan kesadaran ringan. Mirip perasaan fly pada orang yang berada dibawah pengaruh zat adiktif.

Jadi jangan heran ketika bertemu dengan orang yang sedang jatuh cinta, ia…

View original post 589 more words

Kommer

Duapuluh tahun, Nyai. Kita berdua sama-sama mendalami–duapuluh tahun bukanlah waktu yang terlalu lama. Dalam duapuluh tahun orang bisa tak lebih cerdik. Ada banyak yang semakin tidak tahu belajar dari pengalaman. Memang keras kata-kataku ini, kata-kata yang kutujukan pada Tuan Minke, juga pada diriku sendiri. Itu lebih baik daripada hanya puji-pujian seperti yang dihamburkan Marteen Nijman. Puji-pujian sudah terlalu banyak diterimanya. Tapi benih-benih yang menghidupi, Nyai, dari siapa dia akan peroleh kalau bukan dari sahabat-sahabatnya yang jujur?

(Kommer dalam Anak Semua Bangsa, 267-268)

The Founding Fathers

Semasa kecil, ketika orang-orang disekitar menyanjung tinggi Ir. Soekarno. Entah mengapa aku tak demikian. Mereka bilang Soekarno itu karismatik, berani, pejuang, pembela rakyat, penyambung lidah rakyat. Tapi entah mengapa hatiku saat itu sama sekali tak tergugah mendengarnya. Aku hanya merasa ada yang kurang dari sosok Soekarno entah apa itu. Ketika proklamasi diperdengarkan pada perayaan hari kemerdekaan, ibu selalu berucap, “wibawa kali yah suaranya.” Tapi menurutku justru biasa saja, datar-datar saja. Ketika orang mengomentari ketampanan paras bapak bangsa ini, maaf, saya justru melihatnya mirip artis-artis Korea yang sedang jadi buah bibir akhir-akhir ini. Continue reading “The Founding Fathers”

Mengulang Tahun Sebuah Organisasi

Ada yang terasa berbeda di perayaan ulang tahun Red Ant yang ke-31 hari ini, Sabtu, 19 September 2015. Sulit menggambarkannya, karena semua yang terjadi, kurasakan saling berhubungan dan berkelanjutan.

Angin pun membawa saya kembali ke organisasi ini setelah lima tahun sejak lulus dari sekolah sibuk dengan urusan tak tentu. Kembali, bukan juga berarti bahwa kondisi sudah stabil dengan urusan-urusan yang tak tentu itu, justru makin berantakan, mugkin. Itulah sebab di awal tadi kukatakan angin yang membawaku kembali. Ada dorongan, lebih tepatnya, ada sebuah keyakinan dengan organisasi ini yang mebuat saya tak acuh pada segala urusan-urusan itu selain I must come back. Tentunya bukan hanya aku saja yang punya keinginan untuk menjadikan seperti apa seharusnya organisasi ini. Ada ratusan kepala anggota yang juga memiliki keinginan yang sama terhadap organisasi berdasarkan persepsinya masing-masing. Menyatukan visi diantara anggota tersebut adalah satu solusi sebagi tindakan preventif. Continue reading “Mengulang Tahun Sebuah Organisasi”